ST017 Jadi SBN Ritel Terakhir 2026, Berapa Imbal Hasil yang Bisa Ditawarkan?



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah akan menawarkan Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 pada 6 November hingga 2 Desember 2026.

Sebagai seri terakhir Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang diterbitkan tahun ini, daya tarik ST017 akan bergantung pada tingkat imbal hasil yang ditawarkan pemerintah di tengah persaingan dengan instrumen investasi lain.

Sebelumnya, masa penawaran Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR015 telah berakhir pada 22 Oktober 2026.


Baca Juga: Asing Net Sell Rp 1,49 Triliun Saat IHSG Menguat 1,11%, Cek Saham yang Banyak Dilepas

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Suminto mengatakan, pemesanan SBR015 mencapai sekitar Rp 17 triliun.

Namun, angka tersebut masih bersifat sementara karena proses penyelesaian pembayaran berlangsung hingga pukul 13.00 WIB pada hari penutupan.

“Capaian ini menunjukkan partisipasi investor ritel dalam mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sekaligus memperkuat basis investor domestik,” ujar Suminto kepada Kontan.co.id, Kamis (22/10/2026).

Hasil final penjualan SBR015 dijadwalkan diumumkan pada 26 Oktober 2026, dengan setelmen pada 28 Oktober 2026.

Dengan memperhitungkan estimasi penjualan SBR015, penghimpunan dana dari enam seri SBN ritel sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp 141,32 triliun, sejalan dengan target pemerintah.

Baca Juga: IHSG Menguat Tiga Hari Beruntun ke 5.387, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing

Sebelumnya, pemerintah menghimpun Rp 14,44 triliun dari ORI029, Rp 40 triliun dari ORI030, Rp 17,49 triliun dari SR024, Rp 22,62 triliun dari ST016, dan Rp 29,77 triliun dari SR025.

Setelah SBR015, ST017 menjadi satu-satunya seri SBN ritel yang masih akan ditawarkan pemerintah pada tahun ini. Meski prospeknya dinilai cukup baik, penjualan ST017 belum tentu menyamai capaian seri sebelumnya.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, prospek penyerapan ST017 masih terbuka. Namun, keberhasilannya akan ditentukan oleh tingkat imbal hasil, pilihan tenor, serta kondisi pasar ketika masa penawaran dibuka.

“Prospek penyerapan ST017 masih cukup baik, tetapi keberhasilannya akan sangat bergantung pada tingkat imbal hasil, pilihan tenor, dan kondisi pasar ketika penawaran dibuka pada 6 November 2026,” kata Syafruddin.

Baca Juga: OJK Beri Tenggat Pembayaran Denda, Pelanggar Pasar Modal Bisa Dipidana

Menurut dia, pemerintah tidak bisa mengasumsikan permintaan investor akan otomatis beralih dari SBR015 ke ST017.

Investor tetap memiliki sejumlah alternatif penempatan dana, seperti deposito, reksa dana pasar uang, emas, serta SBN yang dapat diperdagangkan.

Ketidakpastian nilai tukar rupiah dan suku bunga global, ditambah kebutuhan likuiditas menjelang akhir tahun, juga berpotensi memengaruhi keputusan investasi masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu menawarkan imbal hasil yang kompetitif sembari menjaga efisiensi biaya pembiayaan.

Dari sisi distributor, Chief Operating Officer Bareksa Ni Putu Kurniasari memperkirakan imbal hasil ST017 berpotensi lebih tinggi dibandingkan seri Sukuk Tabungan sebelumnya. Kendati demikian, daya tarik instrumen tersebut tetap bergantung pada besaran kupon yang ditetapkan pemerintah.

“Di tengah tren suku bunga yang masih relatif tinggi, imbal hasil ST017 berpotensi lebih tinggi dibandingkan seri ST sebelumnya. Namun, kembali lagi pada besaran kupon yang ditawarkan,” ujar Ni Putu.

Baca Juga: BEI Pertanyakan Harga Pengalihan Saham BYAN Rp 2.588, Ini Jawaban Manajemen Bayan

Ia menambahkan, apabila kupon ST017 lebih rendah dibandingkan imbal hasil SBR015, kondisi tersebut berpotensi menjadi tantangan dalam menarik minat investor. Pasalnya, investor memiliki alternatif instrumen lain untuk menempatkan dana, termasuk deposito syariah.

Dengan demikian, penetapan kupon menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan daya tarik ST017.

Selain tingkat imbal hasil, pemerintah perlu mempertimbangkan preferensi tenor dan kondisi pasar agar penerbitan SBN ritel terakhir tahun ini dapat mendukung penghimpunan dana secara optimal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News