Starbucks Hentikan Program AI Penghitung Inventaris Setelah 9 Bulan Digunakan



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Starbucks menghentikan penggunaan program kecerdasan buatan (AI) yang sebelumnya dipakai pekerja untuk mengotomatiskan penghitungan inventaris di gerai-gerainya di Amerika Utara. Keputusan ini diambil sembilan bulan setelah teknologi tersebut diterapkan secara luas.

Mengutip laporan Reuters penghentian program tersebut diketahui melalui buletin internal perusahaan yang ditinjau Reuters serta dikonfirmasi oleh dua sumber yang mengetahui langsung situasi tersebut.

Program AI itu merupakan bagian dari upaya Chief Executive Officer (CEO) Brian Niccol untuk mengatasi masalah kekurangan produk yang selama ini dinilai memengaruhi penjualan Starbucks.


Aplikasi tersebut dirancang untuk meningkatkan visibilitas perusahaan terhadap kekurangan stok di gerai. Namun dalam praktiknya, sistem itu disebut kerap salah menghitung dan salah memberi label produk, termasuk mencampuradukkan jenis susu yang mirip atau bahkan gagal mendeteksinya sama sekali.

“Mulai hari ini, Automated Counting akan dihentikan,” tulis buletin internal perusahaan tertanggal Senin.

“Komponen minuman dan susu kini akan dihitung dengan cara yang sama seperti kategori inventaris lainnya di kedai kopi,” tambah pernyataan tersebut.

Baca Juga: Rusia Klaim Berhasil Tembak Jatuh Drone yang Menuju Moskow

Pada Februari lalu, Starbucks sempat mengatakan kepada Reuters bahwa penggunaan teknologi tersebut berhasil meningkatkan ketersediaan produk di gerai, yang menjadi salah satu indikator utama keberhasilan program transformasi bisnis perusahaan di bawah kepemimpinan Niccol.

Dalam pernyataannya kepada Reuters pada Kamis (21/5), Starbucks menyebut penghentian program yang mencakup penghitungan susu dan produk minuman lainnya itu dilakukan untuk “menstandarkan cara penghitungan inventaris di seluruh kedai kopi seiring fokus perusahaan pada konsistensi dan eksekusi dalam skala besar.”

Perusahaan juga mengatakan sedang berupaya meningkatkan frekuensi pengiriman ulang stok harian ke gerai serta melanjutkan perbaikan rantai pasok.

“Tujuan kami sederhana — jika ada di menu, pelanggan harus bisa memesannya,” kata perusahaan.

Starbucks juga membagikan tangkapan layar umpan balik internal karyawan yang memuji penghentian sistem tersebut.

“Terima kasih karena menghentikan Automatic Counting! Ide di baliknya memang bagus, tetapi pelaksanaannya terbukti sulit,” tulis salah satu karyawan.

Baca Juga: Iran Tolak Kirim Uranium Diperkaya ke Luar Negeri, Negosiasi Damai dengan AS Terancam

Diluncurkan Cepat pada September

Starbucks mulai menerapkan teknologi tersebut secara cepat di gerai-gerai Amerika Utara pada September tahun lalu. Saat itu, perusahaan menyatakan aplikasi berbasis AI tersebut akan menggantikan proses penghitungan manual beberapa produk dengan sistem otomatis yang diklaim lebih cepat dan akurat.

Dalam penggunaannya, pekerja kafe mengarahkan tablet komputer ke rak berisi sirup, susu, dan produk minuman lainnya. Aplikasi kemudian memindai produk menggunakan teknologi LIDAR dan data kamera.

Pengumuman terkait teknologi itu kini telah dihapus dari situs resmi perusahaan. Saat diluncurkan, Starbucks menyebut teknologi tersebut akan menjadi fondasi bagi “optimalisasi rantai pasok yang lebih cerdas.”

Sebuah video yang diunggah Starbucks kala itu bahkan memperlihatkan sistem gagal mengenali botol sirup peppermint di rak saat menghitung botol lain di sekitarnya.

Strategi Transformasi Starbucks

Niccol, yang mulai memimpin Starbucks pada akhir 2024, juga merekrut sejumlah eksekutif logistik untuk memperbaiki rantai pasok perusahaan yang oleh karyawan lama dan baru disebut masih terfragmentasi dan terkendala sistem lama.

Analis dari Morningstar bulan lalu menilai margin keuntungan di tingkat restoran berpotensi membaik dalam jangka panjang berkat “inisiatif teknologi yang ditujukan untuk menghemat jam kerja dan mengurangi limbah, seperti pelacakan inventaris berbasis AI dan leverage operasional.”

Baca Juga: Tak Mau Kalah dari China, Trump Mendadak Rem Aturan AI Amerika

Dalam program transformasi bertajuk “Back to Starbucks”, Niccol juga mengandalkan teknologi AI lain untuk membantu pengurutan pesanan dan mendukung kerja barista.

CEO yang sebelumnya dikenal sukses melakukan transformasi di Chipotle Mexican Grill dan Taco Bell itu kini menghadapi tekanan investor untuk mempertahankan pertumbuhan penjualan sekaligus meningkatkan profitabilitas yang tertekan akibat besarnya investasi perusahaan pada penambahan tenaga kerja.

Saham Starbucks sempat bergerak lesu pada awal masa kepemimpinan Niccol, tetapi sepanjang 2026 hingga saat ini telah naik sekitar 24%.

Pada bulan lalu, Starbucks membukukan pertumbuhan penjualan kuartalan terkuat dalam dua setengah tahun terakhir. Meski demikian, margin operasional di pasar utama Amerika Utara turun menjadi 9,9%, dibandingkan 18% dua tahun sebelumnya sebelum Niccol memimpin perusahaan.

Program penghitung inventaris otomatis tersebut sebenarnya telah diuji coba selama beberapa tahun sebelum diwarisi dan diterapkan secara nasional oleh Niccol.

Sementara itu, penyedia aplikasi tersebut, NomadGo, mengatakan kepada Reuters bahwa pihaknya “terus belajar dari masukan pelanggan dan pengguna” untuk meningkatkan produknya.