KONTAN.CO.ID - Starbucks Korea akan menutup operasional gerainya lebih awal pada 22 Juni 2026 untuk menggelar pelatihan sejarah bagi para karyawannya. Informasi tersebut dilaporkan kantor berita Yonhap pada Senin (15/6/2026) yang dilansir
Reuters.
Baca Juga: 38 Kapal Jepang Masih Tertahan, Industri Pelayaran Tunggu Hormuz Benar-Benar Aman Pelatihan tersebut juga akan dihadiri oleh Chairman Shinsegae Group, Chung Yong-jin, beserta jajaran eksekutif perusahaan. Shinsegae merupakan grup ritel Korea Selatan yang mengoperasikan bisnis Starbucks di negara tersebut. Langkah ini dilakukan setelah Starbucks Korea menghadapi gelombang kritik publik pada bulan lalu terkait sebuah kampanye pemasaran yang dinilai mengingatkan masyarakat pada peristiwa penumpasan brutal demonstrasi pro-demokrasi tahun 1980 di Korea Selatan. Kontroversi tersebut memicu reaksi luas dari masyarakat karena peristiwa 1980, yang dikenal sebagai Tragedi Gwangju, merupakan salah satu momen paling sensitif dalam sejarah modern Korea Selatan. Dalam peristiwa itu, aksi demonstrasi pro-demokrasi ditindak secara keras oleh rezim militer yang berkuasa saat itu. Menurut laporan Yonhap, pelatihan sejarah tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman karyawan terhadap sejarah nasional sekaligus memperkuat sensitivitas dalam menjalankan aktivitas bisnis dan pemasaran.
Baca Juga: Laporan Lowy Institute: Ancaman Militer China terhadap Australia Kian Nyata Hingga berita ini ditulis, pihak Starbucks Korea belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
Reuters juga melaporkan bahwa juru bicara Starbucks Korea belum dapat dihubungi untuk memberikan komentar. Keputusan menggelar pelatihan sejarah bagi karyawan menunjukkan upaya perusahaan dalam merespons kritik publik sekaligus memperbaiki persepsi masyarakat terhadap merek tersebut setelah kontroversi kampanye pemasaran yang menuai kecaman.