Starbucks Proyeksikan Laba di Atas Ekspektasi, Siapkan Buyback US$ 1 Miliar



KONTAN.CO.ID - Starbucks memproyeksikan laba tahunan di atas ekspektasi analis, mengindikasikan strategi pemulihan bisnis yang dijalankan CEO Brian Niccol mulai menunjukkan hasil.

Perusahaan jaringan kedai kopi terbesar di dunia ini juga berencana mengalokasikan sekitar US$ 1 miliar untuk pembelian kembali saham.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun, Harapan Damai AS-Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan


Mengutip Reuters, Kamis (29/10/2026), Starbucks memperkirakan laba per saham yang disesuaikan atau adjusted earnings per share (EPS) untuk tahun fiskal mendatang berada di kisaran US$ 3,15 hingga US$ 3,25. Proyeksi tersebut melampaui ekspektasi analis yang sebesar US$ 3,14 per saham berdasarkan data LSEG.

Kinerja kuartal IV juga menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan pasar. Pertumbuhan penjualan di gerai yang telah beroperasi setidaknya selama satu tahun atau global same-store sales mencapai 7,2%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi analis sebesar 5,4%.

Starbucks membukukan adjusted EPS sebesar US$ 0,80 pada kuartal tersebut, melampaui perkiraan analis sebesar US$ 0,72 per saham.

Meski demikian, saham Starbucks turun sekitar 2% dalam perdagangan setelah penutupan bursa (after-hours). Investor masih mencermati kemampuan perusahaan untuk memulihkan profitabilitas di tengah upaya perbaikan operasional dan pengendalian biaya.

Baca Juga: Harga Emas Dunia Anjlok 1,4%, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Strategi pemulihan dan efisiensi biaya

Selama dua tahun terakhir, Niccol menjalankan strategi pemulihan bertajuk "Back to Starbucks". Langkah tersebut mencakup penyederhanaan menu, peningkatan jumlah staf, serta pemangkasan waktu tunggu pelanggan.

Strategi ini membantu Starbucks menjaga pertumbuhan penjualan yang lebih stabil. Namun, perusahaan juga menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan investasi pada tenaga kerja dengan kebutuhan meningkatkan keuntungan.

Untuk mengendalikan pengeluaran, Starbucks melakukan restrukturisasi melalui pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan gerai.

Langkah efisiensi tersebut ditujukan untuk mengimbangi investasi tenaga kerja yang nilainya mendekati US$ 500 juta sebagai bagian dari program pemulihan.

Selain memperbaiki operasional, perusahaan berencana mengembalikan modal kepada pemegang saham melalui pembelian kembali saham senilai sekitar US$ 1 miliar.

Baca Juga: Bersiap Situasi Darurat, 33 Negara Imbau Warga Siapkan Stok Makanan, Air & Obat

Bisnis China dirombak, prospek pendapatan tertekan

Di sisi lain, Starbucks tengah mengubah strategi bisnisnya di China untuk mendorong kembali pertumbuhan di pasar tersebut.

Perusahaan telah menyelesaikan transaksi penjualan saham pengendali bisnisnya di China kepada Boyu Capital pada tahun ini. Kesepakatan itu menilai bisnis Starbucks di China sebesar US$ 4 miliar.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menghidupkan kembali pertumbuhan bisnis di kawasan tersebut. Namun, tekanan dari pasar China turut membayangi prospek pendapatan tahunan Starbucks.

Baca Juga: Green Climate Fund Kucurkan US$ 1,97 Miliar, Pendanaan Iklim Cetak Rekor

Perusahaan sebelumnya memperkirakan pendapatan tahunan turun 1%, berbeda dari ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 1,4%.

Pada awal bulan ini, Starbucks juga membantah kabar mengenai rencana akuisisi Chipotle Mexican Grill yang muncul setelah laporan media mengenai potensi transaksi tersebut.

Jika terealisasi, kesepakatan itu berpotensi menjadi salah satu akuisisi terbesar di industri restoran dan mempertemukan kembali Niccol dengan Chipotle, perusahaan yang pernah dipimpinnya selama enam tahun.

TAG: