KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekosistem startup Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi ketersediaan pendanaan domestik. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda memperkirakan, hanya sekitar 10%-15% pendanaan startup digital Indonesia yang berasal dari perusahaan venture capital (VC) dalam negeri. Sementara itu, mayoritas pendanaan masih berasal dari investor asing, termasuk Amerika Serikat, China, dan Singapura. Menurut Nailul ketergantungan pada pendanaan asing, membuat investasi startup Indonesia rentan terhadap perubahan kondisi pasar global. Kenaikan cost of fund di luar negeri dapat menekan investasi ke startup digital Indonesia. “Akibatnya, ketika cost of fund di luar negeri meningkat, investasi ke startup digital lokal menurun. Pada akhirnya, startup digital kita akan mengalami tech winter berkepanjangan,” kata Nailul kepada KONTAN, Minggu (9/8/2026). Baca Juga: Ekosistem Startup Indonesia Tertinggal, INDEF Soroti Masalah Pendanaan Selain pendanaan, Nailul menyoroti regulasi yang dinilai belum sepenuhnya mendukung perkembangan VC dalam negeri. Salah satunya terkait kepastian posisi VC dalam regulasi perpajakan, termasuk insentif fiskal. Keterbatasan tersebut juga mendorong sejumlah startup digital Indonesia mencari pendanaan melalui Singapura. Padahal, menurut Nailul, sumber investasinya dapat berasal dari Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di sisi lain, persoalan tata kelola dan fraud pada startup turut membuat VC lebih berhati-hati dalam menyalurkan investasi. Kondisi tersebut berpotensi semakin menekan pendanaan, bagi startup yang membutuhkan modal untuk mengembangkan bisnis. Baca Juga: Kemenperin Bidik Startup Jadi Mitra Transformasi Industri Manufaktur Karena itu, Nailul mendorong pemerintah mempertimbangkan insentif bagi perusahaan VC untuk meningkatkan pendanaan startup domestik. “Peran venture capital harus lebih dalam, bukan hanya menjadi penyuntik modal, tapi juga sebagai mentor bagi manajemen startup,” tegas Nailul. Menurutnya, pendampingan tersebut diperlukan untuk membantu startup menjaga kinerja perusahaan sekaligus memperkuat tata kelola bisnis.
Startup Indonesia Masih Bergantung Pendanaan Asing, CELIOS Soroti VC Lokal
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekosistem startup Indonesia masih menghadapi tantangan dari sisi ketersediaan pendanaan domestik. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda memperkirakan, hanya sekitar 10%-15% pendanaan startup digital Indonesia yang berasal dari perusahaan venture capital (VC) dalam negeri. Sementara itu, mayoritas pendanaan masih berasal dari investor asing, termasuk Amerika Serikat, China, dan Singapura. Menurut Nailul ketergantungan pada pendanaan asing, membuat investasi startup Indonesia rentan terhadap perubahan kondisi pasar global. Kenaikan cost of fund di luar negeri dapat menekan investasi ke startup digital Indonesia. “Akibatnya, ketika cost of fund di luar negeri meningkat, investasi ke startup digital lokal menurun. Pada akhirnya, startup digital kita akan mengalami tech winter berkepanjangan,” kata Nailul kepada KONTAN, Minggu (9/8/2026). Baca Juga: Ekosistem Startup Indonesia Tertinggal, INDEF Soroti Masalah Pendanaan Selain pendanaan, Nailul menyoroti regulasi yang dinilai belum sepenuhnya mendukung perkembangan VC dalam negeri. Salah satunya terkait kepastian posisi VC dalam regulasi perpajakan, termasuk insentif fiskal. Keterbatasan tersebut juga mendorong sejumlah startup digital Indonesia mencari pendanaan melalui Singapura. Padahal, menurut Nailul, sumber investasinya dapat berasal dari Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di sisi lain, persoalan tata kelola dan fraud pada startup turut membuat VC lebih berhati-hati dalam menyalurkan investasi. Kondisi tersebut berpotensi semakin menekan pendanaan, bagi startup yang membutuhkan modal untuk mengembangkan bisnis. Baca Juga: Kemenperin Bidik Startup Jadi Mitra Transformasi Industri Manufaktur Karena itu, Nailul mendorong pemerintah mempertimbangkan insentif bagi perusahaan VC untuk meningkatkan pendanaan startup domestik. “Peran venture capital harus lebih dalam, bukan hanya menjadi penyuntik modal, tapi juga sebagai mentor bagi manajemen startup,” tegas Nailul. Menurutnya, pendampingan tersebut diperlukan untuk membantu startup menjaga kinerja perusahaan sekaligus memperkuat tata kelola bisnis.
TAG: