KONTAN.CO.ID - NEW DELHI. Sebanyak 45 pembangkit listrik di India kini beroperasi dengan persediaan batubara yang berada pada level kritis. Kondisi ini terjadi ketika hujan monsun mengganggu pasokan batu bara, sementara permintaan listrik meningkat akibat cuaca yang lebih panas dari biasanya yang dikaitkan dengan fenomena El Nino. Data pemerintah India per 25 Agustus 2026 menunjukkan, jumlah pembangkit dengan stok batubara di bawah 25% dari kebutuhan persediaan atau hanya cukup untuk menghasilkan listrik kurang dari tiga hari meningkat tajam dibandingkan 31 pembangkit pada akhir Juli 2026. Berdasarkan data yang dipublikasikan di situs Central Electricity Authority (CEA), sebanyak 40 dari 45 pembangkit yang terdampak merupakan pembangkit listrik berbahan bakar batubara domestik.
Hujan deras di sejumlah negara bagian India yang menjadi pusat produksi batubara, termasuk Odisha, Jharkhand, dan Chhattisgarh, menghambat kegiatan pertambangan serta memperlambat pengangkutan batubara menuju pembangkit listrik, menurut sejumlah sumber industri. Konsultan komoditas BigMint mengatakan penurunan persediaan batubara cukup signifikan, terutama sepanjang Agustus 2026.
Baca Juga: Harga Minyak Turun, Pasar Berharap Selat Hormuz Kembali Dibuka "Telah terjadi penurunan persediaan yang signifikan, terutama sepanjang Agustus, sehingga stok turun 19% dari level akhir Juli," kata BigMint. Menurut BigMint, persediaan batubara di pembangkit listrik India saat ini mencapai 30,95 juta ton. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan operasional sekitar 10 hari, turun dari sekitar 12 hari pada Juli 2026.
Permintaan Listrik India Meningkat
Penurunan stok batubara terjadi ketika India menghadapi musim monsun yang diperkirakan menjadi yang terlemah sejak 2009. Curah hujan yang tidak merata dan dikaitkan dengan El Nino turut mendorong peningkatan permintaan listrik di sejumlah wilayah. Seorang pejabat dari NTPC, produsen listrik termal terbesar di India, mengatakan permintaan listrik meningkat terutama untuk kebutuhan pendingin ruangan. "Musim monsun yang tidak merata telah mendorong permintaan listrik, terutama untuk pendingin ruangan. Namun, pasokan batubara berjalan sangat terbatas," kata pejabat NTPC tersebut kepada Reuters. Menurut pejabat tersebut, sejumlah pembangkit membutuhkan lima hingga enam rangkaian kereta pengangkut batubara atau rakes setiap hari, tetapi hanya menerima sekitar setengah dari kebutuhan tersebut. "Ada kebutuhan lima hingga enam rangkaian kereta pengangkut batubara di beberapa pembangkit, tetapi kami hanya menerima setengah dari jumlah tersebut," ujarnya. India sejauh ini menerima curah hujan 12% lebih rendah dibandingkan kondisi normal selama musim monsun tahun ini. Kondisi tersebut membuat ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbahan bakar batubara semakin tinggi.
Baca Juga: PM Qatar Kunjungi Teheran, Diplomasi Selat Hormuz Kembali Diupayakan Ketergantungan tersebut terutama meningkat pada malam hari ketika kebutuhan pendinginan tetap tinggi dan pembangkit listrik harus mempertahankan pasokan untuk memenuhi permintaan.
Pemeliharaan Pembangkit Ditunda
Di tengah tekanan terhadap pasokan batubara, Kementerian Kelistrikan India meminta sejumlah pembangkit listrik berbahan bakar batubara menunda rencana pemeliharaan unit pembangkit. Seorang pejabat senior kementerian mengatakan langkah tersebut dilakukan hingga pemerintah memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pasokan batubara. Kondisi stok batubara yang menipis menjadi perhatian karena pembangkit listrik termal masih memegang peranan penting dalam sistem kelistrikan India. Gangguan pasokan batubara berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kemampuan pembangkit dalam memenuhi kebutuhan listrik, terutama ketika permintaan meningkat akibat suhu yang lebih tinggi.