Stok Beras 5,2 Juta Ton, Pemerintah Klaim Siap Hadapi El Nino



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengklaim stok beras nasional cukup kuat untuk menghadapi ancaman El Nino 2026 yang diperkirakan memasuki kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. 

Fenomena ini diproyeksikan membuat musim kemarau lebih kering dan panjang, terutama pada Agustus dan September.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah telah menyiapkan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga 5,2 juta ton. Stok tersebut berasal dari penyerapan produksi dalam negeri dan tidak ditopang impor.


"Dulu pernah El Nino (tahun) 2016, kita selamat. Jadi dulu saja dalam waktu singkat, kita bisa bertahan. Apalagi sekarang dengan pengalaman El Nino 3 kali," ujar Amran dalam keterangan resminya, Kamis (13/8/2026).

Baca Juga: Punya Potensi 3.600 Ton, Cadangan Emas Bank Indonesia Hanya 87,1 Ton

Menurut Amran, kondisi tersebut berbeda dengan El Nino 2023 dan 2024 ketika persiapan pangan dinilai belum cukup kuat sehingga Indonesia harus mengimpor beras hingga 7 juta ton.

"Sekarang kita sudah persiapkan El Nino, stok (CBP) kita 5,2 juta ton," katanya.

Data Bapanas menunjukkan stok CBP per 12 Agustus 2026 telah mencapai 5,25 juta ton. Angka ini melonjak 245,4% dibandingkan stok pada awal September 2023 yang hanya 1,52 juta ton, atau sebelum puncak El Nino pada tahun tersebut.

Penguatan stok dilakukan pemerintah sejak 2025 melalui percepatan penyerapan gabah petani oleh Perum Bulog. 

Pemerintah menerapkan kebijakan penyerapan gabah any quality untuk menjaga hasil panen petani tetap terserap meski kualitas gabah beragam.

Amran mengatakan kebijakan tersebut juga dimaksudkan untuk melindungi petani dari risiko jatuhnya harga ketika produksi melimpah. Bulog, lanjutnya, mengambil alih beban pengolahan apabila gabah memiliki kadar air tinggi.

"Kalau berasnya kadar airnya tinggi, diambil alih beban petani itu. Justru kalau tidak diserap, petani ini sangat resisten, dia sangat rentan untuk berubah menjadi bangkrut," jelasnya.

Di sisi lain, kebijakan penyerapan gabah dalam jumlah besar berpotensi meningkatkan risiko penurunan mutu selama penyimpanan. Amran mengakui terdapat beras yang mengalami penurunan mutu, tetapi menilai volumenya tidak signifikan dibandingkan total CBP.

"Kalau ada yang turun mutu, katakanlah kemarin ada 5.000 ton, dibagi 5,2 juta ton, itu 0,00 sekian persen. Tidak signifikan," kata Amran.

Baca Juga: Rekor! ​Utang Pemerintah Tembus Rp10.293 Triliun, Apakah Berbahaya?

Selain beras, pemerintah juga memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk komoditas lainnya. Stok tersebut dikelola oleh Perum Bulog dan ID FOOD.

Berdasarkan data Bapanas, stok CPP saat ini terdiri atas 159.000 ton jagung, 38 ton daging ayam ras, 2.000 ton gula konsumsi, 1.000 kiloliter minyak goreng, 6 ton telur ayam, dan 3 ton daging sapi.

Stok jagung menjadi salah satu komoditas yang mengalami peningkatan paling besar. Pada September 2023, stok CPP jagung masih nihil, sedangkan saat ini telah mencapai 159.000 ton.

Pemerintah pun menyebut mayoritas pasokan cadangan pangan tersebut bersumber dari penyerapan produksi dalam negeri. Strategi ini menjadi bantalan pemerintah menghadapi risiko gangguan produksi dan pasokan pangan akibat kemarau panjang yang dipicu El Nino.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News