KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah merespons kelangkaan beras premium di sejumlah ritel modern dengan meminta Perum Bulog memperbesar penyaluran stok beras premium. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta Bulog untuk menambah porsi penyaluran beras premium mencapai 300.000 ton ke ritel-ritel. Penyaluran secara masif ini dilakukan dalam merespon kelangkaan beras premium di pasar modern. "Sudahlah kalau bisa 200.000 sampai 300.000 ton itu Bulog salurkan, kan stoknya banyak," kata Mentan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Baca Juga: RKAB Tiga Anak Usaha BYAN Disetujui, ESDM Bantah Ada Kaitannya dengan Haji Isam Sebelumnya, Bulog menyebut akan menggelontorkan sebanyak 110.000 ton beras untuk mengisi kekosongan stok di ritel modern. Dari jumlah tersebut sebanyak 75.000 ton beras akan disalurkan dalam bentuk premium dan 35.000 ton beras berbentuk medium. Bulog juga memastikan bahwa beras ini akan dijual sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah. Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa kekosongan stok ini lantaran ada penarikan masif beras fortifikasi yang bermasalah. Walau begitu, Amran menegaskan bahwa pasokan beras premium saat ini masih banyak tersedia di pasar tradisional. Pihaknya juga berkomitmen untuk menurunkan harga beras premium adlam waktu dekat. "Pasti turunlah, doakanya pasti turun," tegasnya. Sementara itu, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mencatat ada kenaikan harga beras baik untuk jenis medium maupun premium pada minggu ketiga September 2026. Secara umum, harga beras medium pada Minggu ketiga September tercatat Rp 14.644/kg atau naik 0,76% jika dibandingkan dengan harga beras medium pada bulan Agustus 2026. Sementara itu, harga beras premium pada Minggu ketiga September tercatat Rp 16.495/kg atau naik 0,69% jika dibandingkan dengan harga beras premium pada bulan Agustus 2026.
Baca Juga: Jual Minyakita dengan Harga di Atas HET, 15 Pelaku Usaha Kena Sanksi Kemendag "Yang perlu mendapatkan perhatian, pada saat kondisi harga di minggu ini dengan Desember 2025, karena nanti
year of date akan menjadi inflasi kita untuk angka tahunannya," tegas Ateng.
Lebih lanjut, BPS juga mencatat adanya kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) beras di berbagai provinsi. "Ada beberapa provinsi yang perkembangan IPH-nya diatas 2% yaitu di Papua Pegunungan, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Bangka Belitung," jelas Ateng. Sementara itu, BPS juga mencatat sebanyak 152 Kabupaten/Kota mengalami kenaikan IPH beras di semua kualitas. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News