Stok Berlimpah Bebani Pasar, Harga Nikel Kuartal IV 2026 Diproyeksi Bergerak Volatil



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga nikel di pasar internasional diperkirakan masih dibayangi oleh kondisi kelebihan pasokan (oversupply) serta penumpukan stok yang cukup tinggi hingga akhir tahun ini.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar menilai, kondisi pasar global saat ini belum sepenuhnya pulih sehingga pergerakan harga nikel masih akan cenderung bergerak dinamis pada kuartal IV 2026.

Meskipun Kementerian ESDM memproyeksikan ada peluang harga nikel bertahan di kisaran level US$ 17.000 per ton, tekanan pasokan internasional tetap menjadi tantangan utama. Berdasarkan data Trading Economics, harga nikel sempat terkoreksi ke level US$ 15.550 per ton akibat melimpahnya ketersediaan stok global.


Baca Juga: Pengusaha Industri Pengerjaan Mesin Soroti Dominasi Mesin Impor di Pasar Domestik

Menurut Bisman, grafik pergerakan harga nikel hingga penutupan tahun ini masih menyimpan potensi fluktuasi yang cukup tajam. 

"Sepertinya sampai akhir Kuartal IV 2026 pasar nikel masih cenderung volatile, ya bisa antara US$ 15.500– US$ 17.000 per ton sampai dengan akhir tahun, mungkin saja bisa lebih tinggi jika terjadi gangguan pasokan yang cukup besar," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (7/10/2026).

Kondisi pasar saat ini juga dinilai belum menunjukkan pemulihan yang signifikan akibat melimpahnya ketersediaan pasokan nikel di pasar dunia. Bisman menyebutkan, kebijakan pemotongan volume produksi di dalam negeri belum mampu secara drastis mengubah peta keseimbangan rantai pasok nikel secara global.

"Pasar masih belum bagus, masih kondisi kelebihan pasokan dan stok yang lumayan tinggi, sehingga dampak pemangkasan produksi Indonesia belum maksimal mengubah keseimbangan global," terangnya.

Bisman menjelaskan faktor utama penentu pergerakan harga komoditas nikel meliputi realisasi pemangkasan produksi dan kuota bijih nikel Indonesia, perkembangan stok di bursa internasional, permintaan sektor stainless steel dan baterai, hingga laju pemulihan industri manufaktur China.

"Dengan kondisi ini harga bisa dikisaran US$ 15.500– US$ 17.000 per ton, mungkin aja ada peluang sampe US$ 17.000 atau lebih jika pengetatan pasokan dari produksi kita benar-benar mempengaruhi di pasar global," pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin mengatakan, meskipun terdapat tekanan dari besarnya stok nikel internasional yang telah mendekati angka 500.000 ton, pemerintah tetap optimis terhadap tren pasar hingga penutupan tahun.

"Mineral sih kita optimis, tapi memang untuk nikel setahu saya kan ada stok internasional itu udah mendekati ke 500.000 ton ya. Itu juga jadi salah satu yang membuat agak tertekan," ujarnya saat ditemui di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Cecep mengungkapkan, pihaknya terus mencermati dinamika pasokan serta pasang surut permintaan nikel di pasar global yang mempengaruhi pergerakan harga. 

Kendati tekanan dari penumpukan pasokan global cukup terasa, kinerja harga pasar domestik dan dampak penyesuaian regulasi masih menunjukkan ketahanan yang relatif baik.

"Tapi kedepannya untuk yang nikel mungkin kita bisa berharap bertahan di angka US$ 17.000-an per ton sampai akhir tahun," ungkapnya.

Cecep menyebutkan, sebelumnya pihaknya sempat mengkhawatirkan dampak dari penyesuaian Kebijakan Harga Patokan Mineral (HPM) Limonit terhadap pergerakan harga pasar. 

Namun, realisasi di lapangan menunjukkan penyesuaian tersebut tidak membawa dampak penurunan harga yang signifikan sebagaimana yang dikhawatirkan sebelumnya.

"Kemarin kita agak ragu juga takut pada saat kita ubah kebijakan HPM Limonit itu menjadi turun. Tapi ternyata nggak begitu besar penurunannya gitu," terangnya. 

Baca Juga: UU Ketenagakerjaan Baru Bikin PHK Dipersulit, Pesangon Minimal Satu Kali

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News