KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun tajam pada pekan lalu, menunjukkan pengetatan pasokan di tengah meningkatnya aktivitas kilang. Data ini berpotensi menjadi sentimen penguat bagi harga minyak global. Berdasarkan laporan Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA), stok minyak mentah AS berkurang 7,2 juta barel menjadi 404,5 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli 2026.
Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi analis dalam survei
Reuters yang memperkirakan penurunan hanya sekitar 1,3 juta barel.
Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka, Pasokan Minyak Global 93 Juta Barel Bisa Banjiri Pasar "Penurunan stok minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan mencerminkan kuatnya penyerapan minyak oleh sektor pengolahan," demikian tercermin dari data EIA. Selain stok nasional, persediaan minyak mentah di pusat pengiriman utama AS, Cushing, Oklahoma, juga turun 771.000 barel dalam sepekan. Penurunan stok terjadi seiring meningkatnya aktivitas kilang minyak. EIA mencatat pengolahan minyak mentah oleh kilang naik 271.000 barel per hari, sementara tingkat utilisasi kilang meningkat 1,1 poin persentase menjadi 97,2%. Namun, tekanan pasokan tidak sepenuhnya tercermin pada seluruh produk olahan minyak. Persediaan bensin AS justru naik tipis 7.000 barel menjadi 211,3 juta barel.
Baca Juga: Kontribusi ke IEA: AS Bakal Lepas 172 Juta Barel dari Cadangan Minyak Angka tersebut berlawanan dengan perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan stok bensin akan turun 722.000 barel. Sementara itu, stok distilat yang mencakup solar dan minyak pemanas meningkat 1,1 juta barel menjadi 110,6 juta barel. Kenaikan tersebut juga lebih tinggi dibandingkan perkiraan analis yang memperkirakan peningkatan sekitar 916.000 barel. Dari sisi perdagangan, impor bersih minyak mentah AS turun 237.000 barel per hari pada periode yang sama. Data terbaru EIA menunjukkan adanya kombinasi antara penurunan pasokan minyak mentah dan peningkatan stok produk olahan. Kondisi tersebut membuat pasar mencermati keseimbangan antara permintaan energi, aktivitas kilang, serta prospek harga minyak global ke depan.