Stok Rudal Jarak Jauh AS Menipis Usai Perang Iran, Kesiapan Militer Dipertanyakan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persediaan rudal jarak jauh berpresisi tinggi milik Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) dilaporkan menyusut drastis setelah digunakan secara intensif dalam perang melawan Iran yang telah berlangsung selama lima bulan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS dalam menghadapi potensi konflik lain di masa depan, termasuk dengan Rusia maupun China.

Mengutip laporan Reuters pada Selasa (5/8), berdasarkan keterangan tiga sumber yang mengetahui data internal pemerintah AS, sebagian besar stok rudal taktis jarak jauh milik Angkatan Darat telah digunakan selama konflik berlangsung.


Rudal yang dimaksud terutama adalah Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Dua sumber menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah menggunakan "hampir seluruh" persediaan kedua jenis rudal tersebut.

Laporan mengenai tingkat penyusutan stok ATACMS dan PrSM ini sebelumnya belum pernah dipublikasikan.

Baca Juga: Nippon Steel Naikkan Proyeksi Laba 32% Berkat Kinerja U.S. Steel

ATACMS dan PrSM merupakan senjata permukaan ke permukaan berpresisi tinggi yang memungkinkan militer menyerang sasaran dari jarak aman. Rudal ATACMS yang dipasok AS juga memainkan peran penting dalam perang Ukraina dengan memungkinkan pasukan Ukraina menyerang target di wilayah Rusia.

Sementara itu, PrSM merupakan rudal generasi terbaru yang memiliki jangkauan lebih jauh dan dirancang untuk menggantikan ATACMS.

Para analis menilai rudal-rudal tersebut, yang masing-masing bernilai lebih dari US$ 1 juta, juga akan menjadi aset penting apabila terjadi konflik dengan China.

Namun, para sumber Reuters menolak mengungkapkan berapa jumlah rudal ATACMS maupun PrSM yang masih tersisa di gudang persenjataan AS.

Perang Berkepanjangan Tekan Persediaan Senjata

Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluncurkan perang terhadap Iran bersama Israel pada Februari lalu dengan memperkirakan konflik akan berlangsung singkat.

Namun, seiring perang yang terus berlanjut, ketiga sumber tersebut mengaku khawatir menurunnya stok rudal dapat membatasi kemampuan Amerika Serikat dalam memberikan efek gentar terhadap negara-negara pesaing, termasuk Rusia dan China.

Seorang sumber lain mengatakan bahwa Central Command (CENTCOM), yang membawahi operasi militer AS di Timur Tengah, hampir menghabiskan seluruh stok rudal berbasis darat yang dimilikinya sebelum perang dimulai. Meski demikian, persediaan tersebut masih dapat diisi kembali melalui stok militer AS yang berada di wilayah lain di dunia.

Seluruh narasumber diwawancarai Reuters dengan syarat identitas mereka dirahasiakan karena membahas data sensitif pemerintah.

Trump Klaim Persediaan Senjata Masih Sangat Besar

Menanggapi laporan mengenai stok rudal tersebut, Gedung Putih menyampaikan pernyataan Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Korea Selatan Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, 19 Orang Meninggal

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat masih memiliki persediaan amunisi yang jauh lebih besar dibandingkan negara mana pun.

"Kami memiliki amunisi yang jauh lebih banyak dibandingkan siapa pun di dunia dan jauh lebih banyak daripada yang kami butuhkan," katanya.

Ia juga mengatakan industri pertahanan AS kini memproduksi amunisi dalam jumlah tertinggi sepanjang sejarah.

"Perusahaan-perusahaan pertahanan kami saat ini memproduksi lebih banyak amunisi daripada sebelumnya, sekaligus memperluas pabrik dan peralatan mereka pada tingkat yang memecahkan rekor," tambahnya.

Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa walaupun produksi beberapa jenis amunisi, termasuk peluru artileri dan berbagai rudal, telah mencapai rekor baru, jumlah tersebut kemungkinan masih belum mencukupi untuk menopang perang berkepanjangan.

Pentagon Pastikan Kekuatan Militer Tetap Terjaga

Produsen rudal ATACMS, PrSM, dan sistem pertahanan rudal THAAD, yakni Lockheed Martin, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters terkait pernyataan Trump maupun tingkat persediaan rudal.

Sementara itu, Raytheon, produsen rudal jelajah Tomahawk dan sistem pencegat Patriot, juga belum memberikan komentar.

Juru bicara utama Pentagon Sean Parnell menegaskan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat tetap berada pada level tertinggi.

"Militer Amerika adalah yang paling kuat di dunia dan memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi kapan pun dan di mana pun sesuai keputusan Presiden. Kami telah melaksanakan berbagai operasi yang berhasil di berbagai wilayah komando tempur, sekaligus memastikan militer AS memiliki persediaan kemampuan yang sangat besar untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," katanya.

Baca Juga: Trump Kritik ExxonMobil dan Chevron, Minta Raksasa Minyak Turunkan Harga BBM

Menurut Reuters, data mengenai stok persenjataan tersebut telah beredar di lingkungan pemerintah federal selama sepekan terakhir dan menjadi bahan diskusi intens di dalam pemerintahan Trump mengenai seberapa lama Amerika Serikat masih dapat melanjutkan serangan terhadap Iran tanpa mengurangi stok senjata ke tingkat yang dapat mengganggu respons terhadap krisis di kawasan lain.

Penggunaan Rudal Dipilih untuk Kurangi Risiko

Salah satu sumber mengatakan berkurangnya stok ATACMS dan PrSM merupakan konsekuensi dari keputusan pemerintahan Trump yang lebih memilih menggunakan rudal jarak jauh dibandingkan mengirim pesawat tempur berawak untuk menjatuhkan bom ke sasaran di Iran.

Karena mampu menyerang target dari jarak jauh, rudal-rudal tersebut dinilai sangat penting apabila Amerika Serikat menghadapi negara dengan sistem pertahanan udara kuat seperti China.

Laporan Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Maret lalu juga menyebutkan bahwa rudal PrSM telah digunakan untuk menyerang target di wilayah Iran.

Menurut laporan tersebut, stok PrSM memang sejak awal relatif terbatas karena masih merupakan rudal generasi baru. Namun, militer AS telah memesan dalam jumlah besar untuk pengiriman pada 2027.

Angkatan Darat AS juga telah menyatakan bahwa ATACMS secara bertahap akan dihentikan dan produksinya dialihkan ke rudal PrSM.

Stok Rudal Pertahanan Ikut Menyusut

Dua sumber Reuters mengatakan para petinggi militer telah beberapa pekan memperingatkan Presiden Trump bahwa stok senjata pertahanan, termasuk rudal pencegat Patriot yang efektif menghadapi rudal balistik, terus menurun.

Pekan lalu, sejumlah media melaporkan Trump memutuskan tidak melancarkan serangan besar berikutnya ke Iran, salah satunya karena penasihat militernya memperingatkan kondisi stok senjata AS.

Namun, seorang pejabat pemerintah AS membantah laporan tersebut. Menurutnya, Trump membatalkan rencana serangan lanjutan karena adanya tekanan dari negara-negara Teluk.

Konflik di Timur Tengah juga memicu perdebatan mengenai kewenangan Presiden Trump untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran tanpa memperoleh persetujuan Kongres.

Hingga kini, belum ada permintaan resmi mengenai deklarasi perang maupun otorisasi penggunaan kekuatan militer yang diajukan kepada Kongres.

Hampir Separuh Rudal Tomahawk Ikut Terpakai

Laporan terbaru CSIS memperkirakan bahwa sepanjang Februari hingga Juli sekitar 65% rudal pencegat Patriot telah digunakan, sementara stok rudal pencegat sistem THAAD turun sedikitnya 38% dibandingkan sebelum perang dimulai.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Ketidakpastian Konflik AS-Iran Kembali Angkat Sentimen Pasar

Patriot dan THAAD merupakan sistem pertahanan utama Amerika Serikat untuk mendeteksi sekaligus menghancurkan rudal yang datang.

Dua sumber Reuters mengatakan angka tersebut sejalan dengan data internal pemerintah AS.

Selain itu, salah satu sumber mengungkapkan bahwa Amerika Serikat juga telah menggunakan hampir separuh dari total persediaan global rudal jelajah Tomahawk sejak perang dimulai.

Reuters belum dapat memverifikasi angka tersebut secara independen.

Tomahawk merupakan rudal milik Angkatan Laut AS yang diluncurkan dari kapal perusak, kapal penjelajah, maupun kapal selam, dan selama bertahun-tahun menjadi senjata utama untuk menghancurkan sasaran yang memiliki pertahanan kuat tanpa mempertaruhkan keselamatan pilot.

Di tengah menyusutnya stok persenjataan, Raytheon, bagian dari RTX, telah mencapai kesepakatan awal multi-tahun dengan Pentagon untuk meningkatkan produksi rudal Tomahawk serta berbagai jenis amunisi lainnya, seiring upaya Washington membangun kembali cadangan persenjataannya.