Stok Turun, Harga Aluminium Reli: Capai Level Tertinggi dalam 7 Minggu



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga aluminium menguat untuk tujuh sesi berturut-turut hingga mencapai level tertinggi dalam tujuh minggu pada hari ini, didorong oleh kekhawatiran akan ketatnya persediaan dan berlanjutnya defisit pasokan logam ringan tersebut.

Selasa (11/8/2026) pukul 11.15 WIB, harga acuan aluminium untuk kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,54% menjadi US$ 3.335,5 per ton metrik. Sebelumnya pada sesi perdagangan yang sama, harga sempat menyentuh US$ 3.350 per ton, level tertinggi logam tersebut sejak 23 Juni.

Kontrak aluminium yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange (SHFE) naik 0,62% menjadi 24.185 yuan atau setara US$ 3.586,20 per ton.


Stok aluminium telah turun tajam, dan para analis memperkirakan pasar akan tetap mengalami defisit tahun ini. Konflik AS-Iran telah mengganggu pengiriman aluminium dari Timur Tengah, wilayah yang menyumbang hampir 9% dari kapasitas global.

Baca Juga: JPMorgan Pertahankan Ekspansi Bisnis di Asia Pasifik

Harapan akan tercapainya kesepakatan antara kedua negara memudar pada hari Selasa setelah Presiden AS Donald Trump menuntut ganti rugi dari Iran.

Di sisi lain, harga tembaga juga mendapat dukungan dari kekhawatiran pasokan serta meredanya kekhawatiran mengenai suku bunga AS yang tinggi dalam jangka waktu lama.

Harga tembaga di LME naik 0,14%, sementara harga di SHFE menguat 0,58%. Selisih harga (spread) antara kontrak tunai dan kontrak tiga bulan di LME menunjukkan kondisi backwardation yang tajam di angka US$145,5 per ton, yang mengindikasikan ketatnya ketersediaan fisik logam tersebut.

Stok tembaga di LME telah turun tajam karena material ditarik masuk ke AS dari gudang-gudang di wilayah lain, seiring para pedagang mengantisipasi potensi pengenaan tarif AS terhadap impor tembaga olahan.

Data lapangan kerja AS pekan lalu yang lebih lemah dari perkiraan telah menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga, ujar Daniel Hynes, ahli strategi komoditas senior ANZ, dalam sebuah catatan.

"Suku bunga yang lebih tinggi cenderung berdampak negatif pada logam industri karena menghambat pertumbuhan ekonomi."

Di antara logam LME, harga seng turun 0,12%, timbal stabil, nikel turun 0,24%, dan timah turun 0,06%.

Di antara logam SHFE, harga seng naik 0,22%, timbal naik 0,76%, nikel turun 0,67%, dan timah turun 0,45%.