Strategi Andalan Artha Primanusa Memacu Usaha Kontraktor Tambang Batubara dan Nikel



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Andalan Artha Primanusa optimistis prospek industri pertambangan masih apik, terutama untuk komoditas unggulan Indonesia seperti batubara dan nikel. Andalan Artha berupaya menangkap peluang dari aktivitas pertambangan yang masih meningkat pada dua komoditas unggulan tersebut.

Direktur Utama PT Andalan Artha Primanusa, Gahari Christine mengungkapkan bahwa selama delapan tahun berdiri, Andalan Artha fokus pada penyediaan solusi end-to-end. Mulai dari fase eksplorasi, produksi, hingga tahap reklamasi.

Operasional Andalan Artha tersebar di wilayah strategis (multi-site) yang mencakup Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Halmahera Timur. Jangkauan ini mendapat dukungan kemitraan strategis dengan entitas terkemuka seperti Grup Harum Energy, Bukit Asam, dan Grup Petrindo. 


Baca Juga: Wajib Halal Tekstil 2026, Pemerintah Tutup Celah Pengawasan Impor

Menurut Gahari, portofolio kontrak secara berkelanjutan menunjukkan kemahiran eksekusi Andalan Artha. Saat ini, Andalan Artha mengelola sejumlah kontrak operasional strategis, termasuk kerja sama dengan PT Satria Bahana Sarana di wilayah operasi PT Bukit Asam Tbk (PTBA).  

Gahari menjelaskan, kesuksesan proyek tambang sangat bergantung pada konsistensi dan kualitas eksekusi operasional di lapangan. Peran kontraktor jasa pertambangan menjadi semakin vital dalam kondisi ini karena berfungsi sebagai enabler utama yang menjamin terciptanya efisiensi dan produktivitas. 

"Di industri pertambangan, yang paling menentukan bukan hanya resource, tapi konsistensi eksekusi di lapangan. Oleh karena itu, peran kontraktor menjadi semakin penting dalam menjaga produktivitas dan efisiensi operasional," kata Gahari melalui keterangan tertulis yang disiarkan pada Senin (4/5/2026).

Pada tahun 2026, Andalan Artha memperkuat posisinya dengan mengamankan berbagai kontrak baru di sektor operasional batubara. Kontrak tersebut mencakup pekerjaan dari PT Daya Bumindo Karunia, PT Intan Bumi Persada, dan PT Arkara Prathama Energi.  

Tak hanya di segmen tambang batubara, Andalan Artha juga menunjukkan fleksibilitas dan kapasitas bisnisnya. Andalan Artha melakukan diversifikasi ke industri nikel sejak Januari 2026. Aksi ini dilakukan melalui perolehan kontrak pengembangan dan operasi penambangan bersama PT Position di Maluku Utara.

"Capaian ini selaras dengan fokus utama Andalan terhadap konsistensi operasional. Perseroan memegang teguh prinsip bahwa kapabilitas menciptakan keunggulan kompetitif, dan keandalan bermula dari pemeliharaan alat berat" imbuh Gahari.

Andalan Artha melihat prospek industri pertambangan nasional masih tumbuh positif seiring berjalannya transisi komoditas dan masifnya hilirisasi. Hal ini membuat konsumsi batubara dan nikel tetap tumbuh konsisten sebagai penopang kebutuhan pembangkit listrik dan transisi energi di Indonesia.   

Gahari meyakini, fundamental industri pada kedua komoditas strategis tersebut akan memicu eskalasi kebutuhan operasional di lapangan. "Dengan rekam jejak yang solid dan ekspansi terukur, Andalan kini menempati posisi strategis untuk memanfaatkan peluang besar serta memenuhi kebutuhan jasa kontraktor pertambangan," tandas Gahari.

Baca Juga: GINSI Soroti Pembatasan Gatepass Priok, Importir Terancam Rugi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: