KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar obligasi Amerika Serikat (AS) tengah mengalami tekanan besar setelah imbal hasil (yield) surat utang pemerintah melonjak ke level tertinggi dalam bertahun-tahun. Lonjakan ini memicu kekhawatiran bahwa volatilitas pasar keuangan dapat menjadi kondisi normal baru seiring perubahan pendekatan komunikasi bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed). Di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, bank sentral mengurangi pemberian panduan (forward guidance) kepada pasar dan lebih mengandalkan data ekonomi sebagai dasar kebijakan. Pendekatan tersebut membuat pelaku pasar harus lebih aktif menafsirkan arah suku bunga dari perkembangan ekonomi dan geopolitik.
Akibatnya, pasar obligasi merespons dengan pergerakan yang jauh lebih tajam. Yield obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sempat naik ke 4,37%, level tertinggi sejak Februari 2025. Sementara itu, yield obligasi acuan tenor 10 tahun mencapai 4,71% pada Kamis, tertinggi sejak Januari 2025.
Baca Juga: Vietnam Perketat Media Sosial, Anak di Bawah 16 Tahun Tak Boleh Posting Konten Adapun yield obligasi tenor 30 tahun naik ke 5,19%, mendekati level yang terakhir kali tercapai pada 2007. Sementara yield riil (real yield) obligasi tenor 30 tahun, yang telah memperhitungkan ekspektasi inflasi, menyentuh 2,98%, tertinggi sejak krisis keuangan global pada 2008.
Konflik Iran dan Lonjakan Harga Minyak Jadi Pemicu
Pemicu utama pelemahan pasar obligasi berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Kepala Strategi Suku Bunga AS TD Securities, Gennadiy Goldberg, menilai aksi jual obligasi mencerminkan penyesuaian cepat ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed setelah harga minyak naik dan ketidakpastian mengenai lamanya konflik Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Ekonomi AS yang masih cukup kuat, ditambah pendekatan komunikasi Kevin Warsh yang lebih minim arahan kepada pasar, turut memperbesar pergerakan yield. "Hal itu sebagian merupakan konsekuensi dari minimnya panduan ke depan dari The Fed yang memang disengaja. Sebagian lagi karena data ekonomi masih relatif kuat dan pasar belum memiliki kejelasan mengenai perkembangan konflik geopolitik," ujar Goldberg.
Yield Riil Jadi Pendorong Utama
Kepala Strategi Pendapatan Tetap Kena Pajak UBS Global Wealth Management, Leslie Falconio, mengatakan kenaikan yield terutama didorong oleh peningkatan yield riil. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan investor sedang menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap tingkat suku bunga akhir (terminal rate) The Fed. "Sebagian besar kenaikan ini sebenarnya berasal dari komponen yield riil yang mencerminkan penyesuaian terhadap tingkat suku bunga akhir The Fed, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang hingga saat ini masih tetap kuat," kata Falconio. Saat ini pasar memperkirakan suku bunga acuan The Fed akan mencapai puncak sekitar 4,23% pada Juni tahun depan, lebih tinggi dibandingkan kisaran saat ini sebesar 3,50% hingga 3,75%.
Baca Juga: China Perketat Pajak Offshore Trust, Aset di Luar Negeri Kini Kena 20% Sebelumnya, peluang kenaikan suku bunga sempat menurun setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai gencatan senjata pada Juni. Namun, kembali memanasnya konflik membuat ekspektasi tersebut berubah lagi sehingga meningkatkan ketidakpastian mengenai langkah The Fed berikutnya.
Pendekatan Baru Kevin Warsh Tingkatkan Volatilitas
Strategi Kevin Warsh berbeda dengan pendahulunya, Jerome Powell. Jika Powell dikenal memberikan sinyal kebijakan secara bertahap agar pasar tidak terkejut, Warsh justru ingin mengurangi ketergantungan pasar terhadap proyeksi The Fed dan mendorong investor lebih fokus pada data ekonomi yang masuk. Strategi ini membuat pergerakan ekspektasi pasar menjadi lebih ekstrem. "Selama delapan tahun di era Powell, pasar terbiasa The Fed tidak ingin memasuki masa blackout komunikasi sebelum rapat kebijakan ketika ekspektasi pasar berbeda dengan arah kebijakan yang akan diambil," ujar Will Compernolle, ahli strategi makro FHN Financial. Ia menambahkan, "Sangat mungkin pandangan Warsh adalah bahwa pasar seharusnya tidak mengikuti setiap pernyataan The Fed secara rinci dari waktu ke waktu." Akibatnya, pasar mengalami perubahan ekspektasi yang sangat cepat. Kontrak berjangka Fed Funds kini mencerminkan peluang 38% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada rapat pekan depan, melonjak dari hanya 12% sepekan sebelumnya. Goldberg mencatat, bahkan jika The Fed memutuskan menahan suku bunga, selisih antara ekspektasi pasar dan keputusan bank sentral akan menjadi yang terbesar kedua dalam satu dekade. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga, maka kesalahan prediksi pasar akan menjadi yang terbesar dalam periode tersebut, melampaui kejutan pemangkasan suku bunga sebesar 50 basis poin pada September 2024.
Kekhawatiran Fiskal Turut Membebani Obligasi
Selain kebijakan The Fed dan harga minyak, pasar juga mencermati kondisi fiskal pemerintah AS. Konflik Iran yang berkepanjangan diperkirakan meningkatkan belanja pertahanan. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut biaya konflik tersebut telah mencapai US$37,5 miliar.
Baca Juga: Uni Eropa Tuduh TikTok Langgar Aturan Keamanan Daring untuk Anak Di sisi lain, Kementerian Keuangan AS dijadwalkan mengumumkan pembaruan rencana pendanaan kuartalan pada 5 Agustus. Investor akan memperhatikan apakah pemerintah menghapus komitmen untuk mempertahankan ukuran lelang obligasi dalam beberapa kuartal ke depan, yang dapat menjadi sinyal peningkatan penerbitan surat utang jangka panjang. Data ekonomi yang relatif minim serta aksi investor menutup posisi yang sebelumnya bertaruh pada penurunan suku bunga juga memperburuk tekanan di pasar obligasi. Meski demikian, Falconio menilai faktor fiskal bukanlah penyebab utama kenaikan yield jangka panjang. "Pendorong utama pergerakan obligasi tenor panjang tetaplah pertumbuhan ekonomi dan inflasi," ujarnya. UBS juga memperkirakan The Fed tidak akan menaikkan suku bunga karena inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak bersifat dari sisi pasokan sehingga kecil kemungkinan menjadi dasar perubahan kebijakan moneter.
Falconio menilai level yield saat ini justru mulai menarik bagi investor karena risiko suku bunga relatif murah dibandingkan aset berisiko seperti kredit maupun saham. Baik Falconio maupun Goldberg juga menilai premi jangka waktu (term premium), yaitu tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk memegang obligasi jangka panjang dibandingkan obligasi jangka pendek, masih berada pada level yang terkendali. Premi obligasi tenor 10 tahun saat ini sekitar 70 basis poin, jauh di bawah puncaknya saat krisis keuangan global. Dengan demikian, arah ekonomi dan kebijakan The Fed diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar obligasi AS. "Masih terdapat sangat banyak ketidakpastian mengenai prospek inflasi ke depan, dan tingkat keyakinan investor saat ini sangat rendah," tutup Goldberg.