KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global masih membayangi iklim usaha dan investasi di Indonesia. Namun, pelaku usaha dinilai tetap memiliki peluang untuk bertahan dan tumbuh apabila mampu memperkuat fondasi internal perusahaan serta adaptif terhadap tekanan eksternal.
Baca Juga: Chandra Asri Perkuat Bisnis Logistik Lewat Konsesi Pelabuhan Business & Executive Coach ActionCOACH Indonesia Yusman Susanto mengatakan, dunia usaha Indonesia telah berulang kali menghadapi krisis besar, mulai dari krisis finansial 2008, pandemi Covid-19, hingga konflik geopolitik global yang masih berlangsung hingga saat ini. “Situasi sekarang memang tidak mudah. Tapi selama 19 tahun saya meng-coaching banyak perusahaan, kami sudah melewati banyak kondisi sulit, mulai dari krisis finansial, Covid-19, sampai perang yang berdampak ke ekonomi global,” ujar Yusman dalam media gathering ActionCoach Indonesia, Selasa (26/5/2026). Menurut dia, perusahaan yang mampu bertahan umumnya adalah pelaku usaha yang fokus mencari solusi, bukan hanya terjebak pada persoalan yang berada di luar kendali. “Banyak hal yang tidak bisa dikendalikan pengusaha, seperti kebijakan politik atau kondisi global. Tapi yang bisa dilakukan adalah mencari cara agar perusahaan tetap berjalan,” katanya.
Baca Juga: Surge (WIFI) Launching Internet Rakyat, Tarif Rp 100 Ribu dengan Kecepatan 100 Mbps Yusman berpendapat, tantangan terbesar perusahaan di Indonesia justru banyak berasal dari sisi internal manajemen. Berdasarkan pengalamannya menangani berbagai sektor, mulai dari manufaktur, distribusi, hingga perusahaan pelayaran, masalah yang kerap muncul antara lain keterlambatan pengiriman, sistem dokumentasi yang belum rapi, laporan keuangan yang belum optimal, hingga isu kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya manusia. “Dari luar perusahaan terlihat baik-baik saja, tapi biasanya orang dalam yang tahu masih banyak yang berantakan di internal,” ujarnya. Ia menegaskan,
business coaching berperan membantu perusahaan memperkuat fondasi internal terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap ekspansi. Setelah sistem internal lebih tertata, perusahaan dinilai akan lebih siap melakukan pertumbuhan bisnis yang lebih agresif. Managing Partner ActionCOACH Jakarta Prijono Nugroho menambahkan, tantangan lain yang sering dihadapi pelaku usaha adalah rendahnya engagement serta ketidaksinkronan antara tim dan visi pemilik usaha.
Baca Juga: Indonesia Jadi Kontributor Utama Pertumbuhan SCG di ASEAN “
Business owner larinya cepat, tapi kalau timnya tidak ikut cepat, akhirnya komunikasi dan eksekusi jadi tantangan,” kata Prijono.
Untuk menjawab tantangan tersebut, ActionCOACH mengembangkan sistem digital bernama Action Digital Plan System yang dirancang membantu perusahaan membangun sistem bisnis yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Di sisi lain, ActionCOACH Indonesia juga memperkenalkan ActionCOACH Business Operating System (ABOS) sebagai bagian dari rebranding global perusahaan. Sistem ini diklaim membantu pemilik bisnis membangun operasional yang lebih terstruktur, akuntabel, dan konsisten. “Selama 33 tahun, ActionCOACH telah memberdayakan para pemilik bisnis di seluruh dunia melalui sistem yang telah terbukti dan pendidikan bisnis yang praktis. Dengan diperkenalkannya ABOS, kami semakin memperkuat komitmen kami untuk membantu para pengusaha Indonesia membangun bisnis yang dapat tumbuh secara konsisten, menciptakan tim yang lebih kuat, serta memberikan kebebasan dan kejelasan yang lebih besar bagi pemilik dalam memimpin perusahaan mereka,” tutup Prijono. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News