Strategi BII mengawasi anak usaha



JAKARTA. Bank Internasional Indonesia (BII) mulai beroperasi pada 15 Mei 1959. Tapi perusahaan ini baru mendapat izin sebagai bank devisa pada tahun 1988. Perlahan, BII tumbuh menjadi salah satu bank besar di Indonesia.

Pada 2008, bank asal Malaysia bernama Malayan Banking Berhard (Maybank) mengakuisisi BII melalui anak usahanya Maybank Offshore Corporate Service (Labuan) Sdn Bhd (MOCS). Sejak saat itu, Maybank menjadi induk dari BII.

Lantaran memiliki sejumlah anak usaha, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun memasukkan BII dalam daftar 50 konglomerasi keuangan yang diawasi regulator itu.


Direktur Utama BII, Taswin Zakaria mengatakan, sesuai ketentuan, Maybank sebagai induk usaha telah menunjuk BII sebagai entitas utama . Sedangkan, anak usaha ada dua perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan yaitu PT BII Finance Center dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk sebagai anak usaha.

Selain dua anak usaha itu, ada pula tiga perusahaan yang masih terafiliasi karena sebagian sahamnya juga dimiliki oleh Maybank. Tiga perusahaan terafiliasi itu adalah Maybank Syariah Indonesia, Maybank Securities dan Maybank Asset Manajemen.

Taswin menjelaskan, tugas utama induk adalah mengkoordinir pelaporan perusahaan anak. Pelaporan ini ada dua yaitu pelaporan manajemen risiko dan pelaporan tata kelola corporate governance. "Selanjutnya dua laporan ini digabungkan menjadi laporan terpadu ke pemegang saham," ujar Taswin.

Induk usaha juga harus memiliki laporan mengenai kebutuhan modal anak perusahaan. Sebab ini akan menjadi bahan perhatian bagi pemegang saham. Taswin bilang, pada dua anak usaha di bidang pembiayaan, BII akan tetap mempertahankan kualitas portofolio dan mempertahankan pangsa pasar. Dua hal itu merupakan salah satu upaya untuk menjaga profitabilitas.

Apalagi dengan kondisi ekonomi yang memburuk berpotensi menggerus kinerja perusahaan dan anak usahanya. "Kami terus memantau modal minimal anak usaha dengan terus melakukan update dan pemantauan," kata dia.

Taswin menambahkan, jika regulator mengharuskan anak usaha mempunyai modal tertentu maka BII akan mencoba penuhi agar sesuai dengan tata kelola yang baik. Sampai akhir 2015,  menurut Direktur Keuangan BII, Thila Nadason, BII akan menjaga agar kinerjanya dua anak usaha ini tetap optimal.

Ia bilang, kinerja dua anak usaha BII pada semester I 2015 cukup baik. Namun kredit di bidang otomotif memang sedang tertekan karena ekonomi sedang lesu.

BII memprediksikan perlambatan ekonomi dan penurunan daya beli masih terjadi pada semester II. Untuk itu, bank yang memiliki dua cabang di luar negeri ini tidak memasang target muluk-muluk.

Pada semester I-2015, Bank BII mencatat kenaikan laba bersih 13,9% menjadi Rp 388 miliar. Sementara, pertumbuhan kredit pada periode sama hanya sebesar 2,4% menjadi Rp 108,5 triliun dari sebelumnya Rp 106 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Havid Vebri