Strategi di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga, Sektor Saham Ini Bisa Jadi Pilihan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perdebatan mengenai kepastian pemangkasan suku bunga Federal Reserve masih berlanjut hingga saat ini. Suku bunga yang lebih rendah dinantikan guna mendorong geliat aktivitas pasar finansial.

Senior Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Samuel Kesuma mengatakan bahwa euforia suku bunga sudah diprediksi bakal menjadi sumber volatilitas di awal tahun mengingat ekspektasi pasar yang cenderung berlebih terhadap besaran penurunan Fed Funds Rate (FFR). Namun, investor masih perlu berhati-hati dalam mengambil posisi yang bertentangan dengan pandangan The Fed.

Manulife Aset cenderung lebih konservatif dalam mengasumsikan penurunan FFR. Semester kedua 2024 dipandang sebagai periode yang lebih aman untuk berasumsi The Fed bisa mulai memangkas suku bunga setelah ada kejelasan kondisi inflasi AS.


Samuel menjelaskan, kemungkinan penurunan suku bunga pada tahun ini relatif lebih besar dibandingkan tahun lalu. Kemungkinan didukung oleh tren disinflasi di AS dan proyeksi The Fed yang menunjukkan akan adanya penurunan suku bunga pada tahun ini dibandingkan tahun lalu yang tidak ada ekspektasi penurunan suku bunga.

Baca Juga: Reksadana Saham dan Pendapatan Tetap Diperkirakan Banyak Diburu pada Tahun 2024

Sebagian besar bank sentral di banyak negara juga sudah bersiap menurunkan suku bunga. Tidak hanya Amerika Serikat (AS), berbagai negara sudah mencapai puncak suku bunga dan menantikan waktu untuk memangkas suku bunga. Suku bunga riil di banyak negara sudah berada pada level positif dan merupakan yang tertinggi dalam rata-rata tiga tahun terakhir, yang mengindikasikan bahwa suku bunga berada pada level restriktif.

Samuel bilang, pelonggaran moneter tentunya akan mendorong normalisasi likuiditas domestik, setelah sebelumnya demi menjaga stabilitas eksternal, Bank Indonesia (BI) melakukan pengetatan likuiditas. Peluang pergeseran ini diperkirakan akan terjadi bersamaan dengan pelonggaran suku bunga The Fed.

“Likuiditas yang membaik dapat memberikan dukungan yang lebih baik terhadap aktivitas perekonomian dan sentimen di pasar finansial,” ungkap Samuel dalam siaran pers, Rabu (22/2).

Bank Indonesia diperkirakan dapat melonggarkan kebijakan moneternya dengan menggunakan alat kebijakan non-suku bunga, seperti menurunkan Giro Wajib Minimum sebelum mulai menurunkan suku bunga BI. Secara historis penurunan GWM terjadi sebelum siklus penurunan suku bunga BI seperti pada tahun 2015 dan 2019.

Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi Bisa Capai Rp 148,15 Triliun, Permintaan Diramal Naik

Menyoal hasil pemilihan umum (pemilu), Samuel melihat pasar menyambut positif hasil hitung cepat (quick count). Investor pasar saham, terutama investor asing, umumnya lebih menyukai pemimpin baru yang melanjutkan kebijakan pemerintahan sebelumnya. Hal ini disebabkan preferensi investor untuk kestabilan dan minimnya risiko dari perubahan kebijakan yang ekstrem.

“Pemilu yang diperkirakan akan berlangsung satu periode juga dipersepsi positif bagi ekonomi karena memperbesar potensi komitmen dana investasi langsung tahun ini,” ujar Samuel.

Ke depannya, Samuel mengatakan, investor akan memonitor rencana kebijakan ekonomi dan calon anggota kabinet dari pemerintahan yang baru untuk memprediksi arah pertumbuhan ekonomi di tahun-tahun mendatang.

Adapun di tengah kondisi global yang dinamis, MAMI mengambil posisi yang berimbang pada konstruksi portofolio, mengombinasikan elemen potensi katalis jangka pendek, defensif, dan potensi struktural jangka panjang.

Guna memanfaatkan katalis jangka pendek, Manulife Aset memperbesar alokasi pada sektor yang diuntungkan dari pemangkasan suku bunga seperti di perbankan, properti, menara telekomunikasi, dan konsumer non-primer.

Baca Juga: Suku Bunga Belum Turun, Biaya Dana Perbankan Kian Menanjak

Sebagai porsi defensif, MAMI mengunggulkan sektor telekomunikasi, karena karakteristik industri cenderung resilient mengingat data merupakan kebutuhan pokok. Selain itu, konsolidasi industri memungkinkan bagi emiten untuk menaikkan harga data secara gradual yang positif bagi margin.

Samuel melanjutkan, MAMI mempertahankan posisi di sektor yang berhubungan dengan bahan baku untuk industri energi baru terbarukan. Sebab, transisi menuju era dekarbonisasi menguntungkan bagi Indonesia yang kaya akan komoditas yang digunakan dalam teknologi energi baru terbarukan.

“Di samping itu kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali,” tandas Samuel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati