KONTAN.CO.ID - Produsen otomotif asal China Chery memasang ambisi besar dalam ekspansi global dengan mengusung strategi “double T”, yakni menggabungkan kekuatan kualitas ala Toyota dan inovasi teknologi seperti Tesla. Ketua Chery Yin Tongyue mengatakan, strategi tersebut bertujuan menghadirkan kendaraan dengan kualitas tinggi untuk menjaga loyalitas pelanggan jangka panjang, sekaligus menawarkan teknologi canggih guna menarik konsumen muda.
Baca Juga: Tekanan Margin Pangkas Nafsu China Borong Minyak Iran “Strategi kami adalah Toyota plus Tesla,” ujar Yin dalam wawancara di kantor pusat Chery di Wuhu, China dilansir
Reuters Rabu (29/4/2026). Ekspansi ke Eropa, Bidik Produksi Lokal Sebagai eksportir mobil terbesar dari China, Chery kini memperluas jejaknya ke pasar Eropa. Perusahaan tengah mempertimbangkan penambahan kapasitas produksi di Barcelona, Spanyol, melalui kerja sama dengan mitra lokal di bekas pabrik Nissan. Selain itu, Chery juga membuka peluang kolaborasi dengan produsen mobil Eropa untuk berbagi fasilitas produksi.
Baca Juga: Ukraina Perluas Jangkauan Serangan ke Rusia, Targetkan Infrastruktur Energi Langkah ini dinilai lebih efisien dibandingkan mengandalkan ekspor dari satu negara ke negara lain dalam skala besar. “Kami bisa berbagi keuntungan dan model,” kata Yin, menegaskan pendekatan kolaboratif dalam ekspansi global. Penjualan Melonjak, Tantang Raksasa Industri Kinerja Chery terus menunjukkan tren positif. Pada 2025, perusahaan berhasil menjual 2,8 juta unit kendaraan secara global, naik hampir 8% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, angka tersebut masih di bawah pesaing domestiknya, BYD, yang mencatat penjualan 4,6 juta unit dan menjadi produsen mobil terbesar kelima di dunia. Lonjakan penjualan global Chery bahkan hampir empat kali lipat dalam periode 2020 hingga 2025, mencerminkan agresivitas ekspansi perusahaan di pasar internasional.
Baca Juga: Jerman Setujui Kerangka Anggaran 2027, Fokus Perkuat Infrastruktur dan Pertahanan Andalkan SUV, Kembangkan Model Kecil Selama ini, Chery sangat mengandalkan segmen SUV. Dari total penjualan global tahun lalu, sekitar 2,3 juta unit merupakan kendaraan jenis tersebut. Salah satu model andalannya, Jaecoo 7, bahkan sempat menjadi mobil terlaris di Inggris pada Maret. Namun, untuk menyesuaikan dengan preferensi pasar global khususnya Eropa, Chery mulai mengembangkan model kendaraan yang lebih kecil. Strategi ini dinilai penting mengingat konsumen Eropa cenderung lebih menyukai mobil kompak dibandingkan pasar China.
Baca Juga: Saham Robinhood Anjlok 10%, Lesunya Kripto Tekan Volume Transaksi Dorong Brand Global Baru Chery juga memperkuat ekspansi melalui peluncuran dua merek internasional baru, Omoda dan Jaecoo, pada 2023. Kedua brand tersebut mencatat penjualan gabungan 380.000 unit pada tahun lalu. Ke depan, perusahaan menargetkan penjualan Omoda dan Jaecoo menembus 1 juta unit pada 2027, sebagai bagian dari strategi memperluas penetrasi global.
Baca Juga: ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Asia, Dampak Perang Timur Tengah Kian Dalam Hadapi Persaingan Ketat di Dalam Negeri
Di pasar domestik, Chery menghadapi persaingan sengit di tengah perang harga antar lebih dari 100 merek otomotif di China. Meski demikian, Yin meyakini industri otomotif China akan segera mengalami konsolidasi besar. “Dalam beberapa tahun ke depan, mungkin hanya sedikit pemain yang bisa bertahan dan tetap sehat,” ujarnya. Dengan kombinasi strategi kualitas, inovasi, serta ekspansi global berbasis produksi lokal, Chery berupaya memperkuat posisinya sebagai pemain utama di industri otomotif dunia.