KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Intermedia Capital Tbk (
MDIA) mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan kinerja di tengah transformasi bisnis yang tengah dijalankan perseroan. Manajemen menegaskan, arah strategi ke depan akan bertumpu pada empat pilar utama guna menjaga pertumbuhan berkelanjutan. Direktur Utama Intermedia Capital Ahmad Rahadian Widarmana mengungkapkan, empat pilar tersebut meliputi penguatan konten berkualitas, diversifikasi pendapatan, ekspansi engagement, serta efisiensi operasional.
“Empat pilar strategi komprehensif ini merupakan peta jalan kami untuk tetap kompetitif dan adaptif dalam industri media yang terus berkembang,” ujarnya dalam paparan publik secara daring, Selasa (28/4/2026). Dari sisi konten, perseroan berfokus pada pengembangan dan akuisisi konten yang relevan di berbagai platform. Sementara itu, diversifikasi pendapatan dilakukan dengan memperluas distribusi konten ke platform di luar media konvensional.
Baca Juga: Saham Intermedia (MDIA) Disuspensi, Manajemen Buka Suara Sebut Mekanisme Wajar Perseroan juga mendorong peningkatan interaksi dengan pemirsa melalui penguatan kanal digital dan aktivitas off-air. Di saat yang sama, efisiensi operasional terus dijalankan untuk menjaga stabilitas kinerja jangka panjang. Tak hanya itu, MDIA juga mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam operasional, khususnya untuk meningkatkan efisiensi produksi dan analitik secara real time. Dari sisi kinerja keuangan, hingga sembilan bulan pertama 2025, pendapatan MDIA tercatat Rp465,3 miliar, turun 3,8% secara tahunan (yoy). Namun, profitabilitas menunjukkan perbaikan signifikan. Laba usaha melonjak 224,4% menjadi Rp97,2 miliar, didorong oleh efisiensi biaya, di mana beban program dan penyiaran turun 16,8% serta beban umum dan administrasi turun 21,2%. EBITDA juga tumbuh 107,2% menjadi Rp135 miliar. Meski demikian, perseroan masih mencatatkan rugi bersih Rp10,9 miliar akibat rugi selisih kurs sebesar Rp58,2 miliar.
Baca Juga: Prospek Saham CITY, MDIA, DPUM Usai Suspensi Dibuka BEI Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, perbaikan fundamental MDIA mulai terlihat lebih solid, salah satunya tercermin dari kenaikan TV share ANTV ke level 7,2%. “Hal ini mengindikasikan strategi konten mulai menunjukkan hasil dan berpotensi menjadi awal pemulihan pendapatan, meski konsistensinya masih perlu diuji,” jelasnya. Ia menambahkan, fokus perseroan pada segmen pemirsa perempuan (female-oriented audience) dinilai efektif dalam meningkatkan engagement, mengingat segmen ini merupakan target utama pengiklan, khususnya sektor FMCG. Selain itu, dominasi pemirsa dari luar Jawa seperti Sumatra, Kalimantan, hingga Bali dan Nusa Tenggara juga menjadi nilai tambah bagi MDIA di tengah persaingan industri media. “Basis ini relevan bagi pengiklan dengan distribusi nasional dan berpotensi mendorong belanja iklan di pasar tier-2 dan tier-3,” tambahnya.
Meski demikian, pergerakan saham MDIA masih menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat menyentuh level tertinggi Rp156 per saham pada 22 April 2026, saham ini mengalami koreksi pasca penghentian sementara perdagangan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurut Sukarno, kondisi ini bisa menjadi sinyal pembalikan arah setelah kenaikan signifikan sebelumnya. Dengan mempertimbangkan faktor teknikal, ia merekomendasikan trading sell untuk jangka pendek dengan target harga Rp110 per saham. “Namun untuk jangka menengah, jika ada katalis kuat dan sinyal teknikal kembali positif, saham ini berpotensi naik dengan target harga hingga Rp190,” tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News