KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan ada 21 fintech peer to peer (P2P) lending yang memiliki tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 di atas 5% per November 2024. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan jumlahnya didominasi oleh penyelenggara yang fokus di sektor produktif. Terkait hal itu, sejumlah fintech lending di sektor produktif yang memiliki TWP90 di bawah 5% mengungkapkan strategi dalam menekan tingkat kredit macet agar tak membengkak.
Misalnya, fintech peer to peer (P2P) lending PT Akselerasi Usaha Indonesia yang terus menerapkan asessment pinjaman secara prudent. Dengan demikian, Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan menyebut upaya itu juga yang membuat TWP90 berada di bawah 1% sampai saat ini. Baca Juga: OJK Catat Kenaikan Porsi Pembiayaan Fintech ke Sektor Produktif per November 2024 Dalam memberikan pembiayaan ke sektor produktif, Ivan mengungkapkan perusahaan juga berupaya menganalisis cashflow calon peminjam hingga kapasitas cash flow yang bisa menopang pinjaman. Ditambah juga mengecek credit history calon peminjam. "Hal itu yang membuat kami bisa memitigasi risiko kredit dengan baik secara konsisten, sehingga dari 2020 TWP90 kami stabil di bawah 1%," ucapnya kepada Kontan, Rabu (8/1). Sementara itu, fintech P2P lending Modalku menyatakan sejumlah strategi yang diterapkan selama ini berkontribusi besar untuk menekan tingkat TWP90 tak membengkak. Bahkan, upaya yang dilakukan telah membuat TWP90 Modalku menjadi membaik. Tercatat, TWP90 Modalku per 8 Januari 2024 berada di level 1,47%. Angka itu mengalami perbaikan, jika dibandingkan posisi November 2024 yang sebesar 3,9%. Country Head Modalku Indonesia Arthur Adisusanto menyebut hal itu mencerminkan hasil positif dari upaya berkelanjutan Modalku dalam mengelola risiko kredit secara lebih efektif. "Mulai dari penerapan proses penilaian kredit yang lebih ketat hingga manajemen risiko yang lebih baik," ucapnya kepada Kontan, Rabu (8/1). Baca Juga: AFPI Optimistis Penyaluran Pembiayaan Fintech Lending ke Produktif Terus Meningkat Lebih lanjut, Arthur melihat tingkat wanprestasi atau gagal bayar lebih bergantung pada faktor-faktor yang memengaruhi usaha para borrower, seperti manajemen keuangan, cash flow, dan kapasitas pembayaran yang terlepas dari usia. Dia menyampaikan Modalku akan terus berupaya memastikan proses penilaian risiko yang komprehensif untuk meminimalkan potensi kredit macet di semua kategori borrower. Selain itu, untuk menekan angka TWP90, Modalku juga mengutamakan kesehatan portofolio, sehingga secara konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian (prudential norm) dan manajemen risiko dalam pendanaan sebagai strategi mitigasi risiko. "Kami juga menyempurnakan kriteria penilaian kelayakan penerima dana secara berkala melalui kalibrasi berkala berdasarkan data historis penyaluran dan pengembalian, berlandaskan prinsip Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral (5C) sesuai SEOJK Nomor 19 Tahun 2023," tuturnya. Baca Juga: Pengamat: Pembiayaan Fintech Lending di Sektor Produktif Berisiko Tinggi