KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jelang tahun ajaran baru Juni 2026, perusahaan gadai diprediksi akan mengalami pertumbuhan permintaan gadai. Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Gadai ValueMax Indonesia, Brian Wiraatmadja yang mengatakan bahwa tahun ajaran baru jadi salah satu periode puncak aktivitas bisnis bagi industri gadai. Selain itu, periode ini merupakan momen ketika kebutuhan dana masyarakat meningkat, terutama untuk kebutuhan biaya pendidikan, uang pangkal dan registrasi, perlengkapan sekolah, maupun kebutuhan lainnya.
"Menjelang tahun ajaran baru, kami melihat permintaan gadai memang berpotensi meningkat," katanya kepada Kontan, Kamis (4/6/26).
Baca Juga: Budi Gadai Targetkan Pertumbuhan Bisnis 20% pada Tahun 2026 Dengan kondisi tersebut, gadai dipandang sebagai salah satu solusi pembiayaan jangka pendek yang cepat dan mudah diakses. Secara historis, aktivitas gadai cenderung meningkat saat menjelang dan pada awal tahun ajaran baru. Namun, besaran peningkatan berbeda setiap tahun karena sangat bergantung pada kondisi ekonomi masyarakat, tingkat konsumsi rumah tangga, dan faktor lainnya. Di tahun ini, Brian melihat peluang pertumbuhan tersebut masih tetap terbuka. Apalagi kebutuhan pembiayaan masyarakat terbilang masih tinggi serta harga emas ada pada level yang relatif baik. Ditambah, bunga bank mengalami peningkatan sehingga masyarakat membutuhkan solusi pendanaan jangka pendek yang lebih praktis. Namun, kata Brian, pihaknya masih mencermati kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat agar pertumbuhan dapat dikelola secara realistis dan berkelanjutan. "Kami tetap mencermati perkembangan ekonomi dan daya beli masyarakat dari kemampuan pembayaran sewa modal dan bunga," tegasnya.
Baca Juga: Di Tengah Gejolak Ekonomi, Gadai Barang Mewah Jadi Alternatif Likuiditas Crazy Rich Selain itu, untuk menghadapi potensi lonjakan permintaan, ada sejumlah upaya yang telah dipersiapkan. Mulai dari memastikan kecukupan likuiditas kas, meningkatkan kesiapan operasional cabang, dan memperkuat kualitas pelayanan nasabah. Di sisi lain, perusahaan juga melakukan penguatan kinerja karyawan agar menerapkan prinsip kehati-hatian dalam pelaksanaan penaksiran barang jaminan dan pembiayaan. Langkah ini dilakukan agar pembiayaan bisa tetap tumbuh
prudent dan sehat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News