Strategi Garuda Indonesia (GIAA) di tengah lesunya bisnis penerbangan



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kinerja industri penerbangan tahun ini diprediksi loyo. Hal tersebut akibat dari dampak penyebaran virus corona secara global, termasuk di Indonesia.

PT Garuda Indonesia (GIAA) pun mengakui adanya lockdown atawa karantina wilayah dan pembatasan kedatangan menyebabkan perusahaan maskapai penerbangan terpuruk.

Perusahaan pelat merah ini pun melihat pendapatannya bakal terganggu dengan adanya wabah virus corona ini. Terlebih sejumlah penerbangan sudah dihentikan sementara.


Baca Juga: Staf Khusus Jokowi minta maaf karena surati camat bantu perusahaannya perangi corona

"Kalau ditanya ada kerugian sudah pasti ada, tapi seperti saya selalu bilang, kami di direksi di manajemen selalu berupaya untuk membereskan, mencari cara apa yang bisa kami lakukan ke depan," ujar Irfan kepada kontan.co.id, Kamis (16/4).

Irfan pun enggan menyebut secara detail berapa besaran penurunan pendapatannya yang bakal dialami Garuda Indonesia. Namun, perusahaan BUMN ini terus melakukan berbagai upaya demi menahan penurunan pendapatan lebih lanjut.

Garuda Indonesia mulai menetapkan sejumlah langkah dalam mengantisipasi industri aviasi yang terserang dampak langsung dari virus corona.

Salah satunya dengan menaikkan volume kargo di tengah tingkat keterisian pesawat atau load faktor yang rendah. Selain itu juga mulai mengalihkan layanan sewa atau charter pesawat.

Baca Juga: Kedubes AS: Pesan untuk seluruh warga AS di Indonesia, segera pulang sekarang!

Irfan mengatakan telah mengadakan pembicaraan dengan sejumlah pemain kargo untuk menaikkan volume kargo di tengah tingkat keterisian pesawat atau load faktor yang rendah. Selain itu juga mulai mengalihkan layanan sewa atau charter pesawat.

“Betul, Kami lagi bicara dengan sesama para pemain kargo. Kami juga menawarkan charter, dan kami mulai ada penerbangan yang tanpa penumpang,” jelasnya.

Editor: Noverius Laoli