KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Investor perlu lebih selektif dalam menyusun strategi portofolio di tengah dinamika pasar keuangan domestik dan global. Pergerakan IHSG yang masih fluktuatif, diikuti perubahan yield obligasi dan arus dana asing, membuat pendekatan investasi yang adaptif menjadi semakin penting. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,37% secara harian ke level 6.501 pada Senin (24/8/2026). Di sisi lain, berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,97%. Founder Traderindo, Wahyu Laksono menjelaskan, terdapat sejumlah strategi investasi yang dapat dilakukan investor untuk menghadapi dinamika pasar tersebut.
Pertama, Tactical Asset Allocation (Rotasi Sektoral & Instrumen). Strategi ini dilakukan dengan mengalihkan sebagian porsi kas ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) tenor menengah-panjang untuk mengunci imbal hasil (capital gain) di tengah tren penurunan yield dan penguatan rupiah. Kedua, buy on weakness pada saham berfundamental solid. Menurut Wahyu, tekanan jual akibat passive fund outflow sering kali menciptakan mispricing pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) atau dividend aristocrat dengan valuasi yang terdiskon tajam di luar faktor fundamental bisnis. Ketiga, Dollar-Cost Averaging (DCA), yakni melakukan akumulasi secara bertahap pada indeks saham atau reksa dana saham untuk meredam volatilitas jangka pendek selama periode efektif rebalancing FTSE. Keempat, investor dapat memanfaatkan instrumen moneter atau kas, seperti instrumen pasar uang maupun SRBI, sebagai likuiditas taktis yang tetap memberikan imbal hasil kompetitif sembari menunggu stabilitas pasar ekuitas.
Baca Juga: Bitcoin Menguat 26% Sepekan, Investor Diimbau Tak Terburu-buru All-in “Divergensi antara arus keluar dana pasif ekuitas akibat rebalancing indeks dan penguatan pasar obligasi/rupiah menuntut pendekatan investasi yang adaptif dan terukur,” ucap Wahyu kepada Kontan, Senin (24/8/2026).
Prospek Reksadana di Tengah Volatilitas Pasar
Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri mencatat total net buy pasar saham mencapai Rp 1,2 triliun dalam sepekan terakhir setelah mencatat net sell pada awal pekan dan sekaligus memperbesar posisi net buy hingga Rp 1,35 triliun sepanjang Agustus. Meski demikian, sustainability rally masih perlu dikonfirmasi karena kenaikan harga minyak dan US Treasury yield dapat kembali menekan risk appetite global. Selain itu, apabila minyak mentah Brent terus menguat, tekanan terhadap biaya input dan ekspektasi inflasi dapat membatasi ruang kenaikan sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga dan konsumsi domestik. Sementara terkait mutual fund, Novani melihat kondisi pasar mulai mendukung pergeseran dari defensive positioning menuju selective risk taking, tetapi belum cukup kuat untuk mengambil risiko secara agresif. Menurutnya, reksadana pasar uang (RDPU) masih relevan sebagai liquidity anchor karena mempertahankan stabilitas dan optionality. Sementara reksadana pendapatan tetap (RDPT) tetap menarik melalui carry dan potensi capital gain. Ia bilang, investor moderat dapat mempertahankan indikasi alokasi sekitar RDPU 40%, RDPT 40%, dan reksadana saham (RDS) 20%, dengan penambahan RDS dilakukan bertahap apabila foreign inflow berlanjut dan rupiah tetap stabil. “Secara benchmark dan risk-adjusted, fixed income masih menawarkan carry yang relatif menarik dibandingkan volatilitas saham, sehingga peningkatan equity allocation sebaiknya baru dipercepat apabila potensi excess return saham semakin jelas, foreign flow tetap positif, dan tidak muncul tekanan baru pada rupiah, harga minyak, maupun global yield,” jelas Novani.
Ray Dalio Soroti Risiko Utang AS
Di tengah dinamika pasar global, investor kawakan Ray Dalio menyoroti risiko krisis utang yang mengintai Amerika Serikat (AS). Ia bilang saat ini pemerintah AS mengalokasikan belanja negara sekitar 40% lebih besar dari pendapatannya. Sementara kemampuan untuk memangkas pengeluaran sangat terbatas karena hampir semua pengeluaran telah dialokasikan sebelumnya atau merupakan pengeluaran yang dianggap penting. Jika kondisi tersebut terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan, Ray Dalio memperkirakan pembayaran pokok dan bunga utang AS dapat mencapai sekitar US$ 11 triliun atau sekitar 200% dari pendapatan tahunannya.
Baca Juga: Bitcoin dan Ethereum Berpotensi Menguat, Ini Katalis Pasar Kripto hingga Akhir 2026 “Sebagian besar perekonomian memiliki masalah utang dan defisit yang serupa,” ucap Ray dikutip dari laman Linkedinnya pada Jumat (21/8/2026). Ray bilang, Inggris, Uni Eropa, Tiongkok, dan Jepang juga memiliki permasalahan utang dan defisit. Itulah mengapa Ia memperkirakan proses penyesuaian utang dan devaluasi mata uang yang serupa akan terjadi di sebagian besar perekonomian. Sebab itu Ray memperkirakan uang yang tidak diproduksi pemerintah seperti emas dan Bitcoin akan berkinerja relatif baik. “Sebagai saran umum, saya menyarankan untuk melakukan diversifikasi yang baik dalam kelas aset dan negara-negara yang memiliki laporan laba rugi dan neraca yang kuat serta tidak mengalami konflik politik internal dan geopolitik eksternal yang besar, mengurangi bobot aset utang seperti obligasi, dan meningkatkan bobot emas dan sedikit Bitcoin. Memiliki persentase kecil—mungkin 10%-15%—dari uang seseorang dalam emas dapat mengurangi risiko portofolio, dan saya pikir itu juga akan meningkatkan imbal hasilnya,” ucap Ray Dalio.
Sentimen yang Perlu Dicermati Investor
Wahyu mengatakan sejumlah sentimen kunci akan mempengaruhi pertimbangan investor ke depan. Salah satunya adalah arah kebijakan suku bunga global dan domestik. Prospek pelonggaran moneter bank sentral global, termasuk The Fed, serta ruang penurunan BI-Rate seiring melandainya inflasi dan stabilnya rupiah akan menjadi perhatian investor. Selain itu, investor perlu mencermati pergerakan nilai tukar rupiah, dinamika defisit transaksi berjalan dan aliran dana asing (foreign flow). Faktor lainnya adalah likuiditas dan free float emiten, termasuk kebijakan kepatuhan batas minimum free float bursa domestik serta potensi penyesuaian bobot pada indeks global lainnya seperti MSCI. Pertumbuhan laba korporasi (Earnings Growth) juga menjadi faktor penting. Kinerja keuangan kuartalan emiten domestik diperlukan untuk memvalidasi apakah valuasi saham saat ini telah mencapai level terendahnya (bottoming out). Investor juga perlu memperhatikan stabilitas makroekonomi dan fiskal, termasuk realisasi belanja APBN, target penerimaan negara, serta daya beli konsumen domestik.
Strategi Investasi Berdasarkan Profil Risiko
Untuk investor konservatif dengan fokus pada preservasi modal dan pendapatan tetap, Wahyu menyarankan alokasi 50% portofolio pada SBN atau obligasi korporasi. Porsi terbesar tersebut dapat dialokasikan pada instrumen pendapatan tetap tenor pendek hingga menengah untuk mengamankan imbal hasil yang stabil saat yield obligasi mulai melandai. Kemudian, 35% dapat ditempatkan pada pasar uang, deposito, atau SRBI. Porsi tersebut berfungsi menjaga likuiditas guna memitigasi fluktuasi pasar sekaligus mempertahankan nilai pokok investasi dari volatilitas jangka pendek. Sebanyak 10% dapat ditempatkan pada saham atau reksa dana saham. Alokasi ini dapat difokuskan pada saham berkapitalisasi besar (blue chip) dengan fundamental kuat dan dividen stabil untuk menjaga daya beli terhadap inflasi. Sementara 5% sisanya dapat dialokasikan pada emas atau komoditas alternatif sebagai instrumen lindung nilai (hedging) terhadap ketidakpastian pasar global.
Baca Juga: Menakar Prospek dan Rekomendasi Saham Lapis Kedua di Sisa Tahun 2026 Bagi investor moderat yang mengutamakan keseimbangan pertumbuhan dan stabilitas, Wahyu menyarankan 45% portofolio ditempatkan pada SBN atau obligasi korporasi. Instrumen tersebut menjadi jangkar portofolio untuk menangkap potensi capital gain dari tren penurunan yield obligasi dan penguatan nilai tukar rupiah. Selanjutnya, 30% dapat ditempatkan pada saham atau reksa dana saham untuk memanfaatkan momentum koreksi akibat rebalancing indeks global melalui akumulasi bertahap (dollar-cost averaging) pada saham-saham berfundamental solid. Pasar uang, deposito, atau SRBI dapat memperoleh porsi 15% sebagai cadangan likuiditas taktis untuk kebutuhan darurat maupun eksekusi buy on weakness ketika volatilitas pasar saham meningkat. Sementara emas atau komoditas alternatif sebesar 10% dapat digunakan sebagai instrumen diversifikasi untuk meredam potensi guncangan terhadap portofolio secara keseluruhan. Adapun bagi investor agresif yang berfokus pada pertumbuhan modal jangka panjang, Wahyu menyarankan 60% portofolio ditempatkan pada saham atau reksa dana saham. Porsi dominan pada instrumen ekuitas tersebut ditujukan untuk memaksimalkan potensi pemulihan valuasi saham (rebound) setelah tekanan jual dana pasif global.
Kemudian, 20% dapat dialokasikan pada SBN atau obligasi korporasi, khususnya obligasi tenor menengah-panjang, guna menangkap potensi apresiasi harga obligasi di tengah tren pelonggaran moneter. Sebanyak 10% dapat ditempatkan pada pasar uang, deposito, atau SRBI sebagai likuiditas siap pakai untuk memanfaatkan peluang beli cepat (tactical entry) ketika terjadi penurunan harga ekstrem (market dip). Adapun 10% sisanya dapat dialokasikan pada emas atau komoditas alternatif sebagai aset lindung nilai pelengkap untuk menjaga volatilitas portofolio tetap terkendali. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News