KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT LG Sinarmas Technology Solutions atau LG Sinar Mas (LGSM) menyiapkan sejumlah strategi untuk menangkap peluang dari industri pusat data (data center) yang terus berkembang. Tak hanya merancang ekspansi di dalam negeri, LGSM juga melirik peluang untuk melebarkan sayap bisnis ke pasar regional. LGSM merupakan perusahaan patungan yang didirikan pada tahun 2024 antara Sinar Mas melalui PT SMPlus Digital Investama (SM+) bersama dengan perusahaan asal Korea Selatan, LG CNS Co. Ltd. Adapun, SM+ merupakan perusahaan infrastruktur dan layanan digital yang beroperasi di bawah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (
DSSA), pilar bisnis energi dan infrastruktur dari grup konglomerasi Sinar Mas.
Chief Operating Officer LG Sinar Mas Ariawan mengungkapkan bahwa LGSM bergerak dalam penyediaan solusi dan layanan Teknologi Informasi (TI) inovatif. Dalam melihat peluang pasar, LGSM tidak hanya memandang data center sebagai infrastruktur fisik, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem teknologi enterprise yang lebih luas.
Baca Juga: Dorong Hilirisasi Perkebunan, Pemerintah Siap Salurkan Varietas Unggul Sebagai
system integrator dengan kapabilitas
end-to-end, LGSM memiliki pemahaman dari dua sisi.
Pertama, kebutuhan infrastruktur data center yang
reliable, scalable, dan
secure.
Kedua, kebutuhan teknologi dan bisnis pelanggan yang berjalan di atas infrastruktur tersebut. Termasuk cloud, Artificial Intelligence (AI), aplikasi
enterprise, dan operasional digital. LGSM mengusung strategi untuk memperkuat kapabilitas
design, build, and operation dengan membawa pengalaman dan standar
engineering LG CNS, termasuk dalam pengelolaan fasilitas
mission-critical berskala besar. Adapun, LG CNS memiliki pengalaman luas dalam melayani kebutuhan
hyperscaler dan
enterprise. Sementara itu, Sinar Mas memberikan pemahaman pasar, local context, dan ekosistem operasional di Indonesia. Ariawan menyatakan bahwa kombinasi tersebut memungkinkan LGSM mendukung kebutuhan pelanggan yang membutuhkan standar global, tetapi tetap membutuhkan eksekusi yang relevan dengan kondisi lokal. "Dengan kapabilitas tersebut, tidak menutup kemungkinan LGSM ke depan dapat mendukung kebutuhan data center secara lebih luas, baik untuk pasar Indonesia maupun peluang regional, sesuai dengan perkembangan kebutuhan pelanggan dan strategi bisnis perusahaan," ungkap Ariawan melalui keterangan yang disampaikan kepada Kontan.co.id, belum lama ini. Ariawan menyoroti bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan cloud, AI, data
sovereignty, dan transformasi
digital enterprise yang semakin tinggi. Pasar Indonesia pun terbuka bagi pemain global maupun lokal, yang dapat menciptakan ekosistem kompetitif dan sehat bagi pertumbuhan industri data center. Pada saat yang sama,
hyperscaler global sudah hadir dan semakin serius melihat potensi Indonesia.
Baca Juga: Kemendag Tetapkan HPE Emas Turun di Periode Juni 2026 "Namun tetap membutuhkan
local context, local support, serta mitra yang memahami aspek infrastruktur, regulasi, utilitas, dan operasional di lapangan," imbuh Ariawan. Di tengah prospek pertumbuhan industri data center yang kuat di Indonesia, arah pengembangan LGSM akan tetap mempertimbangkan
real demand, kesiapan ekosistem pendukung, serta kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara
speed, cost, dan
resiliency. Ariawan mengungkapkan, diferensiasi LGSM terletak pada kemampuan melihat rantai proses secara
end-to-end: dari
design, build, power and utilities planning, hingga operasi. Dengan demikian, aspek operasional tidak dipikirkan di tahap akhir, tetapi sudah dibangun sejak awal desain. "Ke depan, kami akan terus memperkuat kapabilitas data center baik dari sisi
engineering, operational readiness maupun
managed operation, sejalan dengan rencana pengembangan ekosistem data center SM+ setelah SMX01 rampung," ungkap Ariawan.
Progres Data Center SMX01
Saat ini, LGSM terlibat dalam pembangunan SMX01, data center AI-ready dengan konektivitas di kawasan pusat bisnis Jakarta. SMX01 merupakan hasil kerja sama antara SM+ bersama dengan mitra usaha patungannya, yakni Korea Investment Real Asset Management (KIRA). Dalam proyek data center ini, LGSM berperan sebagai mitra perancang, teknologi dan operator. LGSM mendukung aspek perancangan teknis, kesiapan operasional, serta standar pengelolaan data center. Proyek fasilitas data center dengan nilai investasi lebih dari US$ 300 juta ini telah mencapai tahap topping-off pada 8 Mei 2026. Ariawan menyatakan, pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa SMX01 terus bergerak menuju tahap Ready for Service (RFS) yang ditargetkan pada kuartal IV-2026. "Sejauh ini pembangunan SMX01 tetap berjalan sesuai rencana dan kami optimistis target
ready for service pada kuartal IV-2026 dapat dicapai," tegas Ariawan. SMX01 dirancang dengan kapasitas 18 MW IT load, dan memiliki kapasitas hingga sekitar 2.400 racks. Kapasitas tersebut dapat ditingkatkan hingga 60 MW karena fasilitas ini dirancang secara modular dan scalable, termasuk kemampuan untuk mendukung
high-density racks hingga sekitar 130 kW per rack yang dilengkapi dengan sistem pendingin terkini.
Baca Juga: Di Tengah Krisis Energi Global, Indonesia Perlu Cari Titik Seimbang Harga dan Pasokan "Kami melihat proyek ini sebagai bagian dari kontribusi jangka panjang terhadap penguatan infrastruktur digital Indonesia, terutama dalam mendukung kebutuhan ekonomi digital, cloud, AI, dan
enterprise workload yang terus berkembang," terang Ariawan. Dari aspek keberlanjutan, Ariawan mengungkapkan prioritas utama dalam pengelolaan data center adalah efisiensi energi. SMX01 dirancang dengan target Power Usage Effectiveness (PUE) 1,15, yang mencerminkan standar efisiensi tinggi dan sejalan dengan ekspektasi global
hyperscaler dan standar keberlanjutan terbaik.
"Dengan desain yang lebih efisien, konsumsi energi dapat ditekan tanpa mengurangi aspek
reliability, scalability, dan
performance yang dibutuhkan oleh pelanggan
enterprise maupun
cloud-scale," imbuh Ariawan. SMX01 melirik peluang dari sektor-sektor bisnis yang membutuhkan infrastruktur digital berskala besar, aman, andal, serta siap mendukung pertumbuhan AI,
cloud dan
enterprise workload. Saat ini, Ariawan mengatakan bahwa SMX01 sudah menarik minat calon
tenant dari institusi global maupun lokal. "Minat tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan data center yang mampu mendukung
workload AI dan
cloud berkapasitas besar, yang menggunakan teknologi pendingin terkini dan perangkat pengelola tenaga listrik yang efisien," tandas Ariawan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News