Strategi Mayora Indah (MYOR) Hadapi Pelemahan Daya Beli Masyarakat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perlambatan konsumsi masyarakat menjadi tantangan bagi emiten sektor barang konsumsi, termasuk PT Mayora Indah Tbk (MYOR).

Berdasarkan data Mandiri Spending Index (MSI), rata-rata pertumbuhan belanja masyarakat tercatat sebesar 6,1% secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II-2026. Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,4% YoY pada kuartal I-2026.

Menanggapi kondisi tersebut, manajemen MYOR mengaku masih mencermati perkembangan daya beli masyarakat serta dampaknya terhadap pola pengeluaran dan permintaan konsumen.


Manajemen MYOR menyampaikan pelemahan daya beli umumnya membuat konsumen menjadi lebih sensitif terhadap harga. Untuk itu, MYOR mengandalkan penjualan produk dalam kemasan satuan (single pack) dengan harga yang lebih terjangkau.

Baca Juga: Beban Biaya Berpotensi Menyusut, Saham ANTM, INCO, AMMN, dan TINS Masih Prospektif

"Pada umumnya bila daya beli masyarakat menurun, masyarakat menjadi lebih sensitif terhadap harga. Jadi, strategi kami adalah kami lebih banyak menjual produk-produk single pack yang harganya lebih terjangkau dengan kisaran Rp 1.000 atau Rp 2.000 per unit," kata manajemen MYOR kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).

Selain itu, MYOR juga belum berencana melakukan penyesuaian harga jual produk dalam waktu dekat. MYOR menilai kondisi harga bahan baku utama yang saat ini cenderung menurun memberikan ruang untuk mempertahankan volume penjualan dan pangsa pasar. 

"Disamping itu kita tetap melakukan kegiatan promosi dan pemasaran yang terarah, meningkatkan distribusi, dan meningkatkan penetrasi pasar," jelasnya.

Terkait strategi penjualan, MYOR menegaskan tidak akan lebih memprioritaskan pasar ekspor dibandingkan pasar domestik pada tahun ini, dan sebaliknya. MYOR akan tetap mengoptimalkan kinerja di kedua segmen tersebut secara seimbang.

"Kami berupaya untuk mengoptimalkan kinerja di kedua pasar, baik lokal maupun ekspor," paparnya.

Disisi lain, perusahaan masih mencermati sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi kinerja, terutama volatilitas harga komoditas sebagai bahan baku. Salah satu yang menjadi perhatian adalah harga kakao yang sebelumnya sempat melonjak hingga sekitar US$ 5.000 per metrik ton.

Ke depan, MYOR berharap harga komoditas dapat bergerak lebih stabil sehingga memberikan dukungan terhadap biaya produksi. MYOR juga masih melihat peluang pemulihan ekonomi pada semester II-2026 yang diharapkan dapat mendorong kembali permintaan serta memperbaiki daya beli masyarakat.

Baca Juga: Emiten Tambang Logam Masih Prospektif pada Semester II-2026, Ini Saham Pilihan Analis

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News