KONTAN.CO.ID - Raksasa cip global, Nvidia, tengah melakukan transformasi besar dalam pola kerja internalnya. CEO Nvidia, Jensen Huang, secara terbuka menyatakan ambisinya agar para insinyur di perusahaannya berhenti menghabiskan waktu untuk menulis kode secara manual dan mulai berfokus sepenuhnya pada pemecahan masalah yang belum terpecahkan. Langkah ini sejalan dengan posisi Nvidia sebagai pemimpin pasar cip kecerdasan buatan (AI) yang kini memiliki valuasi sekitar US$ 3 triliun atau sekitar Rp47.100 kuadriliun( kursRp 15.700 per Dolar AS).
Membedakan Antara Tugas dan Tujuan
Filosofi kepemimpinan Huang belakangan ini berpusat pada kerangka kerja yang ia sebut sebagai Purpose vs Task (Tujuan vs Tugas). Menurut pandangannya, menulis kode hanyalah sebuah tugas teknis, sedangkan menemukan serta menyelesaikan masalah baru adalah tujuan utama dari seorang insinyur. Huang berpendapat bahwa AI seharusnya mengambil alih seluruh tugas rutin sehingga manusia dapat mengalokasikan kapasitas intelektualnya untuk hal-hal yang lebih fundamental. Ia menggunakan analogi profesi radiologi untuk memperkuat argumennya. Sebelumnya, banyak pihak memprediksi profesi ahli radiologi akan hilang karena kemampuan komputer dalam memindai gambar secara cepat. Namun, kenyataannya jumlah ahli radiologi justru tumbuh. Hal ini dikarenakan membaca pindaian hanyalah tugas, sementara tujuan aslinya adalah mendiagnosis penyakit dan meningkatkan keselamatan pasien. Ketika AI mengambil alih pekerjaan rutin, permintaan akan keahlian manusia justru meningkat. Bersumber dari Business Insider, dalam sebuah pertemuan internal, Huang bahkan memberikan teguran keras kepada jajaran manajer yang mencoba membatasi penggunaan AI di dalam tim. Ia menjanjikan kepada seluruh karyawan bahwa penggunaan AI tidak akan menghilangkan pekerjaan, melainkan justru memungkinkan mereka mengerjakan proyek yang jauh lebih ambisius.Risiko dan Batasan "Vibe Coding"
Meskipun Huang menunjukkan optimisme tinggi, sejumlah pakar industri memberikan peringatan mengenai batasan teknologi ini. M ichael Truell, CEO Cursor, perusahaan rintisan bernilai US$ 29 miliar atau sekitar Rp 455,3 triliun, memperingatkan bahaya dari fenomena yang disebut vibe coding. Istilah ini merujuk pada kebiasaan pengembang yang membiarkan AI membangun perangkat lunak tanpa melakukan tinjauan mendalam terhadap hasilnya. "Jika Anda menutup mata dan tidak memeriksa kode tersebut, membiarkan AI membangun sesuatu dengan fondasi yang goyah, maka semuanya akan mulai runtuh," kata Truell dalam konferensi Fortune’s Brainstorm AI. Kekhawatiran serupa juga diungkapkan oleh Andrej Karpathy, mantan direktur AI Tesla. Mengutip sumber yang sama, Karpathy mengakui bahwa profesi pemrograman sedang mengalami perombakan besar-besaran secara drastis. Tonton: Kementerian ESDM Klaim RKAB 2026 Vale (INCO) Bakal Terbit Malam Ini Meskipun ia adalah sosok yang mempopulerkan istilah vibe coding, Karpathy mengungkapkan bahwa proyek terbarunya masih ditulis secara manual karena agen AI saat ini dinilai belum cukup mumpuni untuk menangani logika yang sangat kompleks. Berikut adalah beberapa poin utama dari strategi efisiensi berbasis AI di Nvidia:- Penggunaan wajib asisten coding AI (Cursor) untuk seluruh tim teknis.
- Pengalihan fokus dari penulisan sintaks ke desain arsitektur solusi.
- Penerapan prinsip Purpose vs Task dalam setiap level manajemen.
- Mendorong eksplorasi masalah-masalah sains dan teknologi yang belum terpecahkan.