KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan modal ke aset
safe haven dalam kondisi krisis bukanlah respons spontan terhadap berita, melainkan proses bertahap yang sudah dimulai jauh sebelumnya melalui sinyal-sinyal pasar yang halus. PT Valbury Asia Futures melihat bahwa
trader yang mampu membaca indikator seperti pergerakan yen, volatilitas,
credit spread, dan aliran opsi akan lebih dulu memahami perubahan sentimen dibanding mereka yang hanya bereaksi terhadap
headline. Safe haven sendiri tidak bersifat universal atau tetap, karena setiap aset, baik itu emas, yen Jepang, franc Swiss, dan dolar AS, memiliki fungsi dan sensitivitas yang berbeda tergantung jenis krisis yang terjadi. “Oleh karena itu, kesalahan utama bukan hanya terlambat masuk, tetapi juga salah memilih aset untuk konteks risiko yang sedang berlangsung,” kata Zuifany
Public Relation PT Valbury Asia Futures dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Dia menyebut, keempat pilar
safe haven memiliki karakter berbeda sesuai jenis krisis yang terjadi. Emas misalnya, berfungsi sebagai penyimpan nilai jangka panjang yang sensitif terhadap real interest rate. Logam mulia ini cenderung menguat saat inflasi melampaui suku bunga, namun melemah ketika likuiditas global mengetat. Pergerakannya relatif lambat, tetapi kuat dan cocok untuk tren menengah hingga panjang. Mata utang Yen Jepang (JPY) merupakan barometer utama sentimen risiko global karena terkait erat dengan
unwind carry trade. Saat pasar bergejolak, kata Zuifany, investor menutup posisi berisiko dan kembali ke yen, sehingga JPY menguat cepat dan sering menjadi sinyal awal kondisi
risk-off. Baca Juga: Safe Haven Diburu Investor, Dolar AS hingga Yen Jepang Menguat Adapun Franc Swiss (CHF) mencerminkan stabilitas kawasan Eropa dan cenderung menguat saat ketidakpastian regional meningkat, dengan EUR/CHF sebagai acuan utama. Namun penguatannya dapat dibatasi oleh intervensi Swiss National Bank (SNB), sehingga pergerakannya tidak selalu bebas. Sedangkan Dolar AS (USD) adalah
safe haven paling kompleks karena dapat menguat saat krisis likuiditas global, tetapi juga berpotensi melemah jika sumber krisis berasal dari Amerika Serikat sendiri. “Kekuatan USD sangat ditentukan oleh asal dan sifat guncangan dalam sistem keuangan global,” imbuhnya. Menurut Zuifany, pergerakan modal ke aset
safe haven saat kondisi
risk-off biasanya terjadi dalam tiga fase. Pertama, fase akumulasi diam-diam ketika institusi mulai masuk posisi defensif berdasarkan sinyal awal seperti penguatan yen, kenaikan volatilitas, dan pelebaran credit spread, sementara harga masih stabil. Kedua, fase panik ketika krisis sudah terlihat jelas, aset safe haven melonjak tajam, dan investor ritel cenderung masuk terlambat. Ketiga, fase normalisasi ketika pasar menyesuaikan diri dan modal kembali ke aset berisiko, yang sering justru menjadi peluang berlawanan arah tren sebelumnya.
Baca Juga: Franc Swiss Masih Jadi Valas Safe Haven Favorit, Begini Kata Analis Trader yang efektif tidak bergantung pada berita, tetapi membaca sinyal pasar melalui tiga pendekatan, yakni piramida konfirmasi (dari sinyal awal hingga
breakout dan media ramai), urutan pergerakan ase
t safe haven (yen paling cepat, diikuti emas, franc Swiss, lalu dolar AS), serta
divergence sentimen (pergerakan harga yang bertentangan dengan narasi pasar sebagai tanda posisi institusi lebih awal). Zuifany bilang, kesalahan umum trader ritel adalah FOMO di puncak panic, menyamaratakan semua krisis, membeli aset yang sudah jenuh beli, dan tidak memiliki rencana exit yang jelas. Ke depan, siklus
risk-off diperkirakan makin cepat karena arus informasi, sehingga
trading harus berbasis
price action dan
flow, dengan emas dan yen tetap menjadi aset
safe haven utama meski dinamika global berubah. Sistem trading yang konsisten menekankan disiplin proses: pemantauan indikator utama, rencana trade yang jelas sebelum masuk, manajemen risiko ketat dengan ukuran posisi lebih kecil saat volatilitas tinggi, serta evaluasi setelah setiap siklus. “Intinya, keberhasilan dalam
safe haven bukan soal bereaksi terhadap krisis, tetapi kesiapan membaca dan meresponsnya secara sistematis sejak awal.” pungkas Zufany. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News