Strategi Pemerintah Kejar Ekonomi Vietnam, Dorong Hilirisasi Hingga Digitalisasi AI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan strategi untuk mengejar Vietnam dalam pertumbuhan ekonomi dan pengembangan industri.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia perlu mempercepat hilirisasi sekaligus masuk ke industri berteknologi tinggi seperti digitalisasi, semikonduktor, dan kecerdasan buatan (AI).

Pasalnya Vietnam mampu mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 9% pada kuartal III, sementara Indonesia masih berada di kisaran 5%. Karena itu, Indonesia perlu menaikkan level industri agar pertumbuhan ekonomi dapat terdorong lebih tinggi.


Baca Juga: Satgas PKH Serahkan Rp 13,24 Triliun ke Kas Negara, dari Denda hingga Pajak Kehutanan

"Kesempatan untuk naik dari rata-rata pertumbuhan 5% ini, kalau kita mau mengejar Vietnam yang bisa mencapai 9%, kita harus lari juga ke digitalisasi, semikonduktor, AI," ujar Airlangga dalam forum diskusi BIG Downstream Insights 2026 di Graha CIMB Niaga Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026)

Salah satu strategi yang disiapkan adalah peta jalan hilirisasi 28 komoditas pada delapan sektor. Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi untuk menjalankan roadmap tersebut mencapai US$ 618 miliar dalam empat tahun ke depan.

Investasi itu ditargetkan meningkatkan ekspor Indonesia menjadi US$ 857 miliar dan menghasilkan nilai tambah sebesar US$ 235,9 miliar. Hilirisasi juga ditargetkan menciptakan sekitar 3 juta lapangan kerja.

Airlangga menegaskan, hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Karena itu, pemerintah juga perlu memperkuat industri manufaktur seperti otomotif, tekstil dan produk tekstil, fast-moving consumer goods (FMCG), serta sektor strategis lainnya.

"Kalau kita lihat dari peta jalan hilirisasi, ada 28 komoditas pada delapan sektor," katanya.

Menurut Airlangga, Indonesia saat ini masih perlu naik dari industri tier 2 menuju tier 3. Pada tier 3, industri sudah masuk ke digitalisasi, semikonduktor, dan teknologi lainnya.

"Vietnam sudah ke sana, India juga sudah di sana. Maka kita yang belum naik dari level 2 ke level 3," ujar Airlangga.

Baca Juga: Ekonomi RI Tahun 2026 Diproyeksi Tumbuh 5,2%, World Bank Ungkap Pemicunya

Ia juga menyoroti skala kawasan ekonomi khusus (KEK). Indonesia memiliki sekitar 24.000 hektare KEK, sedangkan Vietnam sekitar 2 juta hektare.

Vietnam juga dinilai lebih dahulu membangun kerja sama perdagangan dengan Eropa melalui EU-CEPA (The Indonesia-Erupean Union Comprehensive Economic Partnership Agreement dan memperoleh perlakuan tarif dan non tarif yang lebih baik dari Amerika Serikat.

Meski demikian, Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar domestik yang besar. Airlangga menilai pasar tersebut dapat menjadi basis pengembangan industri nasional.

Adapun realisasi investasi hilirisasi pada semester I 2026 mencapai sekitar Rp 300 triliun, tumbuh 6,9% yoy dibandingkan tahun sebelumnya. Airlangga menyebut investasi hilirisasi ke depan ditargetkan mencapai sekitar Rp 3.800 triliun dalam empat tahun.

Pemerintah juga mulai mendorong penggunaan AI, machine learning, Internet of Things (IoT), dan Industri 4.0 di sektor industri. Airlangga mencontohkan pemanfaatan AI pada industri nikel yang dapat meningkatkan produktivitas sekaligus membantu pekerjaan di area dengan kondisi ekstrem.

Untuk memperkuat industri teknologi, pemerintah menargetkan 15.000 tenaga AI dan semikonduktor mendapatkan pelatihan dalam tiga tahun ke depan.

Airlangga mengatakan, transformasi dari pertanian ke industri, lalu ke digitalisasi dan jasa bernilai tambah tinggi menjadi langkah penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. "Kalau itu bisa kita lakukan, pertumbuhan 8% itu bisa dicapai," kata Airlangga.

Baca Juga: Dunia Usaha Tahan Ekspansi, Perputaran Uang Ekonomi Ikut Melambat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News