Strategi Perbankan 2026, Fokus Kredit Ritel Demi Menjaga Profit



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Memasuki tahun 2026, perbankan menempatkan kualitas kredit sebagai fondasi utama  menjaga kesinambungan kinerja. Di tengah dinamika ekonomi yang masih menuntut kehati-hatian, bank memilih jalur pertumbuhan yang selektif. Menitikberatkan penyaluran kredit pada segmen ritel dan korporasi dengan arus kas yang stabil.

Secara makro, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan yang relatif stabil. Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional tahun 2026 berada di kisaran sekitar 4,9%-5,7%. Pendorongnya, konsumsi domestik yang lebih kuat. Adapun pertumbuhan kredit diproyeksikan  di kisaran 8%–12% pada 2026.

Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia mengatakan, ada tantangan dalam penyaluran kredit perbankan pada 2026 karena data menunjukane fasilitas kredit belum dicairkan masih tinggi. Hal ini mencerminkan sikap kehati-hatian dari pelaku usaha dan bank dalam percepatan permintaan kredit. 


"Pertumbuhan kredit di beberapa segmen, seperti modal kerja dan pinjaman konsumsi masih bervariasi, yang menandakan perbedaan dinamika permintaan antar segmen debitur," ujarnya, dalam keterangan resmi, Senin (9/2)

Salah satu bank mengutamakan kualitas di atas pertumbuhan kredit adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS). Dengan strategi pertumbuhan yang selektif, akan membantu bank menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko.

“Kondisi ekonomi saat ini menuntut bank untuk tidak sekadar mengejar pertumbuhan kredit, tetapi memastikan kualitas debitur. Fokus pada segmen dengan arus kas stabil menjadi kunci agar profitabilitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas aset,” ujar Sarkia Adelia. 

Dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang relatif terkendali, ruang perbaikan profitabilitas BWS ke depan akan lebih bergantung pada konsistensi manajemen risiko dan efisiensi penyaluran kredit.

Baca Juga: OJK Beberkan Tantangan Bisnis Emas Perbankan Nasional

“Jika disiplin kualitas ini dijaga, prospek kinerja bank di 2026 akan lebih defensif dan berkelanjutan dibandingkan bank yang terlalu agresif,” lanjutnya.

Sejalan dengan itu, analis menilai bahwa arah kebijakan BWS mencerminkan pergeseran strategi industri perbankan secara umum, dari ekspansi cepat menuju pertumbuhan yang lebih berhati-hati. Dalam konteks tersebut, fokus pada kredit berkualitas dinilai mampu memperkuat ketahanan kinerja bank menghadapi potensi volatilitas ekonomi global maupun domestik.

Hingga akhir September 2025. Total aset BWS tercatat mencapai Rp 59,6 triliun, meningkat dibandingkan akhir tahun 2024. Sementara itu, total kredit berada di kisaran Rp 46 triliun, relatif stabil, mencerminkan strategi pertumbuhan yang tidak agresif namun berorientasi pada kualitas portofolio.

Di sisi kualitas aset, rasio NPL bruto tercatat sekitar 2,35%, dengan NPL neto di level 1,28%. Angka ini menunjukkan kualitas kredit yang masih terjaga di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih dan tekanan suku bunga yang masih menjadi perhatian sektor perbankan.

Likuiditas juga tetap menjadi salah satu penopang strategi tersebut. Dana pihak ketiga (DPK) BWS per September 2025 tercatat di kisaran Rp32,4 triliun, dengan struktur pendanaan yang masih didominasi deposito.

Kondisi ini memberi ruang bagi bank untuk menjaga fleksibilitas likuiditas sekaligus menyiapkan kapasitas ekspansi kredit yang lebih terukur ke depan.

Selanjutnya: Menkeu Purbaya Buka Suara Soal Kegaduhan Penokatifan PBI JKN

Menarik Dibaca: Untung Besar Menyambut Imlek 2026! Wingstop Tebar Promo Lucky Deal, Hemat 50% Lebih

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News