KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Radiant Utama Interinsco Tbk (
RUIS) optimistis bisa menjaga tren pertumbuhan pendapatan pada level 5% sampai akhir tahun 2026. RUIS selektif mengejar kontrak baru dengan fokus pada layanan bermargin tebal untuk mendongkrak profitabilitas. RUIS membukukan pendapatan sebesar Rp 994,73 miliar pada paruh pertama 2026. Pendapatan RUIS mengalami pertumbuhan 5,25% dibandingkan raihan Rp 945,03 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Direktur Keuangan Radiant Utama Interinsco, Zaki Maulana membeberkan tiga faktor yang menopang kinerja RUIS pada semester I-2026. Pertama, peningkatan kontribusi dari segmen jasa pendukung operasi (operation support services) yang tumbuh seiring berjalannya kontrak-kontrak jasa konstruksi dan maintenance engineering dengan klien utama di sektor minyak, gas, dan energi terbarukan.
Baca Juga: AESI Ungkap Sejumlah Kendala Pengembang PLTS yang Perlu Segera Diatasi Kedua, Zaki menyoroti konversi pendapatan menjadi arus kas yang semakin membaik. Pada semester I-2026, RUIS mencatatkan penerimaan kas dari pelanggan sebesar Rp 1,04 triliun atau melebihi nilai pendapatan. "Metrik yang mengalami peningkatan positif pada semester ini bukanlah sekadar pertumbuhan pendapatan di atas kertas, melainkan membaiknya Penerimaan kas dari operasional," kata Zaki kepada Kontan.co.id, Selasa (11/8/2026). Ketiga, penurunan piutang. Berkat disiplin penagihan yang ketat, saldo piutang usaha RUIS turun sebesar Rp 48,8 miliar dibandingkan akhir tahun 2025. "Hal ini membuktikan pendapatan yang kami bukukan didukung oleh arus kas masuk yang riil dan sehat," imbuh Zaki. Hanya saja, kenaikan pendapatan masih belum mendongkrak perolehan laba bersih RUIS yang mengalami penurunan 4,76% secara tahunan dari Rp 7,97 miliar menjadi Rp 7,59 miliar pada semester I-2026. Penurunan laba bersih RUIS terutama dipengaruhi oleh kompresi margin kotor yang terkonsentrasi pada segmen jasa pendukung operasi. Zaki menyoroti terjadinya kenaikan biaya sebagai dampak dari dinamika geopolitik yang menyebabkan terjadinya kenaikan biaya langsung proyek sehingga margin kotor mengalami koreksi. "Meskipun menghadapi tekanan pada segmen pendukung operasi, manajemen berhasil menahan laju penurunan laba lebih dalam berkat efisiensi beban operasional serta beban finansial," terang Zaki. Menghadapi dinamika industri pada paruh kedua 2026, Manajemen RUIS masih optimistis untuk mencapai target pertumbuhan pendapatan pada kisaran 5%. Zaki mengungkapkan, optimisme tersebut didukung oleh kinerja semester pertama yang menunjukkan run-rate pendapatan RUIS saat ini sudah berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target tahunan.
Baca Juga: ANTM Rilis Produk Emas dan Perak Edisi Kemerdekaan Selain itu, RUIS memiliki visibilitas kontrak (
backlog). Kinerja semester II-2026 RUIS didukung oleh portofolio kontrak jangka panjang yang cukup solid. "Diharapkan utilisasinya minimal tetap terjaga konsisten sebagaimana yang telah dicapai di semester I-2026,," ujar Zaki. Sepanjang paruh pertama 2026, RUIS berhasil menjaga perolehan kontrak baru pada kisaran Rp 1,3 triliun. Portofolio kontrak baru tahun ini termasuk beberapa pekerjaan dan/atau klien baru di sektor migas maupun non-migas. Dalam pandangan Manajemen RUIS, kontrak tersebut akan sustain dan memiliki profitabilitas relatif lebih baik dalam beberapa tahun ke depan.
"Adapun untuk semester kedua perusahaan memproyeksikan dapat memperoleh tambahan kontrak baru sehingga totalnya dapat mencapai minimal sama dengan pencapaian tahun 2025 lalu yaitu di kisaran Rp 2,5 triliun," terang Zaki. Meski begitu, RUIS masih mengambil pendekatan yang pruden atau berhati-hati untuk proyeksi laba bersih. Zaki menegaskan, RUIS akan lebih berfokus pada pemulihan margin. "Manajemen akan melakukan proses monitoring yang ketat terhadap seluruh potensi kenaikan biaya yang disebabkan oleh faktor eksternal selain tetap akan berusaha secara internal melakukan efisiensi dan peningkatan produktifitas sehingga diharapkan kinerja perusahaan dapat terjaga secara positif di tahun 2026," pungkas Zaki. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News