KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (
SMGR) atau SIG melalui anak usahanya, PT Solusi Bangun Andalas, memperkuat strategi bisnis berbasis keberlanjutan dengan mengubah limbah kelapa di kawasan wisata Pantai Lampuuk, Aceh, menjadi produk bernilai ekonomi yang langsung menyentuh sektor peternakan lokal. Lewat program bernama Sakeladera (Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera), SIG tidak sekadar menjalankan inisiatif lingkungan, tetapi membangun model bisnis sirkular yang menghubungkan pengelolaan limbah, produksi bahan baku pakan, hingga penguatan ekonomi komunitas. Dari sekitar 60 ton sampah kelapa per bulan yang sebelumnya tidak termanfaatkan, kini diolah menjadi cocopeat—serbuk sabut kelapa yang dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak.
Transformasi ini sekaligus menjawab dua persoalan utama di Aceh: penumpukan limbah kelapa dari aktivitas pariwisata yang sebelumnya dibakar atau dibiarkan membusuk, serta tingginya biaya pakan ternak yang selama ini bergantung pada pasokan luar daerah.
Baca Juga: Semen Indonesia (SMGR) Genjot Bisnis Non-Semen, Bidik 89% Potensi Material Konstruksi Sebelum program berjalan, biaya pakan peternak unggas di wilayah tersebut bisa mencapai sekitar Rp48 juta per bulan. Sejak diinisiasi pada 2024, Sakeladera dijalankan dengan menggandeng komunitas lokal Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil), yang sebelumnya juga menjadi mitra SIG dalam program pengelolaan sampah pesisir. Dalam praktiknya, SIG tidak hanya menyediakan peralatan pengolahan, tetapi juga membangun ekosistem melalui pelatihan, pendampingan, serta sosialisasi ke masyarakat agar rantai pengolahan limbah bisa berjalan berkelanjutan. Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyebut program ini sebagai bagian dari implementasi Sustainability Roadmap SIG 2030, khususnya pada pilar perlindungan lingkungan dan penciptaan nilai bagi komunitas. "Sakeladera menjadi contoh konkret bagaimana strategi keberlanjutan perusahaan diterjemahkan ke dalam model bisnis yang bisa diukur dampaknya," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (22/6/2026). Dari sisi hasil, program ini menunjukkan dampak operasional yang signifikan. Volume sampah kelapa di Pantai Lampuuk berhasil ditekan dari sekitar 60 ton menjadi 20–24 ton per bulan.
Baca Juga: Strategi Semen Indonesia (SMGR) Perkuat Daya Saing Lewat Inovasi dan Transformasi Di sisi lain, peternak unggas di Lhoknga tercatat mampu memangkas biaya pakan hingga 60 persen, atau sekitar Rp28,2 juta per bulan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah. Lebih jauh, Sakeladera juga menciptakan rantai ekonomi baru di tingkat lokal dengan melibatkan sekitar 28 orang dalam proses pengumpulan, pengolahan, hingga distribusi cocopeat. Produk yang dihasilkan pun telah melewati uji laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri, memastikan kelayakan kandungan untuk kebutuhan campuran pakan ternak. Dari sisi bisnis sosial, SIG mencatat program ini memiliki Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,5, yang berarti setiap Rp1 investasi perusahaan menghasilkan Rp2,5 manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Angka ini memperkuat posisi Sakeladera bukan sekadar program CSR, tetapi sebagai model penciptaan nilai yang terukur.
Dampak di lapangan juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha lokal. Muhammad Ikhsan, anggota Kelompok Usaha Puyuh Andalas, menyebut program ini membantu menurunkan biaya produksi sekaligus mengubah limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Baca Juga: Laba Semen Indonesia (SMGR) Melesat 88,7% Jadi Rp 80 Miliar di Kuartal I-2026 Dengan pendekatan ini, SIG melalui Solusi Bangun Andalas memperlihatkan bagaimana industri semen dan bahan bangunan mulai bergerak ke arah bisnis berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya dan penciptaan ekosistem ekonomi lokal yang lebih efisien dan mandiri. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News