Strategi Trading Jangka Pendek dan Saham Pilihan Analis di Tengah Fluktuasi IHSG



KONTAN.CO.ID - JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih diwarnai volatilitas tinggi, membuka peluang sekaligus risiko bagi pelaku pasar.

Pada perdagangan Kamis (9/4/2026), IHSG ditutup menguat tipis 0,39% ke level 7.307,59, meski sempat bergerak di zona merah sepanjang intraday.

Penguatan ini melanjutkan reli tajam sehari sebelumnya, ketika IHSG melonjak 4,42% usai kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, sentimen tersebut dinilai belum cukup kuat untuk meredam fluktuasi pasar dalam jangka pendek.


Baca Juga: IHSG Anjlok ke Bawah 7.000, Sentimen Global dan HSC Tekan Pasar

Pelaku pasar kini menghadapi dua arus besar: sentimen eksternal dari geopolitik global dan tekanan domestik seperti pelemahan rupiah, risiko fiskal, serta potensi inflasi akibat kenaikan harga minyak. Kombinasi ini membuat arah pasar cenderung tidak stabil.

Di tengah kondisi tersebut, strategi trading jangka pendek menjadi pendekatan yang paling relevan.

Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menilai momentum saat ini lebih cocok dimanfaatkan untuk transaksi cepat.

“Ada peluang, tapi volatilitas tinggi sehingga strategi scalping lebih optimal untuk memanfaatkan pergerakan jangka pendek,” ujarnya.

Strategi scalping dinilai efektif karena pergerakan harga yang cepat memungkinkan trader mengambil keuntungan tipis dalam waktu singkat. Namun, disiplin menjadi kunci utama, mengingat pasar sangat sensitif terhadap perkembangan berita global.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda juga melihat peluang serupa.

Volatilitas tinggi dinilai membuka ruang trading aktif, tetapi dengan manajemen risiko ketat.

Baca Juga: Rupiah dan Harga Minyak Uji IHSG, Cermati Rekomendasi Saham IPOT

Trader disarankan hanya masuk pada saham yang menunjukkan sinyal teknikal jelas, seperti rebound dari area support dengan dukungan volume yang kuat.

Sementara itu, swing trading masih bisa dilakukan, tetapi dengan pendekatan lebih selektif dan durasi lebih pendek. Risiko pembalikan arah (reversal) dinilai masih tinggi, terutama jika terjadi eskalasi lanjutan di konflik global.

Pelaku pasar juga diingatkan untuk menghindari saham yang naik karena euforia sesaat. Ciri-cirinya antara lain munculnya pola upper shadow yang menandakan tekanan jual di level atas.

Di sisi sektoral, saham berbasis komoditas menjadi salah satu yang menarik untuk dicermati.

Jika ketegangan geopolitik kembali meningkat, sektor energi dan logam seperti minyak, batubara, dan emas berpotensi diuntungkan, baik dari kenaikan harga maupun meningkatnya permintaan aset safe haven.

Baca Juga: Cermati Rekomendasi Saham di Pekan Ini, IHSG Berpeluang Tertekan

Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang dinilai memiliki potensi mengikuti tren kenaikan harga komoditas.

Meski demikian, rotasi sektor berlangsung cepat, sehingga investor perlu lebih selektif dalam memilih emiten, terutama di tengah musim pembagian dividen yang turut memengaruhi aliran dana.

 
AADI Chart by TradingView

Dari sisi teknikal, pergerakan IHSG masih berada dalam fase krusial. Jika mampu menembus resistance di area 7.322, indeks berpeluang melanjutkan penguatan ke kisaran 7.450–7.585.

Sebaliknya, jika gagal bertahan di atas support 7.200, tekanan jual berpotensi kembali meningkat.

Baca Juga: Analis Proyeksikan Koreksi IHSG dan Pelemahan Rupiah Masih Berlanjut

Dengan kondisi pasar yang masih digerakkan sentimen global, fundamental belum menjadi pendorong utama dalam jangka pendek.

Karena itu, pelaku pasar disarankan mengutamakan disiplin, kecepatan eksekusi, serta ketat dalam menyaring saham untuk menjaga peluang profit tetap optimal di tengah volatilitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News