Strategi Walmart: CEO Baru Siap Ubah Belanja Ritel dengan AI?



KONTAN.CO.ID - ARKANSAS. Raksasa ritel Amerika Serikat Walmart akan mengumumkan kinerja kuartal keempat pada Kamis (waktu setempat). Ini menjadi laporan pertama di bawah kepemimpinan CEO baru, John Furner, sekaligus ujian penting untuk membaca daya tahan belanja konsumen pada musim liburan.

Momentum laporan ini kian strategis setelah kapitalisasi pasar Walmart untuk pertama kalinya menembus US$ 1 triliun. Artinya, ekspektasi pasar tak lagi sekadar soal pertumbuhan, tetapi juga konsistensi kinerja di tengah persaingan harga yang ketat dan pergeseran pola belanja.

Konsensus Bloomberg memperkirakan laba per saham (EPS) yang disesuaikan sebesar US$ 0,73, dengan pendapatan naik hampir 6% menjadi sekitar US$ 190 miliar. Penjualan toko sebanding (same-store sales) di AS diproyeksikan tumbuh 4,3%, ditopang lonjakan e-commerce, kenaikan nilai transaksi rata-rata, serta perbaikan tipis trafik pengunjung.


Namun, pertumbuhan e-commerce diperkirakan melambat menjadi 19,8% dari 28% pada kuartal sebelumnya. Moderasi ini bisa menjadi sinyal bahwa lonjakan belanja digital mulai kembali ke ritme normal, atau bahwa kompetisi harga semakin menggerus marjin.

Unit gudang berbayar, Sam's Club diperkirakan mencatat pertumbuhan penjualan toko sebanding 4,4%. Ini menegaskan bahwa model membership masih relevan di tengah konsumen yang semakin sensitif terhadap harga.

Baca Juga: Estee Lauder Mengungat Walmart Atas Dugaan Menjual Produk Tiruan

Analis Telsey Advisory Group Joe Feldman memperkirakan, Walmart mampu mengungguli pasar ritel secara umum pada kuartal keempat. Pendorongnya antara lain kenaikan pangsa pasar di segmen bahan makanan, perbaikan kinerja general merchandise, agresivitas pemotongan harga, serta promosi yang lebih selektif.

Menariknya, kekuatan belanja disebut datang dari berbagai kelompok pendapatan, termasuk rumah tangga berpenghasilan tinggi. Dalam paparan kuartal ketiga, CEO sebelumnya, Doug McMillon, menegaskan adanya daya beli yang solid dari segmen atas indikasi bahwa Walmart kian berhasil merebut konsumen kelas menengah-atas, bukan hanya pemburu harga murah.

Di sisi lain, pasar menanti arah strategi teknologi di era Furner. Pada akhir kuartal ketiga, Walmart menggandeng OpenAI untuk mengintegrasikan ChatGPT ke situsnya dan membuka opsi pembelian produk langsung lewat platform tersebut. Langkah ini mempertegas ambisi Walmart memadukan ritel dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan pengalaman belanja sekaligus efisiensi operasional.

Analis Deutsche Bank Krisztina Katai menilai, investor akan mencermati bukan hanya investasi AI, tetapi juga strategi harga wajar maksimum di farmasi, prospek permintaan general merchandise, dan dinamika persaingan di bisnis bahan makanan segmen yang menyumbang sekitar 60% penjualan Walmart di AS.

Saham Walmart telah menguat lebih dari 15% sejak awal tahun. Tantangannya kini jelas, mempertahankan pertumbuhan tanpa mengorbankan marjin, di tengah konsumen yang semakin selektif dan perang harga yang belum usai.

Baca Juga: CEO Walmart Doug McMillon akan Pensiun, Ini Sosok Penggantinya

Selanjutnya: Perputaran Uang Ramadhan-Lebaran 2026 Diproyeksi Tembus Rp 190 Triliun

Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (20/2), Hujan Sangat Lebat Guyur Provinsi Ini

TAG: