KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menurut studi terbaru dari HSBC berjudul “Business Balancing Act”, sebesar empat per lima (81%) dari perusahaan menengah (
Mid-Market Enterprise/MMEs), atau perusahaan yang memiliki perputaran antara US$ 10 juta sampai dengan US$ 500 juta, mengatakan mereka berencana untuk berekspansi ke pasar internasional di 2023. Survei yang menargetkan
Chief Executive Officer (CEO) maupun
Chief Financial Officer (CFO) dari 2.100 bisnis di 14 pasar di seluruh dunia mengungkapkan bahwa pemimpin bisnis dari Indonesia menargetkan untuk masuk ke setidaknya satu pasar di luar negeri, meskipun sebesar 33% menyadari bahwa perdagangan internasional akan menjadi lebih sulit. Data dalam studi juga mengungkapkan empat per lima (80%) perusahaan menengah (
medium enterprises) dari Indonesia memperkirakan akan tumbuh di 2023, meskipun adanya perlambatan di ekonomi global. Hampir separuh (46%) memperkirakan pertumbuhan antara 15%-20%, sementara seperlima (19%) mengharapkan peningkatan sebesar 10%-14%.
Hal ini bertolak belakang dengan kekhawatiran dari para pelaku usaha menengah terhadap perdagangan internasional dan konsumsi masyarakat yang lebih rendah. Tanggapan yang relatif positif dari bisnis ini terjadi meskipun adanya kekhawatiran akan inflasi dan peningkatan biaya hidup (49%) serta suku bunga (42%).
Baca Juga: Transaksi Reservasi Umroh.com Sudah Capai 50% dari Kondisi Sebelum Pandemi Riset yang dilakukan oleh HSBC bekerjasama dengan perusahaan jajak pendapat Toluna, menemukan bahwa pelaku usaha di Indonesia melihat minat yang lebih besar di bidang keberlanjutan dan efisiensi yang didorong oleh teknologi, yang menjadi dua kontributor utama pendorong pertumbuhan. Setengah (51%) dari responden mengatakan bahwa kemampuan untuk memperoleh investasi dan ekspansi ke digital platform dan kanal baru (47%) akan turut berperan penting. Walaupun adanya perkiraan yang optimis, perusahaan berskala menengah tetap harus menyeimbangkan antara mencari peluang untuk bertumbuh dengan mengelola berbagai tantangan di tahun depan. Sekitar empat per lima (80%) dari pelaku usaha akan fokus membuat rantai pasok mereka menjadi lebih berkelanjutan, namun di saat yang sama lebih dari seperempat mengkhawatirkan akan kurangnya penyedia dan barang yang berkualitas (28%). Sementara itu 47% merencanakan untuk memasarkan produk dan jasa baru untuk menggenjot pertumbuhan, namun menurunnya permintaan dan konsumsi masyarakat tetap menimbulkan kekhawatiran. Riko Tasmaya,
Global Banking Director HSBC Indonesia, mengatakan, pihaknya menyadari bagaimana MME di Indonesia ingin berlari kencang untuk mengejar pertumbuhan yang sempat terhambat selama pandemi. Namun demikian, kondisi pasar global saat ini dan proyeksinya di tahun depan harus membuat pelaku bisnis menengah memikirkan bagaimana upaya terbaik dalam menyeimbangkan target pertumbuhan dengan risiko volatilitas pasar yang mungkin terjadi. "Keinginan mereka untuk bertumbuh dengan cara berekspansi secara internasional tentunya harus benar-benar dipersiapkan dengan mempertimbangkan kompleksitas ekonomi global serta pemanfaatan teknologi yang semakin meningkat,” kata Riko dalam siaran pers, Senin (21/11). Menurutnya, sebagai salah satu Bank terbesar di dunia, Grup HSBC memiliki peran penting dalam perekonomian global. "Kami merupakan
trade finance bank terbesar di dunia, dengan jaringan internasional yang mencakup 90% dari total GDP arus perdagangan global," tambahnya. Dengan demikian, kata Riko, Grup HSBC memainkan peran penting dalam memfasilitasi penanaman modal asing, membantu banyak perusahaan untuk tumbuh di luar negara asalnya, melalui pemberian pinjaman, investasi serta layanan jasa keuangan antar negara yang dibutuhkan bisnis untuk berkembang.
Baca Juga: Jaga Daya Beli Masyarakat, Ini Saran Ekonom ke Pemerintah Studi dari HSBC yang juga menyurvei berbagai bisnis di Australia, Meksiko, Singapura, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Kanada, Tiongkok, Hong Kong, India dan Jerman, juga mengemukakan bahwa sebanyak 75% MME Indonesia, di mana ini menjadi jumlah terbanyak di seluruh dunia, berusaha mencari investasi eksternal untuk mendukung pertumbuhan mereka. Selain itu, seperlima berusaha untuk menjual sebagian bisnis mereka, sementara seperempatnya merencanakan untuk menjalankan akuisisi guna mencapai pertumbuhan yang direncanakan tahun depan. Terkait bagaimana para pemimpin bisnis akan memprioritaskan investasi mereka dalam 12 bulan ke depan, arus kas dan pengelolaan modal (52%), pengalaman nasabah (50%), dan inovasi produk (47%) disebut Riko akan menjadi hal-hal utama. Meski demikian, 80% bisnis MME di Indonesia tetap berusaha menyeimbangkan rencana investasi dengan bagaimana mereka dapat mengurangi biaya di tahun depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News Editor: Tendi Mahadi