KONTAN.CO.ID - Kebijakan tarif besar-besaran yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sepanjang 2025 dinilai hanya berdampak kecil terhadap pertumbuhan ekonomi, namun berhasil meningkatkan penerimaan negara secara signifikan. Hal ini terungkap dalam studi terbaru yang dirilis Brookings Institution dilansir Reuters pada Kamis (26/3/2026).
Baca Juga: Proposal AS Ditimbang, Iran Masih Enggan Duduk di Meja Perundingan Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa dampak bersih kebijakan tarif terhadap produk domestik bruto (PDB) AS relatif terbatas, berkisar antara tambahan 0,1% hingga penurunan 0,13%, tergantung asumsi perubahan pola perdagangan. Penelitian yang dilakukan oleh ekonom Pablo Fajgelbaum dari University of California, Los Angeles dan Amit Khandelwal dari Yale University ini juga menemukan bahwa dampak kecil terhadap konsumsi sebenarnya menyembunyikan adanya perpindahan beban biaya yang cukup besar dari konsumen ke produsen. Namun, distorsi tersebut sebagian besar diimbangi oleh meningkatnya penerimaan pemerintah serta kenaikan upah di sejumlah sektor industri. Studi tersebut mencatat bahwa sekitar 80% hingga 100% tarif diteruskan ke harga barang (
pass-through), dengan skenario dasar menunjukkan sekitar 90% beban tarif ditanggung oleh konsumen domestik, bukan eksportir asing.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Kamis (26/3) Pagi, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Berkurang Dari sisi kebijakan, tingkat tarif AS melonjak ke level tertinggi dalam 80 tahun terakhir, yakni mencapai 9,6% dari sebelumnya 2,4%. Meski demikian, tarif tersebut hanya berdampak pada sebagian kecil aktivitas ekonomi, mengingat sekitar 57% impor AS masih bebas bea masuk, terutama melalui perjanjian dagang seperti USMCA serta pengecualian untuk energi dan elektronik tertentu. Penerimaan negara dari tarif pada 2025 tercatat mencapai US$264 miliar atau sekitar 4,5% dari total pendapatan federal, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata 1,6% dalam satu dekade terakhir. Selain itu, studi juga menunjukkan terjadinya pergeseran rantai pasok global. Pangsa impor AS dari China turun drastis menjadi 7% pada Desember 2025, dari 23% pada Desember 2017 sebelum tarif diberlakukan.
Baca Juga: Bursa Australia Bergerak Tipis, Menanti Respons Iran atas Proposal Gencatan Senjata Namun, penurunan ini tidak sepenuhnya mencerminkan relokasi ke negara sekutu, melainkan sebagian besar beralih ke negara lain. Menariknya, penelitian tersebut tidak menemukan bukti kuat bahwa kebijakan tarif berhasil meningkatkan lapangan kerja manufaktur di AS atau mengurangi defisit perdagangan secara keseluruhan. Adapun manfaat dari berbagai perjanjian dagang baru yang bertujuan membuka pasar ekspor AS masih perlu waktu untuk dapat dievaluasi secara menyeluruh.