KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan pergantian menteri keuangan. Di mana, Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan di Istana Negara, Senin (14/9/2026), menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Pergantian tersebut sempat membawa angin segar bagi pasar setelah investor mendapatkan kepastian mengenai sosok yang akan memimpin kebijakan fiskal Indonesia. Namun optimisme itu belum sepenuhnya berujung pada penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Di mana, IHSG masih ditutup melemah 0,10% ke level 6.534 pada perdagangan hari ini (14/9/2026). Sementara, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sekitar Rp 330 miliar.
Pasar Menunggu Bukti Kebijakan
Hendra mengatakan, ujian pertama Suahasil bukan hanya terkait pencapaian pertumbuhan ekonomi atau pengelolaan defisit APBN, melainkan bagaimana mengembalikan kredibilitas dan predictability kebijakan fiskal. Investor akan mencermati arah belanja pemerintah, strategi pembiayaan APBN, kemampuan menjaga defisit, stabilitas rupiah, hingga koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. "Kalau komunikasi kebijakan jelas dan konsisten, pasar akan lebih mudah memberikan risk premium yang lebih rendah kepada Indonesia," katanya. Baca Juga: Penjualan SR025 Tembus Rp25,5 Triliun, Tapi Kalah Ngebut dari ORI030 Sebaliknya, apabila kebijakan pemerintah kembali berubah-ubah dan komunikasi tidak solid, rebound IHSG berisiko hanya menjadi false rebound. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan, pergantian Menteri Keuangan sebagai katalis domestik yang dapat memberikan penyeimbang terhadap tekanan eksternal. Namun respons pasar terhadap pergantian tersebut dinilai masih positif-terukur, belum menunjukkan euforia. Menurutnya, investor akan mencermati apakah pergantian tersebut mampu memberikan kepastian, konsistensi, dan kredibilitas kebijakan fiskal, terutama dalam pengelolaan APBN, defisit, penerimaan negara, belanja pemerintah, serta koordinasi fiskal-moneter. "Harapan pasar terhadap perubahan kabinet pada dasarnya adalah bukan sekadar pergantian figur, melainkan adanya peningkatan efektivitas kebijakan ekonomi," ujar Nafan.Tekanan Global Belum Hilang
Di tengah sentimen domestik tersebut, IHSG masih menghadapi tekanan dari faktor eksternal. Eskalasi konflik Timur Tengah kembali mendorong harga minyak Brent menembus sekitar US$107 per barel. Kelonjakan harga minyak meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan potensi kebijakan suku bunga bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Kondisi tersebut dapat membuat investor kembali mengurangi eksposur pada aset berisiko, terutama di pasar negara berkembang. Hendra menambahkan, rupiah yang berada di sekitar Rp 17.669 per dolar AS serta tekanan terhadap saham teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di bursa Asia menunjukkan bahwa risk appetite global belum sepenuhnya pulih. Baca Juga: Penjualan SR025 Tembus Rp25,5 Triliun, Tapi Kalah Ngebut dari ORI030 Sementara itu, Nafan melihat tekanan jual pada IHSG mulai mereda setelah indeks sempat terkoreksi lebih dari 2%. Kondisi tersebut menunjukkan adanya aksi buy on weakness dan bargain hunting, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar yang telah mengalami tekanan cukup dalam. Namun, penguatan tersebut belum dapat sepenuhnya dikaitkan dengan pergantian Menteri Keuangan. Sentimen geopolitik dan harga minyak masih menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar.IHSG Masih dalam Fase Pembuktian
Ke depan, level 6.500 menjadi area psikologis penting bagi pergerakan IHSG. Selama level tersebut mampu dipertahankan, Hendra melihat peluang rebound menuju 6.600-6.700 masih terbuka. Apabila IHSG mampu menembus 6.700 secara meyakinkan dengan dukungan volume transaksi dan mulai berbaliknya arus dana asing, ruang penguatan berikutnya menuju 6.800-6.900 juga berpotensi terbuka. Namun, skenario tersebut dapat berubah apabila IHSG kembali kehilangan level 6.500. Kondisi itu berpotensi membawa indeks memasuki fase konsolidasi yang lebih dalam. Baca Juga: Bullion Banking Jadi Penopang Kinerja HRTA, Cek Rekomendasi Sahamnya dari Analis Karena itu, Hendra belum melihat pergantian Menteri Keuangan sebagai awal dari tren bullish baru. Pasar masih berada dalam fase pembuktian untuk melihat apakah rebound yang terjadi memiliki fondasi fundamental atau hanya merupakan reaksi sesaat terhadap pergantian figur. "Investor sebaiknya tidak membeli harapan, tetapi membeli bukti," tegasnya.Saham Perbankan Jadi Pilihan
Di tengah kondisi tersebut, sektor perbankan dinilai masih menjadi pilihan utama karena relatif cepat merespons perubahan ekspektasi terhadap ekonomi domestik.BBRI Chart by TradingView