Suahasil Jadi Menkeu, Citi: Risiko Penurunan Rating Indonesia Bisa Berkurang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara dinilai dapat membawa perubahan positif terhadap komunikasi kebijakan pemerintah dan secara bertahap mengembalikan kebijakan fiskal ke jalur yang lebih konvensional.

Citi Research memperkirakan perubahan tersebut dapat mengurangi risiko penurunan peringkat kredit (negative ratings action) Indonesia dalam satu tahun ke depan. Meski demikian, ruang fiskal pemerintah masih terbatas sehingga perubahan besar terhadap postur anggaran maupun prospek penerbitan surat utang negara (SUN) belum diperkirakan terjadi.

Analis Citi Research Helmi Arman dalam riset 14 September 2026 mengatakan, pergantian Menteri Keuangan berpotensi memperbaiki komunikasi kebijakan pemerintah, terutama kepada investor internasional, investor obligasi global, dan lembaga pemeringkat.


Baca Juga: Restitusi Pajak Jadi Ujian Awal Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan

"Kasus dasar kami adalah perbaikan komunikasi kebijakan dan kembalinya kebijakan secara bertahap ke arah ortodoksi, yang selanjutnya mengurangi risiko tindakan negatif terhadap peringkat dalam satu tahun ke depan," tulis Helmi dalam riset tersebut.

Suahasil Nazara resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 14 September 2026, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa yang menjabat sejak September 2025.

Sebelum menduduki posisi tersebut, Suahasil merupakan Wakil Menteri Keuangan yang telah menjabat secara berturut-turut sejak 2019. Ia sebelumnya juga pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal (BKF).

Dengan pengalaman tersebut, Citi menilai Suahasil memiliki bekal yang cukup untuk langsung menjalankan berbagai agenda, terutama pembahasan RAPBN 2027 dan sejumlah kebijakan fiskal lainnya.

Citi menilai pergantian Menteri Keuangan belum tentu mengubah lingkungan pengambilan kebijakan secara keseluruhan. Kebijakan pemerintah yang dapat diputuskan secara mendadak oleh kepemimpinan politik diperkirakan masih menjadi karakter yang perlu diperhatikan.

Namun, dari sisi Kementerian Keuangan, Citi memperkirakan komunikasi kebijakan pemerintah kepada investor dan pemangku kepentingan internasional akan membaik.

Perbaikan tersebut terutama dinilai penting bagi investor obligasi global dan lembaga pemeringkat, karena komunikasi yang lebih jelas dapat meningkatkan pemahaman pasar terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah.

Baca Juga: Bos Summarecon (SMRA) Jadi Tersangka, KPK Ungkap Aliran Suap Rp1,5 Miliar

Citi juga memperkirakan Suahasil akan secara bertahap mengurangi penekanan terhadap target pertumbuhan base moneyatau uang primer dua digit yang selama ini menjadi bagian dari kebijakan sejak September 2025.

Kebijakan tersebut sebelumnya ditempuh Kementerian Keuangan melalui pemindahan simpanan pemerintah di Bank Indonesia (BI) ke bank-bank komersial serta mendorong BI mengurangi penyerapan likuiditas.

Menurut Citi, langkah tersebut telah membuat BI memiliki kendali yang lebih terbatas terhadap suku bunga pasar uang bertenor pendek.

Meski demikian, Citi tidak memperkirakan pemerintah akan secara tiba-tiba menarik kembali simpanannya dari bank-bank komersial. Langkah drastis tersebut dinilai berisiko mengganggu stabilitas likuiditas.

Sebaliknya, Citi memperkirakan pengurangan tekanan terhadap pertumbuhan base money akan dilakukan secara bertahap. Dalam jangka panjang, langkah ini dinilai dapat meningkatkan prediktabilitas likuiditas sistem perbankansekaligus memperkuat independensi operasional BI.

Perubahan pendekatan terhadap base money juga berpotensi memengaruhi kebijakan moneter BI dalam jangka sangat pendek.

Citi menilai, apabila pengurangan penekanan terhadap pertumbuhan base money dilakukan dengan cepat, BI akan memiliki ruang yang lebih besar untuk memperlambat sementara laju penurunan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

BI saat ini menghadapi dilema. Di satu sisi, Federal Reserve AS semakin menunjukkan sikap hawkish. Di sisi lain, BI menghadapi target pertumbuhan base money dua digit yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga: IHCBS 2026 Dorong Pemanfaatan AI & Kolaborasi Korporasi untuk Perkuat SDM Indonesia

Target tersebut menjadi semakin menantang karena mengharuskan BI mengurangi penerbitan bersih operasi moneter terbuka (net OMO) secara signifikan. Langkah tersebut pada akhirnya turut mendorong penurunan suku bunga SRBI.

Menurut Citi, apabila tekanan untuk mengejar pertumbuhan base money mulai dikurangi, BI akan mendapatkan fleksibilitas lebih besar dalam mengelola likuiditas dan menentukan kecepatan penurunan suku bunga SRBI.

Meski pergantian Menteri Keuangan dinilai membawa potensi perbaikan dari sisi komunikasi dan kredibilitas kebijakan, Citi tidak melihat adanya ruang yang cukup untuk perubahan besar dalam kebijakan fiskal. "Namun demikian, kendala anggaran masih banyak dan ruang fiskal tetap terbatas," tulis Citi.

Karena itu, Citi tidak memperkirakan adanya perubahan strategis terhadap postur anggaran maupun prospek pasokan obligasi pemerintah dalam waktu dekat.

Dengan kata lain, pergantian Menkeu lebih berpotensi membawa perubahan pada cara pemerintah mengomunikasikan dan menjalankan kebijakan dibandingkan perubahan drastis terhadap arah fiskal.

Citi melihat kombinasi pengalaman Suahasil di bidang fiskal, perbaikan komunikasi dengan pasar global, serta kembalinya kebijakan secara bertahap ke jalur yang lebih ortodoks dapat menjadi faktor yang membantu menjaga persepsi investor dan lembaga pemeringkat terhadap Indonesia dalam satu tahun mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News