KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah menurunkan subsidi motor listrik dari Rp 7 juta menjadi Rp 5 juta per unit dinilai tetap memberi dorongan bagi pasar, meski bukan lagi faktor utama yang menentukan minat beli masyarakat.
Chief Executive Officer ALVA, Purbaja Pantja mengatakan, insentif masih berperan sebagai stimulus awal untuk memperluas adopsi kendaraan listrik, terutama pada fase pasar yang masih berkembang. "Namun, kami juga melihat perkembangan pasar saat ini mulai menunjukkan bahwa pertumbuhan industri tidak semata ditentukan oleh insentif. Seiring pasar semakin matang, keputusan konsumen semakin banyak dipengaruhi oleh faktor value, kesiapan ekosistem, kemudahan penggunaan, serta pengalaman kepemilikan jangka panjang," ujar Purbaja kepada Kontan, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: BBM Naik dan Pelemahan Rupiah, Margin dan Laju Investasi Industri Alat Berat Tertekan Menurutnya, selain harga, konsumen kini semakin mempertimbangkan efisiensi biaya operasional, kualitas produk, keandalan baterai, akses pengisian daya, hingga layanan purna jual. ALVA menilai besaran subsidi tetap menjadi faktor penting, tetapi bukan satu-satunya penentu dalam mendorong minat beli. Oleh karena itu, perusahaan lebih menitikberatkan pada penguatan ekosistem sebagai fondasi pertumbuhan. Saat ini, ALVA telah memiliki lebih dari 220 konektor Boost Charge Station di 110 lokasi, serta didukung 125 mitra layanan purna jual yang tersebar di 40 kota. Perusahaan juga menyediakan layanan pelanggan dan bantuan darurat selama 24 jam. Di tengah potensi penurunan insentif, ALVA menyiapkan strategi untuk menjaga penjualan dengan memperkuat portofolio produk. Beberapa model yang ditawarkan mencakup ALVA ONE untuk penggunaan harian, ALVA CERVO untuk performa, serta ALVA N3 Next Gen yang difokuskan pada efisiensi dan utilitas. Selain itu, ALVA juga mengandalkan inovasi skema kepemilikan untuk menjaga daya beli konsumen. Salah satunya melalui program BEBAS PAS pada ALVA N3 Next Gen yang menawarkan biaya langganan mulai dari Rp 125.000 per bulan dengan jarak tempuh hingga 750 kilometer. Perusahaan juga memperluas akses pembiayaan dengan menggandeng lebih dari 17 mitra pembiayaan, baik di tingkat nasional maupun regional.
Baca Juga: Centrepark Dorong Inovasi Parkir Berbasis Teknologi Ke depan, ALVA menegaskan akan tetap berfokus pada kemudahan akses kepemilikan kendaraan listrik, penguatan kualitas produk, serta keberlanjutan layanan guna menopang pertumbuhan industri di tengah dinamika kebijakan insentif. Sebelumnya dalam catatan Kontan, Pemerintah tengah menyiapkan kembali kebijakan insentif untuk pembelian motor listrik yang direncanakan berlaku pada 2026. Program ini masih dalam tahap awal perumusan, namun sudah mulai dibahas lintas kementerian.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan nilai subsidi yang sedang dikaji berkisar Rp 5 juta per unit. Skema pemberian bantuan nantinya tidak dilakukan sekaligus, melainkan secara bertahap menyesuaikan kesiapan anggaran negara. Purbaya menyebut pemerintah tetap berhati-hati dalam menyusun kebijakan tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak semua pembelian akan langsung mendapatkan subsidi dalam waktu bersamaan. "Tahun ini (ada subsidi motor listrik). Ya enggak semuanya, bertahaplah. Subsidi mungkin Rp 5 juta per motor atau lebih," ujar Purbaya dalam Media Briefing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News