Membangun usaha bisnis jasa tur dan wisata di Bali dengan kondisi persaingan yang saat ini sudah lumayan sengit menjadi pilihan Esti Wijaya. Sebagian orang mungkin menganggap ini sama saja dengan bunuh diri, namun Esti optimistis usahanya bernama Bali Must Be Crazy yang baru dia rintis tahun lalu ini bakal sukses. Sebab, Esti mengusung strategi jasa tur dan wisata yang berbeda dari yang lain. Wanita asli Semarang ini mengatakan, Bali Must Be Crazy menawarkan jasa tur berbahasa Prancis. Ini sesuai dengan keterampilan yang dia miliki sebagai lulusan Pendidikan Bahasa Prancis dari Universitas Negeri Semarang. Dia melihat, tur berbahasa Inggris sudah terlalu banyak, sehingga dia menyasar pangsa pasar turis yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam berkomunikasi. Selain turis dari Prancis, banyak juga turis asal Belgia, Swiss, Kanada, Maroko, Monako, Aljazair dan lain-lain yang menjadi konsumennya. "Meski kami juga tidak menutup kemungkinan melayani tur turis berbahasa Inggris maupun turis dari Asia walaupun persentasenya cuma 5%," kata dia.
Sukses mengembangkan tur wisata berbahasa Prancis
Membangun usaha bisnis jasa tur dan wisata di Bali dengan kondisi persaingan yang saat ini sudah lumayan sengit menjadi pilihan Esti Wijaya. Sebagian orang mungkin menganggap ini sama saja dengan bunuh diri, namun Esti optimistis usahanya bernama Bali Must Be Crazy yang baru dia rintis tahun lalu ini bakal sukses. Sebab, Esti mengusung strategi jasa tur dan wisata yang berbeda dari yang lain. Wanita asli Semarang ini mengatakan, Bali Must Be Crazy menawarkan jasa tur berbahasa Prancis. Ini sesuai dengan keterampilan yang dia miliki sebagai lulusan Pendidikan Bahasa Prancis dari Universitas Negeri Semarang. Dia melihat, tur berbahasa Inggris sudah terlalu banyak, sehingga dia menyasar pangsa pasar turis yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam berkomunikasi. Selain turis dari Prancis, banyak juga turis asal Belgia, Swiss, Kanada, Maroko, Monako, Aljazair dan lain-lain yang menjadi konsumennya. "Meski kami juga tidak menutup kemungkinan melayani tur turis berbahasa Inggris maupun turis dari Asia walaupun persentasenya cuma 5%," kata dia.