Sukses menggurat laba dari kaus khas Surabaya (1)



Bisnis oleh-oleh masih menjanjikan. Peluang ini  ditangkap oleh Dwika Roesmika yang sukses menekuni usaha pembuatan suvenir khas Surabaya.Merintis usaha sejak 2005, Dwika awalnya fokus membuat kaus dengan gambar dan tulisan-tulisan khas Surabaya. Kaus buatannya ini diberi merek Cak Cuk Surabaya.

Ketika awal merintis, usaha ini masih menjadi bisnis sampingan bagi Dwika. Soalnya, saat itu ia juga masih punya kesibukan lain sebagai akuntan di salah satu perusahaan di Surabaya.

Namun, setelah bisnisnya berkembang, laki-laki berperawakan besar ini akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai akuntan dan fokus menjalankan bisnis pembuatan kaus khas Surabaya.


Awalnya, kaus buatan saya hanya untuk remaja dan dewasa. Tetapi melihat tingginya antusias pembeli, kini Cak Cuk Surabaya dapat dipakai untuk semua kalangan,” kata pria yang akrab disapa Dwi ini kepada Kontan.

Dwi mulai membuka outlet pertamanya di daerah Dharmawangsa, Surabaya. Setelah usahanya berkembang pesat, ia lalu memindahkan kantor pusat Cak Cuk Surabaya ke Jalan Raya Suramadu, Surabaya.

Di tempat baru ini, ukuran outlet Cak Cuk jauh lebih luas. Selain sebagai kantor pusat sekaligus toko, outlet ini juga dijadikan workshop dan tempat produksi. Di luar outlet pusat di Jalan Suramadu, kini Dwi juga memiliki lima outlet lainnya. Antara lain di Jalan Dharmawangsa, Ahmad Yani, Mayjen Sungkono, Gunung Sari, dan di Bandara Juanda, Surabaya.

Sebagai suvenir khas Surabaya, kaus buatan Dwi dibuat dengan tulisan-tulisan plesetan menghibur khas Surabaya.  Tidak jarang ia juga mendesain kaus dengan menyertakan karakter ikon Kota Pahlawan, yaitu gambar buaya dan ikan Suro.

Selain kaus, belakangan ia juga memproduksi aneka suvenir lainnya, seperti tas, topi, mug, gantungan kunci, ular tangga, monopoli, kartu mainan dan lainnya. Seluruh produk buatannya itu dibanderol mulai Rp 55.000 sampai Rp 105.000 per buah.

Untuk memproduksi suvenir-suvenir tersebut, Dwi dibantu 40 orang karyawan. Demi menjaga kualitas produknya, ia sengaja mempekerjakan para tukang jahit terampil dan sudah terlatih. Sedangkan untuk desain, banyak dibuat oleh Dwi sendiri. “Biasanya saya dapat ide sewaktu saya jalan-jalan,” kata pria 38 tahun ini.

Kadang mahasiswa magang juga membantu menyumbangkan ide-ide buat desain produknya. Menurut Dwi, konsumen yang mampir ke outletnya kebanyakan wisatawan lokal yang berasal dari Jawa Tengah, Jakarta, Bandung, Kalimantan dan daerah lainnya. Tidak jarang pula penduduk asli Surabaya yang mencari kaos atau suvenir unik khas kota sendiri.

Untuk menggenjot penjualan, Dwi memasarkan produknya kepada orang-orang Indonesia yang hidup di luar negeri. Hasilnya ternyata lumayan. Banyak orang Indonesia di Amerika dan Australia membeli suvenirnya, untuk dipakai sendiri maupun akan dijual kembali. Dengan luasnya jangkauan konsumen, ia kini mampu mengantongi omzet hingga  Rp 300 juta per bulan.             (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News