Suksesi Gubernur BI Jadi Sorotan, Simak Efeknya ke Pergerakan Rupiah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Suksesi Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal pengganti Perry Warjiyo. Kabar ini menjadi salah satu sentimen penggerak rupiah.

Kemarin, Senin (10/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,8% ke Rp 17.755 per dolar Amerika Serikat (AS). Sayangnya, nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan hingga perdagangan tengah hari ini. 

Selasa (11/8/2026), rupiah spot berada di level Rp 17.820 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,36% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.755 per dolar AS.


Baca Juga: NAB Reksadana Tembus Rp 667 Triliun per 7 Agustus 2026

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pencalonan Destry Damayanti sebagai pengganti Perry Warjiyo meredam kekhawatiran independensi BI, namun bukan artinya akan terus mendukung rupiah, 

“Sentimen negatif berkurang kemarin, penguatan besar rupiah pada hari Senin sudah priced-in hal ini,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Selanjutnya, rupiah bisa menguat apabila data-data ekonomi membaik dan BI terus menjaga stabilitas rupiah dengan kebijakan-kebijakan moneter yang dianggap sesuai harapan investor.

Baca Juga: Usai Ganti Pengendali, Karya Pacific Energy (IATA) Hadirkan Logo Baru

Dari global, sentimennya bisa berasal dari masalah geopolitik di Timur Tengah yang bisa mempengaruhi harga minyak dunia dan prospek suku bunga The Fed.

“Sementara dari domestik ada data-data ekonomi, seperti cadangan devisa (cadev), perdagangan, pertumbuhan PDB, inflasi, serta kebijakan pemerintah dan BI,” ungkapnya.

Lukman melihat, hingga akhir tahun 2026, tidak ada mata uang global yang akan menonjol kinerjanya lantaran masih tingginya ketidakpastian geopolitik.

Namun, dolar Australia (AUD) mungkin masih bisa menjadi andalan investor saat ini. Sentimennya berasal dari dukungan harga komoditas yang masih tinggi, terlebih tembaga juga masih terus naik. 

“Sebagai mata uang yang paling sensitif terhadap risiko, AUD terpantau lebih resilien dibandingkan mata uang utama dunia lainnya. Apabila geopolitik mereda, AUD bisa menjadi yang paling bersinar,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News