Suku Bunga Acuan Belum Naik, Korporasi Kompak Terbitkan Surat Utang di Awal Februari



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selagi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) belum naik, perusahaan kompak menerbitkan obligasi korporasi. Di pekan depan akan ada tiga obligasi korporasi yang meluncur. 

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan perusahaan mulai menerbitkan surat utang di tengah suku bunga acuan BI belum naik. 

Di tahun ini suku bunga BI diproyeksikan naik dua kali seiring suku bunga Amerika Serikat yang juga diproyeksikan naik 3 atau 4 kali di periode yang sama. 


"Sebelum suku bunga naik, menjadi kondisi yang tepat bagi perusahaan menerbitkan obligasi korporasi," kata Ramdhan, Kamis (3/2). 

Ketiga perusahaan yang akan menerbitkan obligasi dalam waktu dekat ini adalah PT Wijaya Karya (Persero) (WIKA), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMAR), dan PT PT Usaha Pembiayaan RelianceIndonesia (Reliance Finance).

Baca Juga: Penyebaran Kasus Covid-19 Jadi Faktor Penentu Kinerja Reksadana di Februari

1. WIKA akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II Wijaya Karya Tahap II Tahun 2022 senilai Rp1,75 triliun yang terdiri dari 3 seri. Seri A tenor 3 tahun menawarkan kupon 6,5%. Seri B tenor 5 tahun menawarkan kupon 7,75%. Seri C tenor 7 tahun menawarkan kupon 8,3%. Masa penawaran obligasi ini dilaksanakan 9-10 Februari 2022. 

WIKA juga akan menerbitkan Sukuk Mudharabah II Wijaya Karya Tahap II Tahun 2022 senilai Rp750 miliar. 

2. SMAR akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III SMART Tahap III Tahun 2022 ini yang ditawarkan dalam tiga seri. Seri A tenor 370 hari menawarkan kupon 5%. Seri B tenor 3 tahun menawarkan kupon 7,25%. Seri C tenor 5 tahun menawarkan kupon 8,25%. Obligasi ini akan ditawarkan di 9-11 Februari 2022. 

3. Reliance Finance akan menerbitkan Obligasi I REFI Tahun 2022 dengan jumlah pokok obligasi senilai Rp400 miliar ke dalam tiga seri. Seri A tenor 370 hari menawarkan kupon 8%. Seri B tenor 3 tahun menawarkan kupon 9%. Seri C tenor 5 tahun menawarkan kupon 9,5%. 

Ramdhan menilai dari ketiga tawaran obligasi tersebut, obligasi WIKA yang lebih menarik karena secara histori, jumlah surat utang WIKA di pasar obliagsi korporasi lebih banyak dari pada dua perusahaan yang lain. 

Baca Juga: Analis Sebut Hasil Penawaran SUN Cukup Baik Meski Lebih Rendah, Ini Alasannya

Namun, sebelum membeli obligasi korporasi, Ramdhan mengatakan baiknya investor jeli memperhatikan kembali kemampuan bayar perusahaan tersebut. Ramdhan juga mengingatkan PT Waskita Beton Precast (WSBP) yang melakukan penundaan bunga ke-9 atas Obligasi Berkelanjutan I Waskita Beton Precast Tahap II Tahun 2019 berpotensi beri sentimen negatif pada penawaran obligasi dari sektor infrastruktur. 

"Adanya perusahaan milik negara yang gagal bayar tidak dipungkiri berpotensi mengganggu kepercayaan investor secara keseluruhan pada obligasi korporasi, sehingga investor masih akan bersikap hati-hati," kata Ramdhan. 

Bagaimanapun dampak pandemi belum rata membuat seluruh sektor usaha pulih. Hal tersebut berpotensi mengganggu arus dana perusahaan dalam membayar utang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi