Suku Bunga Acuan Ditahan di 5,75% di Juli 2026, Akankah Terjadi Rotasi Sektor Saham?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rotasi sektoral saham diperkirakan masih akan terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan di 5,75% pada bulan Juli 2026.

Di mana, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026 di level 5,75% pada Rabu (22/7/2026).

IHSG pun tercatat turun 0,09% ke level 6.334 di akhir perdagangan hari ini. Dana asing pun tercatat keluar Rp 1,11 triliun dari pasar reguler.


Sejak awal tahun, IHSG turun 26,74% year to date (YTD). Dana asing juga sudah keluar total Rp 90,52 triliun secara YTD.

Baca Juga: Siloam (SILO) Perluas Bedah Robotik, Analis Lihat Peluang Pertumbuhan Kinerja

Sektor properti, energi, dan kesehatan tercatat menjadi tiga sektor dengan performa terbawah dengan masing-masing indeks turun 32,36%, 31,72%, dan 31,44% YTD.

Sementara, sektor keuangan dan consumer non cyclicals mengalami penurunan yang tak terlalu dalam, dengan koreksi masing-masing 11,06% dan 15,80% YTD.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, pada dasarnya, pasar ekuitas cenderung merespons positif ketika bank sentral, baik The Fed maupun BI, mengambil kebijakan yang lebih dovish

Sebaliknya, kenaikan suku bunga umumnya menjadi sentimen negatif bagi pasar saham, karena meningkatkan cost of fund (CoF), menekan aktivitas ekonomi, serta mengurangi daya tarik aset berisiko tinggi.

Namun, kondisi saat ini sedikit berbeda. Pasar juga tengah mengantisipasi potensi pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

“Salah satu instrumen yang dapat digunakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar adalah melalui monetary tightening, termasuk menaikkan suku bunga,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Di satu sisi, penguatan rupiah ini menjadi sentimen yang kurang positif bagi export-oriented companies, karena harga produk menjadi relatif lebih mahal di pasar global. Sementara, pendapatan ekspor yang dikonversi ke rupiah juga berpotensi menurun. 

Baca Juga: Emiten Tambang Ketiban Berkah Program Hilirisasi, Cek Rekomendasi Sahamnya

Sebaliknya, import-oriented companies justru diuntungkan karena biaya impor bahan baku menjadi lebih rendah seiring menguatnya rupiah.

Meski demikian, keputusan untuk long-term accumulation tidak seharusnya hanya didasarkan pada faktor suku bunga maupun pergerakan nilai tukar. 

“Investor tetap perlu mempertimbangkan fundamental, valuation, prospek industri, earnings outlook, serta berbagai faktor makroekonomi lainnya agar memperoleh gambaran investasi yang lebih komprehensif,” tuturnya.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengatakan, di tengah kondisi saat ini, rotasi sektoral berpeluang terjadi, tetapi masih selektif. 

Sektor perbankan besar, konsumer defensif, telekomunikasi, dan sebagian energi berpotensi diburu karena fundamental dan arus kasnya kuat. 

“Sektor properti, konstruksi, serta emiten berutang tinggi masih cenderung dihindari selama bunga tetap tinggi,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan juga menilai bahwa sektor keuangan masih berpeluang diburu pasca RDG BI Juli 2026. Namun, pembelian kemungkinan tetap selektif pada bank besar, seperti BBCA dan BMRI

Kenaikan suku bunga dinilai tidak otomatis positif bagi seluruh bank karena dapat meningkatkan CoF, menekan permintaan kredit, serta meningkatkan risiko cost of credit.

Bank yang memiliki porsi dana murah atau CASA tinggi, likuiditas kuat, dan kualitas aset terjaga dinilai akan lebih defensif dibandingkan bank kecil atau perusahaan pembiayaan yang lebih bergantung pada pendanaan mahal. 

“BBCA memiliki porsi CASA sekitar 85,2% dari total DPK, sedangkan BMRI juga masih memiliki struktur dana murah dan kualitas aset yang relatif kuat,” katanya kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

 
BBCA Chart by TradingView

Kemudian, sektor energi juga dinilai masih menarik, terutama emiten minyak dan gas yang memperoleh pendapatan berbasis dolar AS dan masih diuntungkan oleh harga energi yang tinggi.

Sementara itu, sektor telekomunikasi dapat menjadi pilihan defensif karena memiliki pendapatan berulang, kebutuhan layanan data yang relatif stabil, serta arus kas operasional yang cukup kuat. 

TLKM, misalnya, mencatat arus kas operasional sebesar Rp 17,3 triliun pada Kuartal I-2026,” tuturnya.

Sebaliknya, sektor properti, konstruksi, dan infrastruktur dengan tingkat utang tinggi berpotensi kembali mengalami tekanan karena kenaikan bunga dapat meningkatkan biaya pendanaan sekaligus menahan permintaan. 

“Saham konsumsi siklikal dan transportasi udara juga perlu dicermati karena menghadapi kombinasi tekanan daya beli, tingginya bunga pembiayaan, risiko pelemahan rupiah, serta kenaikan biaya bahan bakar,” paparnya.

Ke depan, Budi melihat, sektor perbankan dilihat masih menarik, terutama bank dengan dana murah kuat. Sektor telekomunikasi relatif defensif, sedangkan energi berpeluang pulih tetapi sensitif terhadap harga komoditas. 

“Sektor properti dan infrastruktur bisa rebound jika rupiah stabil dan ekspektasi penurunan bunga menguat,” katanya.

Untuk jangka menengah-panjang, Budi melihat saham BBCA, BMRI, dan TLKM masih prospektif. Dari sektor energi-logistik, saham AKRA juga menarik untuk dilirik, sedangkan CTRA cocok sebagai pilihan taktis bila ada katalis penurunan suku bunga.

“Investor tetap perlu mengutamakan neraca sehat, laba stabil, dan valuasi wajar,” paparnya.

Baca Juga: Daya Serap Obligasi Korporasi Masih Kuat, Investor Kian Selektif

Ekky berpandangan, untuk jangka panjang, saham bank besar dan telekomunikasi masih dapat dikoleksi secara bertahap karena memiliki fundamental serta arus kas yang relatif lebih kuat.

Saham energi lebih cocok untuk strategi jangka pendek hingga menengah karena masih sangat dipengaruhi oleh siklus harga komoditas. 

“Sementara itu, saham properti dapat mulai dicermati sebagai pilihan contrarian untuk jangka panjang setelah terdapat kepastian bahwa siklus kenaikan suku bunga telah mendekati puncaknya dan rupiah mulai lebih stabil,” katanya.

Jika BI nanti kembali menaikkan suku bunga, investor disarankan untuk tidak mengejar saham yang telah mengalami kenaikan tinggi. 

“Investor sebaiknya melakukan akumulasi secara selektif pada emiten dengan arus kas kuat, dana murah, utang terkendali, dan fundamental yang masih tumbuh,” katanya.

Dari sektor perbankan, Ekky merekomendasikan buy on weakness untuk BBCA dan BMRI dengan target harga masing-masing Rp 6.800 -Rp 7.000 per saham dan Rp 4.800–Rp 5.000 per saham.

Dari sektor infrastruktur subsektor telekomunikasi, rekomendasi buy on weakness ditujukan untuk TLKM dengan target harga Rp 2.900 – Rp 3.000 per saham.

Dari sektor energi, Ekky merekomendasikan trading buy untuk MEDC selama harga minyak berada pada level tinggi dengan target harga di area Rp 1.550 – Rp 1.600 per saham.

Baca Juga: IHSG Rawan Terkoreksi pada Kamis (23/7), Simak Rekomendasi Saham Analis

Imam menambahkan, sektor yang masih prospektif dan menarik untuk dilirik adalah CPO. Hal ini didorong oleh tingginya harga CPO global, kuatnya permintaan domestik, rendahnya paparan volatilitas kurs, serta sehatnya fundamental industri CPO saat ini.

Rekomendasi beli disematkan Imam untuk TAPG dengan target harga Rp 2.100 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News