KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin (13/4) seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya kekhawatiran inflasi setelah perundingan damai AS-Iran berakhir tanpa kesepakatan pada akhir pekan. Kondisi tersebut membuat prospek pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menjadi semakin tidak pasti. Berdasarkan data
Reuters, harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 4.734,50 per ounce pada pukul 13.37 waktu setempat (1737 GMT). Harga sempat menyentuh level terendah sejak 7 April dalam sesi perdagangan.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup turun 0,4% ke level US$ 4.767,40 per ounce. Penguatan dolar AS turut menekan harga emas karena membuat logam mulia berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. "Pasar sangat dipengaruhi berita utama. Semua mata tertuju pada harga minyak mentah karena minyak akan mengarahkan inflasi dan itu akan menentukan kebijakan Federal Reserve," kata Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures.
Konflik Iran dorong lonjakan harga minyak dan tekanan inflasi
Setelah perundingan damai gagal, militer AS menyatakan akan melakukan blokade terhadap kapal-kapal yang keluar dari pelabuhan Iran. Iran pun mengancam akan membalas dengan menyerang pelabuhan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Pengumuman tersebut mendorong harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi global, sehingga mempersempit ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga.
Baca Juga: Selat Hormuz Lumpuh: Harga Minyak Spot Eropa Capai Rekor US$ 150 Suku bunga tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas, karena emas tidak memberikan imbal hasil (zero-yield), meskipun emas sering dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Pasar kini memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga AS hingga akhir tahun hanya sekitar 29%, berdasarkan CME FedWatch Tool. Angka tersebut turun dari 40% sebulan lalu. Harga emas spot juga telah turun lebih dari 10% sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari. Meski demikian, analis SP Angel menilai aksi jual akibat perang ini masih tergolong sehat bagi prospek jangka panjang emas, karena posisi spekulatif di pasar berkurang. “Kami melihat aksi jual akibat perang ini sebagai hal yang sehat bagi prospek jangka panjang emas, karena posisi spekulatif telah berkurang,” tulis analis SP Angel.
Tonton: Negosiasi AS-Iran Gagal, Rupiah Melemah dan Risiko Defisit APBN Melebar Pergerakan logam mulia lainnya
Sementara itu, harga perak spot turun 0,2% menjadi US$ 75,71 per ounce. Strategis pasar Sprott Asset Management, Paul Wong, mengatakan ketidakpastian pasokan minyak ke depan kemungkinan akan meningkatkan permintaan struktural terhadap perak, terutama karena percepatan investasi pada panel surya (solar photovoltaics). Harga platinum naik 0,3% menjadi US$ 2.050,80 per ounce, sedangkan palladium melonjak 3% menjadi US$ 1.566,15 per ounce. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News