Suku Bunga BOJ: Dilema Baru di Tengah Lonjakan Inflasi Global



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bank of Japan (BOJ) diperkirakan menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan pekan ini. Namun bank sentral Jepang kemungkinan tetap memberi sinyal kecenderungan menaikkan suku bunga di tengah tekanan inflasi yang meningkat akibat lonjakan harga energi.

Tekanan tersebut dipicu melonjaknya harga minyak global setelah pecahnya konflik Perang Iran–AS–Israel 2026 pada 28 Februari lalu. Harga minyak dunia bahkan sempat naik hingga sekitar 70%, memicu kekhawatiran baru soal inflasi di banyak negara.

Reuters (16/3) melaporkan, bagi Jepang, dampaknya lebih terasa. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak langsung meningkatkan biaya impor dan menekan stabilitas harga domestik. Di sisi lain, pelemahan yen juga memperburuk tekanan inflasi dari sisi impor.


Situasi ini menempatkan BOJ dalam dilema kebijakan. Jika suku bunga dinaikkan terlalu cepat, risiko perlambatan ekonomi bisa meningkat karena beban biaya energi sudah tinggi. Namun jika terlambat bertindak, tekanan inflasi berpotensi semakin menguat.

Dalam rapat kebijakan dua hari yang berakhir Kamis, BOJ diperkirakan mempertahankan suku bunga jangka pendek di level 0,75%. Bank sentral juga kemungkinan belum mengubah proyeksi bahwa ekonomi Jepang masih berada di jalur pemulihan moderat.

Baca Juga: Tolak Permintaan AS, Jepang Belum Berencana Kirim Misi Pengawalan ke Selat Hormuz

Pasar kini menunggu sinyal dari Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengenai arah kebijakan berikutnya. Investor akan mencermati apakah BOJ tetap percaya diri melanjutkan siklus kenaikan suku bunga, atau memilih menunggu dampak konflik geopolitik terhadap ekonomi.

Naomi Fink, kepala strategi global di Amova Asset Management, menilai BOJ berisiko menghadapi situasi mirip stagflasi jika inflasi terus naik sementara pertumbuhan melemah.

Menurutnya, menaikkan suku bunga memang dapat memperburuk kondisi ekonomi domestik. Namun jika BOJ terlalu lambat merespons inflasi, pelemahan yen bisa semakin dalam dan kredibilitas kebijakan moneter dipertanyakan.

Ujian berikutnya bagi BOJ kemungkinan terjadi pada pertemuan April, ketika bank sentral melakukan evaluasi triwulanan terhadap proyeksi ekonomi. Saat itu BOJ juga akan memiliki lebih banyak data mengenai dampak konflik terhadap aktivitas bisnis, termasuk hasil survei bisnis “tankan” yang dijadwalkan rilis awal April.

Jika harga minyak tetap tinggi dan perang berlarut-larut, BOJ mungkin harus meninjau ulang asumsi utamanya bahwa kenaikan upah dan pertumbuhan ekonomi yang stabil akan menjaga inflasi berada di sekitar target.

Di sisi lain, menunda kenaikan suku bunga terlalu lama juga berisiko. Jepang masih memiliki suku bunga riil yang sangat negatif, sehingga tekanan inflasi dari kenaikan biaya impor dapat semakin menggerus efektivitas kebijakan moneter yang telah ditempuh.

Meski ada risiko terhadap pertumbuhan, pasar masih melihat peluang sekitar 70% bahwa BOJ akan kembali menaikkan suku bunga pada April. Ekspektasi tersebut juga tercermin dari naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Jepang yang sempat menyentuh level tertinggi dalam sebulan pada awal pekan ini.

Baca Juga: Jepang Akan Melepas Cadangan Minyak Pasca AS Menyerukan untuk Membeli Produk AS

TAG: