Suku Bunga ECB dan Yield US Treasury Naik, Dana Asing ke Indonesia Diprediksi Volatil



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek arus dana asing ke pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan pada kuartal IV 2026.

Kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) dan imbal hasil (yield) US Treasury (UST) yang mendekati 5% membuat aset emerging market harus menawarkan premi risiko lebih tinggi.

Diketahui, ECB baru-baru ini menaikkan suku bunga acuannha sebesar 25 basis poin menjadi 2,50% pada Kamis waktu setempat. Sejalan dengan itu, yield UST saat ini bertengger di level tinggi, yakni 4,94% pada Jumat (11/9/2026).


Baca Juga: Rupiah Diprediksi Volatil Pekan Depan, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengatakan, kenaikan suku bunga ECB dan yield UST berpotensi membuat investor global lebih selektif dalam menempatkan dana di pasar emerging market, termasuk Indonesia.

"Dalam kondisi dolar kuat dan imbal hasil aset AS tinggi, arus asing ke saham dan SBN Indonesia menjadi lebih selektif dan rentan berbalik arah," ujar Rizal kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).

Menurut Rizal, tekanan tersebut berpotensi paling terasa di pasar saham, khususnya pada saham berkapitalisasi besar atau big caps yang memiliki kepemilikan asing tinggi dan sensitif terhadap pergerakan suku bunga.

Sahan-saham sektor perbankan, properti, teknologi, dan consumer discretionary menjadi sektor yang diperkirakan paling rentan apabila terjadi arus keluar dana asing.

Sementara di pasar obligasi, kenaikan yield UST berpotensi mendorong yield Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia ikut meningkat. Terlebih apabila tekanan terhadap rupiah dan harga minyak global masih berlanjut.

"Jika UST bertahan sekitar 5%, yield SBN 10 tahun berpotensi naik ke kisaran 7,0%-7,5%, terlebih jika rupiah melemah dan harga minyak tetap tinggi," jelas Rizal.

Baca Juga: Tertekan Sentimen Global, Intip Pergerakan Rupiah Sepekan dan Proyeksinya

Memasuki kuartal IV 2026, Rizal tidak melihat adanya potensi strong inflow dana asing ke pasar keuangan Indonesia. Arus modal asing diperkirakan cenderung bergerak volatil seiring masih tingginya ketidakpastian global.

Untuk pasar obligasi, Rizal memperkirakan yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,0%-7,5% pada kuartal IV 2026.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan berada di kisaran 7.700-8.200.

Menurut Rizal, risiko terbesar adalah terjadinya tekanan secara bersamaan pada tiga aset domestik, yakni saham, SBN, dan rupiah. Skenario tersebut dapat terjadi apabila yield UST tetap tinggi, dolar AS kembali menguat, dan shock harga minyak berlanjut.

"Untuk kuartal IV 2026, saya melihat arus asing cenderung volatil, bukan strong inflow," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News