KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham dan obligasi global tertekan pada Jumat (18/9/2026), setelah sejumlah bank sentral utama memperketat kebijakan moneter untuk meredam inflasi di tengah tingginya risiko harga energi dan ketegangan geopolitik. Bank of Japan (BOJ) menjadi bank sentral terakhir yang menaikkan suku bunga pada pekan ini. BOJ mengerek suku bunga acuannya ke 1,25%, level tertinggi dalam 31 tahun. Meski telah diperkirakan pasar, kenaikan tersebut justru diikuti pelemahan yen. Dolar AS menguat 1,2% menjadi 157,82 yen setelah dua anggota dewan BOJ berbeda pendapat terhadap keputusan kenaikan suku bunga.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan fokus kebijakan telah bergeser karena inflasi yang mendasari mendekati target 2%. Mayoritas anggota dewan juga menilai kebijakan moneter masih akomodatif meski suku bunga telah dinaikkan.
Baca Juga: Harga Emas Turun 1,2% Usai Minyak Melonjak, Pasar Khawatir Suku Bunga Global Naik Chris Scicluna, Kepala Riset Daiwa Capital Markets Europe, mengatakan pelemahan yen dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi Jepang dan membuka ruang bagi BOJ untuk melanjutkan pengetatan. "Pelemahan yen dapat kembali memperburuk inflasi," ujar Scicluna. Tekanan terhadap yen juga dipengaruhi langkah The Fed yang menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026) dan mengambil sikap lebih agresif terhadap inflasi. Yen kini berada di jalur penurunan sekitar 2,6% terhadap dolar AS dalam sepekan, meski masih menguat 1,2% sepanjang September. Suku bunga global menguat Keputusan BOJ melengkapi rangkaian kebijakan bank sentral yang semakin hawkish. September mencatat kenaikan rata-rata suku bunga terbesar negara G10 sejak Juli 2023. Empat bank sentral telah menaikkan suku bunga, sementara lainnya membuka peluang pengetatan lebih lanjut. Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga, tetapi mengisyaratkan kenaikan jika perang Iran berlangsung lebih lama. ECB dan bank sentral Australia juga melihat risiko inflasi yang lebih tinggi.
Baca Juga: Suku Bunga Acuan Naik, Investor Perlu Cermat Rebalancing Portofolio Saham Di pasar komoditas, harga Brent sempat turun 2,8% menjadi US$101,92 per barel setelah muncul laporan China meminta Iran membantu meredam kelompok Houthi. Namun, harga minyak fisik masih sekitar US$120 per barel sehingga risiko inflasi energi tetap tinggi. Saham Eropa turun sekitar 0,5%, sedangkan kontrak berjangka saham AS naik 0,2%-0,5%. Pasar obligasi relatif stabil setelah aksi jual tajam sepanjang pekan, dengan imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,96% setelah sempat menembus 5%, level tertinggi sejak 2007. Kondisi tersebut menunjukkan penurunan harga minyak belum cukup meredakan tekanan di pasar karena investor masih menghadapi prospek suku bunga tinggi, inflasi energi dan ketidakpastian geopolitik.