Suku Bunga Global Turun, BNI Sekuritas Optimistis IHSG Tembus 9.100 di 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. BNI Sekuritas memandang prospek pasar modal Indonesia pada 2026 akan menarik seiring dengan perubahan suku bunga global.  

VP Equity Research BNI Sekuritas Yulinda Hartanto, CFA, mengatakan lingkungan suku bunga global yang memasuki fase penurunan berpotensi mendorong aliran dana kembali ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia menyebut The Fed diproyeksikan memangkas suku bunga hingga kisaran 3%-3,5% pada akhir 2026, disertai pelemahan struktural dolar AS.

“Lingkungan global yang berubah dari headwind menjadi tailwind membuka peluang arus dana kembali ke emerging markets, termasuk Indonesia,” ujar Yulinda dalam riset BNI Sekuritas yang dikutip Kontan, Jumat (2/1/2026).


Baca Juga: Prospek Saham Masih Menjanjikan di 2026, Ini Pilihan Sektornya

Namun, berbeda dengan siklus sebelumnya, Yulinda menilai penggerak utama pasar ke depan tidak hanya berasal dari investor asing. Menurutnya, investor domestik justru akan memainkan peran yang semakin dominan.

“Kami melihat penggerak pasar 2026 tidak hanya investor asing. Institusi lokal seperti dana pensiun, perbankan, hingga potensi peran Danantara akan menjadi penopang utama reli lanjutan,” jelasnya.

Ia menambahkan, posisi kepemilikan institusional lokal yang masih relatif rendah membuka ruang re-rating struktural di pasar saham. “Arus asing akan berperan sebagai katalis tambahan, terutama ketika valuasi dan stabilitas makro semakin menarik,” imbuh Yulinda.

Dari sisi sentimen, BNI Sekuritas mencatat sejumlah faktor pendukung IHSG pada 2026. Di antaranya kebijakan moneter yang tetap akomodatif, dengan Bank Indonesia telah memangkas suku bunga total 125 basis poin sepanjang 2025 dan masih memiliki ruang pelonggaran lanjutan selama stabilitas rupiah terjaga.

“Likuiditas sistem juga membaik, seiring penurunan outstanding SRBI dan relokasi dana pemerintah ke perbankan BUMN,” ujar Yulinda.

Baca Juga: Anak Usaha BUMA Internasional Grup (DOID) Rombak Susunan Direksi dan Komisaris

Selain itu, APBN 2026 yang berorientasi pro-pertumbuhan dengan target pertumbuhan ekonomi 5,4% dan defisit sekitar 2,7% PDB dinilai akan menopang konsumsi dan investasi. Dari eksternal, stimulus fiskal China dinilai membantu menjaga kinerja harga dan volume ekspor komoditas Indonesia.

Meski demikian, Yulinda mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati, seperti potensi perlambatan global atau stagflasi AS yang dapat memperkuat dolar AS sementara. “Risiko lain datang dari potensi eskalasi tarif AS serta ketidakpastian regulasi eksternal, termasuk EU deforestation rule untuk rantai pasok CPO,” katanya.

Dari sisi sektoral, BNI Sekuritas memproyeksikan rotasi ke saham-saham berbasis fundamental dan berkapitalisasi besar. Yulinda menyebut sektor consumer dan proxy konsumsi seperti telekomunikasi dan FMCG berpeluang diuntungkan dari penurunan suku bunga dan stimulus fiskal.

“Sektor healthcare dan building materials juga menarik, seiring eksekusi APBN dan siklus perumahan,” ujarnya.

Sementara itu, komoditas terpilih seperti batu bara, CPO, dan emiten terkait nikel dinilai tetap prospektif seiring harga yang mendekati dasar dan membaiknya permintaan global. Saham-saham siklikal berkualitas dan emiten konglomerasi berkapitalisasi besar yang relatif under-owned juga dinilai berpeluang mengalami valuation catch-up.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, BNI Sekuritas mematok target IHSG di level 9.100 pada akhir 2026. Target ini setara dengan valuasi price to earnings ratio sekitar 13 kali, yang dinilai masih wajar dalam fase pemulihan.

“Valuasi tersebut berada sekitar 0,9 standar deviasi di bawah rerata lima tahun, sehingga masih tergolong reasonable dalam siklus pemulihan ekonomi,” jelas Yulinda.

Baca Juga: Dorong Penggunaan Indonia, BI Resmi Hentikan Publikasi Jibor Mulai 1 Januari 2026

Adapun untuk sektor teknologi, Yulinda menilai kekhawatiran bubble lebih relevan terjadi di pasar Amerika Serikat. “Karakter saham teknologi di Indonesia berbeda. Likuiditasnya lebih sempit dan sangat selektif, sehingga kecil kemungkinan menjadi sumber tekanan sistemik bagi IHSG,” ujarnya.

Ia menambahkan, sektor teknologi domestik tetap bersifat oportunistik dan bukan core allocation. “Kuncinya ada pada seleksi saham dan arus likuiditas domestik,” kata Yulinda.

Dari sisi pendanaan emiten, BNI Sekuritas melihat 2026 sebagai momentum kebangkitan pasar obligasi. “Obligasi menjadi instrumen pendanaan paling menarik seiring proyeksi yield SUN tenor 10 tahun menuju sekitar 5,8%,” ujar Yulinda.

Sementara itu, IPO diperkirakan tetap selektif dengan fokus pada emiten berkualitas dan valuasi rasional, sedangkan pinjaman bank kembali kompetitif seiring penurunan cost of fund dan pelonggaran kebijakan makroprudensial.

Selanjutnya: Baru IPO Juli 2025, Saham Orang Terkaya Indonesia Ini Akan Bayar Dividen Awal 2026

Menarik Dibaca: Cara Mendapatkan Uang dari Reels Facebook, Ikuti Panduan Langkah Demi Langkahnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News