Suku Bunga Naik, Bagaimana Dampaknya Bagi Pasar Obligasi?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asing diperkirakan akan kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia. Ini sejalan dengan upaya Bank Indonesia (BI) yang meningkatkan BI-Rate sebesar 25bps menjadi 6,25%.

Analis Fixed Income Sucorinvest Asset Management Alvaro Ihsan mengatakan, dalam jangka pendek, efek kenaikan suku bunga BI akan mengerek yield SBN Indonesia. Sehingga dampaknya cenderung negatif.

Meski begitu, Alvaro menilai kenaikan suku bunga oleh BI merupakan langkah yang ditujukan untuk menjaga nilai rupiah di tengah kuatnya dolar Amerika Serikat (AS). 


"Dalam jangka menengah, pasar obligasi Indonesia berpotensi kembali menguat seiring dengan mata uang rupiah yang mulai terkendali," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (25/4).

Baca Juga: BI Tingkatkan Suku Bunga, Begini Investasi di Pasar Obligasi

Hal itu dinilai akan kembali memberikan dorongan bagi investor asing untuk kembali memasuki pasar obligasi Indonesia. 

"Kuncinya, investor asing akan melihat rupiah yang kembali stabil serta langkah pengendalian moneter/fiskal sebelum kembali memasuki pasar obligasi Indonesia karena investor asing memiliki eksposur currency risk," sambungnya.

Terlebih, kata Alvaro, kenaikan BI-rate mendorong pelebaran spread antara US Treasury dengan Surat berharga Negara (SBN). Dibandingkan dengan US Treasury tenor 2 tahun, SBN 2 tahun memiliki kenaikan spread hingga mencapai 200bps dari sebelumnya sekitar 150-180bps. Untuk SBN tenor 10 tahun juga mengalami kenaikan spread terhadap US treasury hingga di angka 240bps.

"Sehingga akan meningkatkan daya saing dari pasar obligasi Indonesia," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi