Suku Bunga Naik, Begini Strategi yang Disiapkan Dharma Polimetal (DRMA)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) ingin melanjutkan tren pertumbuhan kinerja pada tahun 2024. DRMA pun menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak dari berbagai sentimen yang bisa memengaruhi kinerja industri otomotif.

Salah satunya adalah efek kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis points menjadi 6,25%. Industri otomotif menjadi salah satu sektor yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga karena berpotensi menekan penjualan.

Presiden Direktur Dharma Polimetal Irianto Santoso turut menyoroti hal tersebut. Apalagi, penjualan otomotif nasional terutama mobil sudah terlebih dulu merosot sebelum BI mengerek naik suku bunga acuan. Situasi ini tampak dari data penjualan pada kuartal I-2024.


Irianto menggambarkan, rata-rata penjualan mobil hanya menyentuh sekitar 70.000 unit per bulan pada kuartal I-2024. Menyusut dibandingkan dengan rata-rata penjualan mobil pada kuartal I tahun lalu yang menyentuh 90.000 unit per bulan.

Baca Juga: Megalestari Epack Sentosaraya (EPAC) Incar Penjualan Rp 150 Miliar pada 2024

"Tentunya kami sudah melakukan persiapan dan strategi, baik pengembangan produk baru maupun mencoba mendapatkan costumer baru. Prinsipnya, kami tetap memiliki target mencapai pertumbuhan dari penjualan," kata Irianto dalam konferensi pers yang digelar secara virtual, Kamis (25/4).

Irianto melanjutkan, DRMA tetap membuka peluang untuk meneruskan strategi ekspansi dan akuisisi. Hanya saja, mempertimbangkan situasi makro ekonomi dan faktor global saat ini, DRMA akan lebih berhati-hati. Apalagi di tengah tren pelemahan kurs rupiah yang sudah menembus level Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat.

Emiten komponen otomotif dari Triputra Group milik TP Rachmat ini pun akan lebih fokus menuntaskan agenda ekspansi yang sedang berjalan. Irianto bilang, progres pembangunan dua pabrik baru DRMA sudah cukup signifikan, yang diproyeksikan bisa beroperasi pada kuartal II dan kuartal III tahun ini.

Namun, Irianto mengatakan bahwa operasional dua pabrik baru tersebut belum berkontribusi signifikan terhadap pendapatan DRMA pada tahun ini. Selain itu, DRMA juga menggelar ekspansi pabrik di Cirebon. Langkah ekspansi ini menjadi bagian dari strategi DRMA menggenjot produksi komponen kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Terutama dalam memasok produk battery pack dan Brushless Direct Current (BLDC) motor. DRMA mengantisipasi pertumbuhan permintaan, khususnya dari mobil EV yang harus memenuhi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Irianto bilang, DRMA menyambut baik semakin ramainya pasar mobil EV di Indonesia. Dalam waktu dekat, DRMA pun siap memasok komponen untuk battery pack Hyundai yang rencananya akan mulai dikirim pada akhir Mei atau awal Juni 2024. 

Secara kinerja, Irianto menyampaikan DRMA optimistis bisa mencapai pertumbuhan top line dan bottom line di level 10% pada tahun ini. DRMA mematok target yang konservatif dengan menerapkan prinsip kehati-hatian.

Baca Juga: Itama Ranoraya (IRRA) Catat Kinerja Tumbuh di Kuartal I 2024

"Menurut perhitungan kami, pertumbuhan pendapatan Perseroan akan didorong oleh kompetensi kami dalam mendapatkan model baru dan pangsa pasar baru, serta optimalisasi dari quality cost delivery," tandas Irianto. 

Sebagai perbandingan, pada tahun 2023 DRMA mengantongi penjualan neto senilai Rp 5,54 triliun, tumbuh 42% dibandingkan capain tahun 2022. Dari jumlah itu, DRMA meraih laba bersih sebesar Rp 611,75 miliar atau meningkat 55,2% dibandingkan 2022.

Guna menunjang strategi dan target bisnis tersebut, DRMA menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 300 miliar - Rp 400 miliar. 

"Kami berusaha membiayai dari operasional kami, dan sebagian dari pinjaman bank," tandas Irianto.

Dari sisi pergerakan saham, pada perdagangan Kamis (25/4) harga DRMA naik 0,52% ke posisi Rp 965 per saham. Harga saham DRMA mengakumulasi pelemahan 32,04% jika diukur secara year to date.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi